Sekarang siapa sih yang nggak tahu kepopuleran drama Korea?! Bahkan yang ogah nonton sekalipun, mungkin pernah dengar nama Gong Yoo atau drama Descendant of the Sun karena saking seringnya dibahas orang di media sosial. Meski namanya disebut dan dipuja dimana-mana, sepertinya jarang deh ada pembahasan masalah standar kecantikan atau dalam kasus ini ketampanan aktor utama dalam drama-drama Korea. Beda dengan standar kecantikan cewek Korea yang sepertinya selalu dibicarakan.

Melihat kepopuleran Gong Yoo, Hipwee News & Feature jadi penasaran aja. Apakah tipe cowok idaman di Korea Selatan itu selalu seperti Gong Yoo? Atau ada pergeseran selera dari tahun ke tahun? Pembahasan ini jadi lebih menarik kalau melihat bagaimana tren cowok-cowok ‘cantik’ juga sepertinya dimulai dari negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan. Menurut kalian Gong Yoo itu termasuk tipe cowok cantik atau maskulin sih?! Biar bisa jadi perbandingan, ini nih sejarahnya leading man drama Korea dari masa ke masa…

Pertama kita harus bahas sageuk atau drama kolosal. Tak lekang oleh waktu dan perkembangan zaman, aktor utama dalam sageuk murni ya biasanya berjenggot dan macho

Mau produksi drama tahun berapa pun, jarang ditemukan ‘cowok cantik’ dalam drama historis macam ini

Masih ingat drama Korea Jewel in the Palace? Itu lho kisah koki kerajaan Dae Janggeum yang soundtrack-nya ‘onara..onara…‘. Dalam drama tersebut, aktor cowok utama yang memerankan tokoh Min Jeong-ho berpenampilan sangat macho dengan jenggot dan kumis. Penggambaran karakter utama cowok yang kuat dan macho banget ini, memang bisa kamu temukan di hampir semua drama kolosal atau historis Korea Selatan. Ya ini bukti eksistensi patriarki yang kuat di negara ini sih. Terutama pada masa lalu, cowok macho yang bisa melindungi dan mengayomi adalah idaman para cewek dan role model para cowok.

Terlepas dari drama kerajaan, ternyata tren leading man Korea pada tahun 1990-an juga masih sangat macho. Lihat saja Choi Min So dalam Sandglass (1995), garis mukanya tegas & penampilan yang sangar

Choi Min Soo adalah salah satu leading man paling terkenal pada era 1990-an

Advertisement

Sandglass merupakan drama Korea SBS yang terkenal pada 1995. Dalam drama tersebut, pemeran utama yaitu Choi Min Soo berperan sebagai Tae-soo seorang anggota gang yang juga dipengaruhi oleh kekuatan politik. Drama ini banyak menceritakan mengenai keadilan dan konflik politik. Tokoh Tae-soo digambarkan sebagai cowok yang macho dan keras. Meskipun tanpa jenggot dan kumis, tapi garis muka yang tegas dan penampilan sangarnya jelas berbeda dengan cowok-cowok Korea masa kini yang banyak mengenakan eyeliner dan lipgloss.

Korea Selatan juga pernah dilanda demam olah raga basket pada pertengahan tahun 1990-an. Alhasil, leading man-nya juga jadi atletis seperti Jang Dong Gun di drama The Last Match (1994)

Atletis tapi mulai klimis  via blogmania.tistory.com

Dalam drama berjudul The Last Match, Jang Dong Gun berperan sebagai Yoon Chul-jun seorang atlet basket. Selain sisi atletisnya, penampilan cowok dengan bomber jaket dan jeans jadi idaman para cewek di Korea Selatan. Meski sudah mulai memilih aktor dengan wajah-wajah ‘halus’ seperti Jang Dong Gun, dalam drama ini cowok masih tergolong maskulin.

Transisi besar leading man Korea sepertinya ditandai dengan drama populer Winter Sonata (2002). Tokoh utamanya Bae Yong Joon digambarkan sebagai pria lembut yang tutur katanya halus

Mulai jauh dari kesan macho yang disukai sebelumnya via afspot.net

Masih ingat drama ini ‘kan? Winter Sonata termasuk angkatan pertama drama Korea yang mulai booming di Indonesia, bahkan sampai disiarkan di stasiun televisi lokal. Bae Yong-joon yang berperan sebagai Lee Min-hyeong adalah tokoh utama laki-laki yang digambarkan dengan wajah lembut dan cukup feminim. Karakternya dalam drama juga berbeda jauh dari leading-leading man tahun 1990-an yang macho dan agresif seperti gangster atau atlet.

Sepertinya pergeseran tren dengan kemunculan konsep ‘cowok cantik’ ini tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Ingat serangan boyband tahun 1990-an & 2000-an awal dari AS & Eropa? Secara umum, tren populer di tv dan dunia hiburan ini merupakan refleksi pergeseran nilai yang terjadi dalam masyarakat kita. Memasuki era milenium, pembagin peran gender antara cowok-cewek tampaknya sudah lebih fleksibel. Kalau di Korsel, perubahan nilai ini utamanya didorong oleh kondisi ekonomi & sosial pasca krisis IMF tahun 1997.

Banyak ibu-ibu yang harus mulai jadi tulang punggung keluarga setelah suaminya di PHK akibat krisis. Akibatnya perempuan juga mulai punya kemampuan finansial dan peran sosial yang lebih besar. Sementara image laki-laki yang selama ini ‘tak terkalahkan’ dalam struktur patriarki, melemah.

Bahkan dalam tren drama selanjutnya, mulai muncul banyak variasi dari leading man yang lebih inferior. Misalkan dalam What’s Up Fox? (2006), kisah cinta dimana cowoknya jauh lebih muda & tidak mapan

Mulai berkembang tren kisah cinta ‘nuna-dongseng‘ (cewek dengan cowok yang lebih muda) via yobosayo.files.wordpress.com

Drama ini mulai menggebrak nilai sosial yang selama ini dipandang kurang pantas. What’s Up Fox? menceritakan kisah cinta antara perempuan berusia 33 tahun yang punya profesi mapan dengan seorang mekanik yang merupakan teman dari adiknya sendiri. Mekanik tersebut bernama Park Chul-soo yang masih berusia 24 tahun dan baru saja lulus dari pendidikan kuliahnya. Sebelumnya cowok selalu jadi figur pelindung yang lebih mapan dan kaya, tapi posisi tersebut dibalik dalam drama ini.

Selain image cowok yang tidak lagi macho, cowok dengan usia yang jauh lebih muda juga mulai ‘diterima’. Bukan hanya dalam drama saja, tren ini juga bisa dilihat dalam musik K-Pop. Tidak lama setelah drama ini tayang, grup idol Shinee langsung melejit dengan lagunya ‘Replay’ (Nuna, you’re so pretty) yang liriknya juga bercerita tentang kisah cinta cowok yang lebih muda.

Konsep maskulin baru: Descendants of The Sun (2016)Tetap dengan wajah unyu, tapi di-framing jadi maskulin

Kapten Yoo Si Jin via 0.soompi.io

Mungkin drama ini masih segar di ingatan pecinta drama Korea. Diperankan oleh Song Joong-ki sebagai pemeran utama, paras gantengnya mampu membius semua pecinta drama Korea di seluruh dunia. Sebenarnya, tipe wajah Song Joong-ki termasuk ke dalam tipe cowok feminim. Namun, dalam drama tersebut ia digambarkan sebagai sosok yang dewasa dan maskulin karena ia juga berperan sebagai Kapten untuk pasukannya.

Konsep ketampaan saat ini jadi mixGoblin atau Guardian: The Lonely and Great God (2017) dan Do Boong Soon (2017) adalah drama yang menggambarkan percampuran konsep ketampanan cowok Korea

Drama Korea Goblin yang akhir-akhir jadi idola para pecinta drama secara tidak langsung menggambarkan tipe cowok tampan yang agak berbeda dengan konsep dewasa dan maskulin. Kim Shin yang diperankan oleh Gong Yoo bahkan menjadi idola banyak cewek saat ini. Sedangkan dalam drama Do Boong Soon, bercerita mengenai seorang cewek yang memiliki kekuatan super dan lebih kuat dibandingkan laki-laki.

Dua drama tersebut menunjukkan konsep yang agak berbeda, sehingga konsep tampan saat ini bercampur dan lebih segmented. Tapi tetap saja sih, kayaknya sulit deh nyari leading man drama Korea yang brewokan atau macho banget semacam Choi Min Soo pada tahun 1990-an.

Nah sekarang kalian sudah tau ‘kan transisi ketampanan cowok Korea dari waktu ke waktu. Hal tersebut terlihat melalui drama-drama Korea. Karena tayangan drama merupakan representasi dari realitas sosial dalam kehidupan nyata di Korea. Sehingga dengan melihat drama pun, kita dapat mengetahui gambaran dan kondisi masyarakat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya