Di tengah-tengah berita yang konflik Aleppo, penembakan dan pembunuhan di beberapa lokasi dekat rumah ibadah, kabar menyejukkan hati datang dari London, guys. Kurang lebih 7.500 jemaah muslim di London donasikan 10 ton makanan untuk para tunawisma dalam momen natal. Bahan-bahan makanan dikumpulkan di East London Mosque, untuk kemudian didistribusikan kepada para orang-orang yang hidup di jalanan. Lebih dari 90% makanan diberikan kepada non-muslim.

“Keyakinan umat Muslim mengajarkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Itu merupakan kewajiban relijius bagi muslim untuk membantu orang lain, terlepas dari keyakinan atau latar belakangnya.” pernyataan dari imam East London Mosque, Shaykh Abdul Qayum, kepada standard.co.uk.

Cuaca dingin dan meriahnya hari Natal ternyata menyisakan cerita buruk bagi tunawisma yang setiap tahun mengalami peningkatan jumlah. Karena itu, komunitas muslim London merasa berkewajiban untuk membantu mereka yang membutuhkan. Hidup berdampingan dalam kasih sayang ini, menurut Shaykh Abdul Qayum, merupakan esensi inti dari Islam sendiri.

Potret kehidupan yang berbeda namun tetap berdampingan ini harusnya bisa kita tiru. Di Indonesia yang mengagungkan keberagaman, namun masih harus banyak belajar untuk menghargai perbedaan.

Sayangnya Indonesia yang dipuji memelihara toleransi, justru sibuk mempersoalkan perbedaan. Unfollow teman tak sepaham jadi keharusan

Konflik atas nama agama menjadi keseharian via korannonstop.com

Advertisement

Sejak era Presiden SBY, penghargaan dan pujian dari negara lain tentang toleransi di Indonesia rutin menghiasi media kita. Namun faktanya kita masih masih sibuk berdebat di media sosial, soal boleh tidaknya muslim mengucapkan selamat natal. Perdebatan di media sosial berbuah unfollow dan block pada teman yang tidak sepaham. Kita sibuk saling mencaci dan saling menyalahkan, yang paling ekstrem tentu upaya melenyapkan yang tidak sama. Seperti ini ‘kah toleransi yang dipuji itu?

Pelajaran toleransi sudah kita dapatkan sejak SD. Sayang pada praktiknya, toleransi bagaikan kain usang yang tak henti-henti dikoyak

Kalau begini, indah ‘kan? via www.harjasaputra.com

Bila kita kembali ke bangku sekolah dasar, sebenarnya pelajaran soal toleransi ini tidak kurang-kurang. Di mata pelajaran kewarga-negaraan hingga Bahasa Indonesia, semua mengajarkan makna hidup bersama dan bertenggang rasa. Kita juga diajari bagaimana caranya saling menghormati dan menghargai. Tapi sepertinya toleransi hanya sebatas musik di minimarket, yang selalu diputar tapi tidak pernah benar-benar didengarkan. Barangkali di sini toleransi hanyalah salah satu poin di artikel nostalgia masa sekolah dasar yang layak di kenang. Sedih, memang.

Ada kalanya kita begitu peduli pada ketidakadilan di luar sana, namun tutup mata pada tetangga yang menjerit kesakitan. Kemanusiaan tentu tak boleh pilih-pilih

Yang dekat dengan kita juga butuh bantuan via www.flickr.com

Soal jiwa kemanusiaan kita sudah punya. Sifat reaktif dan proaktif boleh kita banggakan, sebab kita tidak pernah mau tinggal diam jika ada saudara kita yang menjerit minta pertolongan. Namun jangan karena terlalu sibuk membantu saudara yang jauh di sana, kita abai pada tetangga kita yang tidak bisa tidur nyaman karena diusir dari tanahnya sendiri. Kemanusiaan seharusnya tidak pandang bulu. Semua yang menjerit minta pertolongan menjadi tanggung jawab kita bersama. Tak peduli apa agama dan sukunya.

Padahal perbedaan memang harus dijaga dan dilestarikan. Sebagai wujud pernghargaan atas persamaan hak kemanusiaan yang menyatukan negeri ini

berdiri bersama pun seharusnya bukan masalah via mediajakarta.com

Terlahir sebagai bangsa yang penuh keberagaman memang kita memerlukan usaha untuk bisa memberi ruang kepada yang perbeda. Namun, perbedaan itu indah dan tidak perlu diubah. Semua pendapat tak harus sama. Karena itulah esensi dari demokrasi, yang seharusnya bisa memberikan ruang bagi setiap orang untuk menunjukkan keunikannya. Dengan begitu, kita membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang bisa menghargai manusia. Tak peduli apapun latar belakangnya.

Sebagian dari kita sudah memulai. Betapa menyenangkan bila segala perbedaan bisa hadir bersama dan saling membantu meski warna baju hingga kulitnya berbeda

Perayaan nyepi bertepatan dengan sholat gerhana di bali via viwimoto.com

Di tengah huru-hara kasus penistaan agama, tengok saja cerita dari Bali tentang perayaan Nyepi dan sholat gerhana tahun ini yang bisa berjalan bersama-sama tanpa menimbulkan konflik apa-apa. Lalu simak juga cerita tentang seorang pengajar muda di Papua yang menjalani puasa di tengah keluarga Nasrani yang membantunya sepenuh hati. Lalu simak juga cerita mengharukan dari Almarhum Riyanto, banser yang tewas karena menyelamatkan jemaat gereja dari bom. Kisah-kisah seperti ini membuktikan bahwa toleransi bukan hanya angan. Bisa diwujudkan, dan tinggal dipupuk lagi lebih dalam.

Jika menghendaki mungkin Tuhan bisa menciptakan kita semua sama, lantas kenapa kita harus mempersoalkan sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan juga? Dari London, kita bisa belajar banyak hal untuk membuat hidup lebih indah dengan kebersamaan dalam perbedaan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya