Mengenang Kartini, layaknya kembali pada masa lalu di mana kaum perempuan masih belum ada apa-apanya dibanding lelaki. Segala hal yang berbau perempuan, dianggap remeh dan diacungi jempol terbalik, meski mereka telah mengusahakan yang terbaik. Entah paradigma macam apa yang telah terbentuk, sehingga kaum perempuan merasa sepanjang hidupnya seperti dikutuk. Untungnya, anggapan sepele mengenai perempuan mulai terkikis seiring perkembangan zaman dan kesadaran masing-masing orang.

Kini, mari kita membuka mata tentang makna ’emansipasi’ yang sesungguhnya, jangan cuma mengejar gengsi apalagi sensasi. Perempuan memang berhak berada sejajar dengan lelaki, tapi jangan sekali-kali asal menggunakan istilah ini…

Sebelumnya, kamu perlu paham dulu apa itu emansipasi dan apa itu emansipasi wanita.

Emansipasi & emansipasi wanita via hipwee.com

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, emansipasi adalah sejumlah usaha untuk mendapat atau meraih persamaan hak, derajat serta pembebasan dari perbudakan dalam segala aspek kehidupan di masyarakat. Sama halnya dengan emansipasi wanita, saat wanita berhak meraih hak-haknya dalam masyarakat, termasuk pendidikan dan pekerjaan. Ini disimpulkan dari era Kartini di mana wanita benar-benar tidak boleh menjalankan kehidupan normal serta meraih cita-cita.

Kalau kamu menganggap emansipasi sebagai upaya peningkatan derajat wanita dan menjatuhkan kaum pria, itu kurang tepat. Bukannya emansipasi, sikap semacam ini justru menunjukkan balas dendam kepada pria-pria yang telah merenggut kebebasan wanita zaman dulu. Jangan salah arti, emansipasi wanita tidak semudah dan serendah itu.

Kamu begitu mengagungkan istilah ‘Ladies First’, tapi kamu lupa bahwa beberapa kondisi mengharuskan lelaki untuk didahulukan.

Advertisement

ladies first? via boardofwisdom.com

Mungkin, begitu mendewakan istilah ‘Ladies First’ adalah hal sederhana bagimu. Melihat hampir semua perempuan bersikap demikian, malah membuatmu makin menjadi. Pada kondisi tertentu, tidak ada yang salah kalau perempuan tua atau sakit yang didahulukan, bukan kamu yang sehat dan mampu berjalan normal berkoar-koar demi sebuah kepentingan.

“Eh, Mas. Harusnya aku dulu dong yang dapat antrian makan, bukan kamu. Sadar dong, aku ‘kan perempuan.”

Kadang, ‘memperbudak’ pacarmu dengan embel-embel emansipasi wanita juga sering kamu lakukan. Hayo, iya aja apa iya banget nih?

dikit-dikit emansipasi, duh. via hoopercoaching.com

“Sayang, kamu di mana sih??!! Ban motor aku bocor di jalan, kamu malah nggak ada kabar. Dasar, mau senengnya aja tapi nggak mau susahnya. Aku benci kamu!”

“Aku aku cewek, takut kalau beli makan sendirian. Kamu jangan sibuk kerja terus dong, temenin aku makan.”

Definisi emansipasi wanita seringkali kamu salah artikan sebagai sebuah status yang berhak mendapatkan segala hal, meski harus mengorbankan hal lain. Pacarmu boleh saja perhatian, tapi tak lantas kamu manfaatkan sebagai ‘pesuruh’ setia dua puluh empat jam.

Seakan perempuan tak layak disakiti sedangkan sah-sah saja bagi lelaki, dengan seenaknya kamu menggunakan istilah yang satu ini.

jangan aji mumpung gara-gara emansipasi via guysgab.com

Apa yang ada dipikiranmu, ketika ada seorang perempuan merasa dirinya lemah sehingga tidak layak untuk disakiti. Tanpa berkaca sebelumnya bahwa dia belum berbenah diri, banyak perempuan yang dengan lantang memplokamirkan emansipasi sebagai alasannya.

“Dia tega nyakitin aku, padahal aku cuma pulang malam tanpa pamit sebelumnya. Dia juga mengancam mau ninggalin aku, padahal aku cuma SMS-an sama mantan yang berkali-kali ngajak balikan. Aku nggak mau disakitin gini!”

Berterimakasihlah pada Ibu Kartini, bukan malah merendahkan laki-laki karena pendidikan dan jabatanmu lebih tinggi.

berterimakasih pada Ibu Kartini via smekaer.com

Jasa-jasa Kartini memang tak ada duanya bagi kaum perempuan. Berkat keberaniannya, hak-hak kaum hawa untuk bersekolah, bekerja dan meraih cita-cita terbuka lebar demi sejajar dengan laki-kali dan tidak direndahkan lagi. Meski begitu, tidak ada dalam pesan Kartini yang menyebutkan bahwa perempuan berhak meremehkan kemampuan laki-laki, jika tingkat pendidikan dan jabatannya lebih rendah.

“Mulianya Ibu Kartini. Cita-cita dan keinginanya yang tinggi, telah membuat hak-hak perempuan bisa terealisasi. Bukan untuk menandingi lelaki, tapi bagaimana ia memanfaatkan kepintaran dan kecerdasannya demi menata masa depan yang hakiki.”

Tak hanya menuntut dan apa-apa minta dituruti, untuk mengilhami sosok Kartini yang cerdas namun tetap sederhana pun kamu masih terlalu gengsi.

Kartini, sosok cerdas nan sederhana via berita.bhagavant.com

Sebagai perempuan, merawat dan mencerdaskan diri sudah tentu jadi salah satu prioritas utama. Entah untuk alasan kebutuhan atau sekadar keinginan, kodrat wanita sebagai sosok yang detail telah menjadi rahasia umum. Tanpa harus berjuang mati-matian, perempuan sebenarnya bisa tampil cantik kapan saja jika diimbangi dengan tata krama serta tingkah laku yang santun nan terpuji.

“Takdirmu boleh saja menjadi wanita cantik sekaligus cerdas. Tapi takkan menjadi apa-apa jika kamu tidak mengimbanginya dengan tingkah dan polah yang bersahaja.”