Indonesia adalah semesta yang penuh fakta-fakta dramatis yang jungkir balik logika sebab akibatnya: remaja minus budi pekerti jadi duta anti narkoba, perusak lingkungan jadi duta pelestarian alam, Zaskia Gotik jadi duta pancasila, dan Habib Rizieq jadi duta anti-bang thoyib (ke mana abang tak pulang-pulang~)… Oh, yang terakhir ini masih kita tunggu tanggal mainnya.

Dan di jagat Hipwee, pernah juga kedapatan fenomena serupa:

Saya berangkat umrah.

Sebagai figur paling duniawi di kantor Hipwee, saya diyakini sebagai orang terakhir di sini yang berkemungkinan melaksanakan praktik ibadah seakbar itu. Bahkan, menurut bursa taruhan, lebih mungkin membuat teman kantor lain yang non-muslim untuk jadi mualaf dibanding membuat saya menyentuh air wudu. Masyaallah! Tapi jika Tanah Suci sudah memilih saya, teman-teman yang tenggelam di lautan iri dengki ini bisa apa?

Saking dianggap aneh, seorang teman sampai menjadikan saya motivasi dalam ikhtiarnya menggebet seorang anak magang.”Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini, Mas Soni aja umrah…”

Advertisement

Lama-lama “mas soni aja umrah” menjadi kalimat ungkapan baku yang dimaknai bersama sebagai “tidak ada yang tidak mungkin”,

….”Siapa tahu Justin Bieber aslinya juga nggak ngerti arti lirik lagu Despacito, Mas Soni aja umrah…

… “Siapa tahu di balik kutub utara pun sebenarnya ada Indomaret, Mas Soni aja umrah…”

… “Siapa tahu video Ariel-Luna dan Ariel-Cut Tari itu cuma bagian dari Ariel Universe, Mas Soni aja umrah…”

Syahdan, saya akhirnya berangkat pada bulan Januari lalu. Alasan saya melaksanakan umrah sebenarnya ada di luar kehendak sadar. Intinya ada campur tangan manuver politik keluarga untuk memboyong saya ke sana. Yah, tapi toh siapa juga yang ingin melewatkan kesempatan melihat kakbah secara langsung, entah sebagai syarat praktik spiritual maupun sebagai monumen bernilai sejarah tiada dua yang mengubah dunia dan peradaban? Berangkat!

Nah, selama ini jika kita menyambut kepulangan kawan atau keluarga dari ibadah haji atau umrah, oleh-oleh ceritanya senantiasa serupa. Pakde-bude-bapak-ibu-kakek-nenek saya pasti membawa kisah yang tipikal, perihal megahnya Masjidil Haram dan Masjid Nabawi (konon, pahala untuk satu rakaat salat di keduanya adalah ribuan kali lipat dari salat di masjid lain. Andai saja agama itu perkara matematika, saya sekarang sudah jadi jutawan), serunya mengincar Hajar Aswad, dan beragam pengalaman spiritual di sana.

Sebagian sudah saya buktikan sendiri, namun ternyata ada beberapa hasil amatan lain yang saya catat.

Pertama, ihwal keragaman praktik ibadah. Awalnya ada kekhawatiran goblok bahwa bisa didemo ratusan ribu orang di Monas jika saya ketahuan salah atau kurang presisi beberapa milimeter saja menempatkan gerakan tubuh ketika salat di Masjidil Haram. Saya sampai sengaja baca-baca lagi buku panduan salat. Eh, tahunya hampir semua orang di sana memang punya gestur dan gerakan salat yang  tak pernah benar-benar sama. Keragaman mahzab kaum muslim yang datang dari seluruh penjuru dunia menjadi biang pemandangan ini. Bahkan, ada juga yang salat sambil membaca bacaan dari iPad atau gawainya.

Ada banyak perspektif yang bisa diambil. Saya sendiri memilih mengapresiasi keluwesan dan fleksibilitas agama satu ini. Alih-alih kaku, ada keterbukaan terhadap tiap insan yang punya cara sendiri-sendiri untuk mencapai titik tertinggi konsentrasi dan tahapan khusyuknya. Seperti yang terpapar di buku The History of Arab, agama islam dalam sejarahnya merupakan agama yang mencerminkan pola pikir Rasul yang praktis dan efisien. Ia tidak menawarkan gagasan yang muluk, hanya sedikit kerumitan dan kesulitan teologis. Kadang justru orang-orang saja yang membuatnya kaku dan runyam.

Namun, beberapa pengalaman miris juga saya temukan. Total tiga kali saya menemukan jemaah Indonesia yang sedang kebingungan dan tersasar sendirian. Dua di antaranya adalah orangtua yang sudah cukup renta dan tidak cukup urban untuk bisa membaca papan petunjuk berbahasa inggris-arab di tempat-tempat umum. Saya pun harus merelakan waktu zikir yang berharga (pfffft) demi menjadi pemandu mereka.

Tiap saya tanya, mereka mengaku ditinggalkan oleh anak dan anggota keluarganya yang terburu-buru saat ke masjid dan sebagainya. Sebesar apapun nikmat surga yang hendak dikejar, saya pikir orang yang berani melalaikan orangtua yang bahkan tak tahu cara pakai lift hotel di daerah antah berantah itu pantas dikutuk jadi batu ginjal.

Ini juga perlu menjadi catatan. Mengingat prosedur ibadah haji hari ini harus menunggu belasan tahun setelah mendaftar untuk bisa berangkat, kemungkinan besar ibadah haji masa depan hanya akan diisi oleh orang-orang berusia lanjut. Sementara mereka butuh perlakuan khusus. Sungguh akan ricuh jika sedari sekarang belum dipikirkan langkah kebijakan terkait problem ini atau antisipasi dari biro-biro haji itu untuk memberikan layanan berbeda.

Fenomena ini juga terjadi di momen-momen lain yang lebih sederhana. Tiba-tiba orang-orang menjadi sangat egois di lift hotel. Lift selalu ramai orang yang terburu-buru dan berebut tempat. Seharusnya sudah kesadaran umum kalau semua sama-sama ingin ke masjid dan beribadah, namun ironis, hasilnya jadi seakan saling menghalangi.

Ketika sudah di dalam lift, banyak orang yang sengaja mencegah orang lain ikut masuk meski sebenarnya masih tersisa ruang. Acapkali saya berada satu lift dengan orang-orang mendadak individualis yang selalu berteriak “Penuh!” sambil buru-buru menekan tombol tutup ketika ada orang lain yang hendak melangkah masuk lift. Penuh ndasmu, sebelah saya masih bisa dipakai untuk mendarat helikopter (oke, berlebihan). Adu urat di lift jamak terjadi. Begitu juga rebutan untuk masuk ke tempat-tempat ibadah tertentu. Hajar aswad? Jangan ditanya.

Pada akhirnya ini tak semata kritik terhadap insan dari agama bersangkutan saja, karena penganut agama apapun punya potensi melakukan hal yang sama. Abai pada kemanusiaan tatkala janji surgawi sudah di ambang. Sifat humanis jangan sampai ketinggalan. Tanah Suci bukan akhirat, semua masih bertanggung jawab dengan sesama.

Terakhir, pengalaman yang perlu menjadi catatan lain adalah tentang komodifikasi-komodifikasi agama. Yang paling membuat terperanjat adalah adanya orang-orang yang menawarkan jasa menyerupai calo persis di depan kakbah. Mereka mengincar orang-orang berpunya yang tampak putus asa untuk menyentuh Hajar Aswad. Bak malaikat, mereka sekejap muncul dan berkata, “mau memegang hajar aswad? Bisa kok sama saya.” Mulia sekali, tapi tunggu sampai mereka akhirnya menawarkan nominal harga….. Sungguh saya kira saya sedang di stasiun Gambir.

Selain itu ada juga pedagang kurma (lagi-lagi orang Indonesia) yang menggunakan ayat Alquran dan hadis dalam kampanyenya berjualan. “Menurut ayat bla bla bla, kurma terbaik adalah kurma bla bla bla…” Mungkin memang tidak ada larangan eksplisitnya dalam agama, tapi apakah patut ayat kitab suci disepadankan penggunaannya dengan “sinta dan jojo suka makan sosis so nice, tinggal lep…”

#HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya