Artikel ini dipersembahkan oleh Search For Common Ground Indonesia, organisasi non-profit di bidang bina damai dan transformasi konflik, khusus untuk kamu.

Bagi rakyat Indonesia, nggak ada lagi bulan dalam kalender kabisat yang lebih spesial selain bulan Agustus. Entah kenapa suasana dengan rasa persatuan dan kesatuan yang tinggi bisa dengan sangat mudah kita rasakan pada bulan ini. Mereka yang Islam, Kristen, Jawa, Batak, Dayak, Bugis, Dani, gay, lesbian, presiden, PNS, pegawai swasta, petani sampai PSK, semua merayakan harinya Indonesia.

Namun sayangnya, persatuan dan kesatuan yang kental jarang kita temui di bulan-bulan lain. Kita masih harus mempertanyakan, apakah benar suasana dengan rasa persatuan dan kesatuan tinggi bisa semua orang rasakan, terutama bagi mereka yang jadi minoritas? Dan bagaimana mereka (kaum minor) menyikapi perbedaan tersebut dalam rangka menumbuhkan kecintaan mereka pada Indonesia?

Padahal kita tahu sendiri, tepat pada 17 Agustus kemarin, sepasang atlet bulutangkis yang memiliki latar belakang berbeda telah mengharumkan nama Indonesia di Olimpiade. Benar, mereka adalah Tantowi Ahmad dan Liliana Natsir.

Owi dan Butet via newsstatic.rthk.hk

Kerjasama lintas agama (Islam dan Kristen), lintas etnis (Bumiputera dan Tionghoa)) dan bahkan sampai lintas gender mampu menghasilkan emas Olimpiade. Bukti bahwa sebenarnya di balik perbedaan kita bisa bersatu dan menghasilkan prestasi.

Nah, untuk meramaikan diskusi tentang peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang belum lama ini berlangsung, Hipwee sudah mengumpulkan kumpulan pendapat mereka yang berbeda dan hidup di tengah orang-orang mayoritas. Nggak hanya soal agama, Hipwee juga menghimpun mereka yang berbeda soal suku, ras bahkan hingga orientasi seksual.

“Dengan kita tak menghormati perbedaan, berarti kamu nggak menghormati apa yang telah Tuhan ciptakan.”

Ferdy (paling kanan) via scontent-hkg3-1.xx.fbcdn.net

Ferdian Syah asal Bekasi punya cerita menarik yang bisa dibagi untuk kita semua. Di tahun keduanya saat kuliah di Semarang, dia pindah ke sebuah kos yang ternyata memiliki rasa solidaritas yang tinggi dan kebanyakan dari mereka adalah non muslim. Ferdy mengaku seperti menemukan keluarga baru di kota rantaunya.

“Saya muslim dan teman-teman satu kosku banyak yang Kristen. Kedekatan kami lebih dari sekedar pertemanan. Solidaritasnya tinggi seperti keluarga sendiri. Kemudian saya merasa nggak harus ada yang dibedakan. Saya percaya perbedaan itu sebuah keniscayaan di muka bumi ini,” kata Ferdy.

Dalam konteks persatuan dan kesatuan, kata Ferdy, kita semua pasti sudah tahu semboyan negara kita. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan tentunya harus saling menghormati perbedaan tersebut.

“Pokoknya kalau ingin Indonesia solid, kesampingkan dulu yang namanya ego. Hormatilah perbedaan. Dengan kita tak menghormati perbedaan, berarti kamu nggak menghormati apa yang telah Tuhan ciptakan. Kadang manusia merasa dirinya paling benar. Udah kayak Tuhan aja. Kita jangan jadi manusia yang seperti itu.”

“Kerukunan di keluarga saya ini, bisa teraplikasi juga dalam diri semua orang Indonesia.”

Gladia Puspita adalah Kristen yang taat. Ia aktif dalam organisasi keagamaan yang ada di kampusnya. Namun di balik itu, ia punya kisah yang nggak bisa semua anak alami. Ia hidup di tengah keluarga muslim. Ayah, ibu dam adiknya muslim.

“Hidup di tengah perbedaan itu memang ada enak dan nggak enaknya. Tapi saya selalu melatih diri saya untuk tetap melihat kebaikan dalam segala hal yang terjadi. Saya Kristen dan orang tua saya muslim, Semenjak ibu saya menikah, beliau jadi mualaf. Namun saya saat itu lebih dekat dengan nenek saya yang seorang Kristen. Dari nenek, saya belajar banyak soal cinta kasih,” ujar Gladia.

Keluarga pun menghormati keputusan saya. Ketika saatnya pergi ke gereja, ia mengaku sering diingatkan untuk segera ibadah. Itu adalah contoh kecil. “Kalau soal persatuan dan kesatuan Indonesia, saya selalu ingin cerminan kerukunan di keluarga saya ini, bisa teraplikasi juga dalam diri semua orang Indonesia. Nggak peduli apa itu perbedaan yang masing-masing miliki. Intinya kita harus saling menghormati,” kata cewek 22 tahun tersebut.

“Dalam konteks persatuan bangsa Indonesia, memahami perbedaan mesti diutamakan.”

Rasyid Ridha asal Tasikmalaya juga punya pandangan tersendiri soal perbedaan yang bisa menumbukan rasa persatuan dan kesatuan. Pada tahun 2014, dia melakukan penelitian di sebuah pesantren waria di Yogyakarta selama kurang dari seminggu.

“Ketika melihat diri saya jadi seorang yang berbeda dan berkumpul sama waria-waria, sebenarnya perbedaan identitas ini, nggak ada hal yang perlu dirisaukan. Mereka sangat baik terhadap saya, dan pun sebaliknya. Intinya, perbedaan identitas nggak bisa jadi alasan untuk menakuti atau jadi phobia terhadap yang lain. Karena menilai seseorang itu hanya cukup satu alasan: bagaimana tingkah laku mereka itu baik atau tidak,” kata Rasyid.

“Jadi, saya berbeda dan mereka berbeda, itu punya alasan masing-masing dan paling tidak kita berusaha memahami alasan tersebut tanpa memberi stigma negatif. Dan dalam konteks kemajemukan dan persatuan bangsa Indonesia, hal-hal seperti memahami perbedaanlah yang mesti diutamakan, kalau ingin Indonesia tetap damai dan menjadi negara yang beradab,” tutup Rasyid.

“Belajarlah membuka diri, bersahabat lintas agama dan ras, biar kita mengerti apa itu pentingnya persatuan di tengah perbedaan.”

Kita tahu sendiri, Indonesia ini penuh dengan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia memiliki keragaman manusia di dalamnya, begitu pula soal ras. Gloria Frensisca memang lahir dan besar di Jakarta, tapi orang tuanya sendiri berasal dari Flores. Menurut cewek yang kini bekerja sebagai wartawan di media Bisnis Indonesia, daerah-daerah di luar Jakarta harus lebih banyak belajar soal perbedaan.

“Waktu di Jakarta biasa aja sih, nggak pernah dapet perlakuan aneh-aneh. Justru ketika gue pindah ke Bekasi, gue ngerasa aneh. Orang Bekasi sepertinya nggak terbiasa dengan kehadiran orang dari ras Timur, dengan warna kulit beda. Dan itu bukan cuma di Bekasi aja.”

“Dan buat gue, Jakarta itu tempat yang keras tapi mendidik. Ia elegan soal persatuan. Soal keberagaman, justru di luar Jakarta itulah persatuan perlu dipertanyakan. Di Jakarta, semua orang bisa bersatu dan damai-damai aja.”

Dalam konteks persatun dan kesatuan, Gloria punya pandangan sendiri. Dia menyarankan orang-orang Indonesia supaya bisa membuka diri terhadap hal-hal yang berbeda. “Banyak-banyak membuka diri. Bersahabat lintas agama dan ras, soalnya, kalau nggak begitu, bakal susah. Apalagi kalau masyarakatnya sudah kemakan stigma, kemudian mereka membatasi diri. Akhirnya ya susah kenal persatuan dan kesatuan. Jadi harus saling membuka diri, melepaskan stigma, berpikiran demokratis. Jangankan persatuan, temenan saja mungkin bakal susah. Kalau kata gue, temenan adalah awal persatuan. Ya, macam berteman, lama-lama cinta. Hehehe,” tutup Gloria.

“‘Not being able to recognize yourself in another human beings doesn t make who they are inexact’ harus dipegang oleh masyarakat Indonesia yang beragam ini.”

Ilustrasi via www.pexels.com

Selain perbedaan agama dan suku, Hipwee juga berhasil meminta pendapat seorang yang unik dalam masalah orientasi seksual. Kilo, cowok 25 tahun asal Yogyakarta buka suara. Kilo mengaku hidup sebagai minoritas di Indonesia itu nggak mudah, terutama terkait dengan orientasi seksual. Dia mengaku seorang homoseksual dengan tendensi sifat feminin yang cukup kentara sehingga keterbukaan kadang bukanlah pilihan.

“Bagi saya, keterbukaan saya sebagai seorang anggota LGBT kadang berdampak negatif. Di-bully dan diejek pun sudah biasa saat masih muda. Seorang guru waktu masih SMP bahkan pernah memberi saya wejangan panjang lebar tentang pentingnya menjadi maskulin. Kata dia, saya hanya akan berakhir sebagai seorang ‘banci salon’ atau ‘banci jalanan’.”

Dia menyayangkan pandangan sebagian besar masyarakat tentang Indonesia, meskipun sekarang masyarakat Indonesia sudah jauh lebih progresif. “Saya beruntung saya dapat hidup di lingkungan yang toleran. Teman-teman saya adalah kalangan berpendidikan yang memiliki pandangan bahwa sesuatu yang berbeda itu belum tentu salah. Mereka tahu bahwa orientasi seksual itu bawaan dari lahir, sebagaimana orientasi seksual orang heteroseksual. Beberapa teman saya bahkan orang beriman, tapi nggak pernah diskriminasi atau mengucilkan saya karena orientasi seksual saya.”

“Terkait dengan kesatuan dan persatuan di Indonesia, kita memang masih banyak belajar untuk menerima satu sama lain. Not being able to recognize yourself in another human beings doesn t make who they are inexact adalah motto yang harusnya dipegang oleh masyarakat Indonesia yang beragam ini. Saya tidak ingin ada kekerasan dan diskrimnasi tehadap kaum minoritas hanya karena mereka berbeda. If people can see each other as human first, ethnicities, religion, or sexual orientation later, mungkin persatuan dan kesatuan di Indonesia akan benar-benar terwujud.”

Karena perbedaan bukanlah halangan untuk tetap berbangga diri dengan identitas sebagai bangsa Indonesia. Bhineka Tunggal Ika memang perlu dipegang teguh sampai kapan pun. Perbedaan adalah hal yang membuatmu makin sayang dengan hal-hal yang ada di sekitarmu. Tak melulu tentang percintaan, rasa sayang pada tanah air pun bisa kamu wujudkan.