Mempunyai anak tentu akan menjadi momen paling membahagiakan dalam hidupmu. Sang buah hati yang sudah kamu tunggu-tunggu akhirnya datang mengisi duniamu. Segala denyut kehidupanmu seperti berubah. Kamu pun bertumbuh jadi pribadi yang baru dengan tanggung jawab yang baru pula. Di tanganmu lah masa depan buah hatimu bersandar.

Sebagai orang tua, kamu tentu selalu ingin membuat anakmu bahagia. Namun, hal itu bukan berarti kamu menuruti setiap apa yang diinginkannya. Banyak hal yang perlu kamu pertimbangkan ulang sebelum memberikan apa yang mereka inginkan. Penolakanmu mungkin akan membuat kesal, menangis, atau bahkan marah. Tapi percayalah, bahwa keputusan yang kamu ambil memang tepat terutama bagi masa depan mereka kelak.

Anak-anakmu harus dididik untuk bersosialisasi. Tak sepatutnya mereka menatap layar gadget dan televisi sepanjang hari

Menatap gadget terlalu lama bahaya bagi kesehatan mata anak via tokolaris.co.id

Saat kita masih anak-anak, tayang televisi untuk anak-anak sangat terbatas. Rasanya, hanya di Minggu pagi atau Sabtu sore kita bisa menyaksikan kartun kesayangan kita di layar kaca. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan saat ini. Tayangan anak-anak hampir setiap hari muncul di layar kaca.

Hal itu masih ditambah perangkat gadget seperti tablet yang bisa mengakses internet dan memutar tontonan untuk anak-anak sepanjang waktu. Tanpa batas! Tak heran, tablet saat ini menjadi senjata paling ampuh bagi orang tua untuk menenangkan anaknya. Tapi tahu kah kamu bahwa menatap layar tablet berlebihan dapat mengganggu penglihatan anakmu? Belum lagi dampak sosial yang berakibat anak jadi cenderung malas bergaul dan egois. Mereka menjadi tak lagi peka dan perasa dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

Mengendarai motor saat belum cukup umur adalah hal yang berbahaya. Mengizinkan mereka menandakan bahwa orang tua tak bisa bersikap bijaksana

Advertisement

Sangat berbahaya! via edukasi.kompasiana.com

Secara hukum, anak di bawah umur yang belum mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) mengendarai kendaraan bermotor sudah jelas menyalahi aturan. Ketika terjadi kecelakan, orang tua lah yang harus menanggung hukumannya karena dianggap lalai mengawasi anaknya. Meski kelak kamu menganggap anakmu sudah pandai membawa kendaraan bermotor sendiri, tapi kamu tidak bisa mengontrol perilakunya di jalan.

Anak-anak di bawah umur cenderung masih emosional di mana dia mungkin ingin menunjukkan kehebatnnya dalam berkendara. Mereka lebih suka berkendara dengan kecepatan yang tinggi dan kurang waspada. Anak-anak di bawah umur masih belum berpikiran panjang sehingga ketika berkendara tidak memikirkan dirinya sendiri dan sekitarnya. Jika kamu sayang dengan anakmu, tentu kamu tidak akan membiarkan mereka berkendara sendiri ketika belum cukup umur ‘kan?

Mereka sebaiknya bergaul dengan teman-teman seusianya. Pikirkan pengaruh negatif yang mengancam mereka saat berkawan dengan orang dewasa

Perhatikan pergaulan mereka via www.tabloidbintang.com

Saat ini orang bisa bebas berinteraksi dan memiliki jaringan dari mana saja dengan bantuan jejaring sosial. Begitu pula dengan anak-anak. Tanpa pikir panjang, anak-anak sering menerima permintaan pertemanan melalui jejaring sosial. Mereka justru bangga ketika memiliki banyak teman di jejaring sosial, walaupun sesungguhnya tidak kenal betul siapa orangnya.

Hal ini tentu sangat berbahaya. Pernah dengar ‘kan ketika banyak kasus penculikan bermula dari perkenalan di jejaring sosial? Untuk itu, kelak jika kamu menjadi orang tua pantaulah terus kegiatan anakmu termasuk pergaulannya di dunia maya. Setiap saat cek lah teman-temannya di jejaring sosial. Kalau ada yang kamu rasa tidak kenal dan tidak wajar, tak perlu enggan untuk bertanya langsung padanya. Jangan bosan mengajarinya untuk menggunakan teknologi secara positif.

Anakmu kelak akan bertumbuh dewasa, tapi bukan berarti dirinya boleh dewasa sebelum waktunya

Enggak mau kan anakmu begini? via citizen6.liputan6.com

Setiap anak selalu tak ingin dianggap anak kecil. Tak jarang banyak anak-anak yang berusaha tampil dewasa melebihi usianya agar mendapat pengakuan. Tentu ini akan berdampak bahaya bagi pertumbuhannya. Mereka bisa dewasa sebelum waktunya. Agar ini tak terjadi, kelak ketika kamu menjadi orang tua, perlakukan lah anakmu seperti seorang teman. Beri lah mereka tanggung jawab sehingga tak merasa dianggap seperti seorang anak kecil terus menerus.

Mengajarkan bahasa asing pada anak tentu sah-sah saja, namun jangan sampai mereka tak piawai berbahasa Indonesia

Bahasa Asing memang keren, tapi jangan lupa mengajarkan bahasa ibu padanya via www.kaskus.co.id

“Rio sekarang kelas berapa?”

“Second grade, Grandmom!”

Memiliki anak yang jago bahasa asing memang membanggakan. Namun, jangan sampai mereka hanya pintar berbahasa asing tapi lupa dengan bahasa ibunya sendiri, apalagi bahasa daerah. Memang saat ini lebih bergengsi menyekolahkan anak di sekolah internasional dengan bahasa Inggris atau Mandarin sebagai pengantarnya. Ya, tidak salah memang. Toh era globalisasi dan kemajuan zaman menuntut generasi kita memiliki kemampuan berbahasa asing yang mumpuni.

Tapi, alangkah baiknya jika kamu juga membiasakan anak-anakmu untuk menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah sehari-harinya. Bagaimana pun, anakmu lahir dan tumbuh di Indonesia sehingga sebaik-baik bahasa yang ia gunakan adalah bahasa nasional yang menunjukkan identitasnya sebagai seorang warga negara. Dan bekal inilah yang akan membuatnya lebih mudah bergaul dalam lingkungan sosialnya.

Menyantap fast food dan penganan impor juga boleh-boleh saja. Tapi coba tanyakan pada mereka, bagaimana rasanya klepon dan bakpia?

Yang enak dan praktis belum tentu sehat via thestockmasters.com

Generasi saat ini sering kali disebut dengan generasi instan di mana-mana serba mudah, cepat, dan praktis. Termasuk dalam hal makanan. Tak dipungkiri kalau anak-anak sekarang lebih suka makan-makanan fast food yang selain enak juga kadang berhadiah mainan. Tempat makannya pun menyediakan arena permainan secara gratis.

Ketika kelak kamu menjadi orang tua, bolehlah sekali-sekali mengajak anakmu ke sana. Namun, kamu perlu mengontrolnya agar jangan sampai mereka kecanduan mengkonsumsi makanan tersebut. Sudah banyak riset yang mengatakan makanan siap saji banyak mengandung kolestrol dan tidak sehat. Lebih dari itu, anak-anakmu sepaptunya diperkenalkan pada penganan-penganan khas Indonesia. Lidah mereka haruslah terbiasa memakan klepon, bakpia, sayur asem, hingga tempe bacem. Dan perkara apa yang mereka makan bukanlah hal yang sepele, karena apa yang mereka nikmati menunjukkan identitas dan jati diri mereka yang sesungguhnya.

Intinya, tidak ada salahnya memperkenalkan tren atau hal-hal baru pada anakmu kelak. Sejauh masih dalam batasan wajar tentu tidak ada yang pantas dipersalahkan. Namun salah satu yang terpenting adalah soal pengawasan. Pastikan kelak kamu punya waktu yang cukup untuk memberi perhatian dan mendampingi  anak-anakmu agar kelak dirinya dapat tumbuh menjadi manusia yang berkualitas.

“Karena udah ngomongin soal anak, jadi kamu kapan nikahnya?” Hehehe 🙂