Hari terakhir liburan Hari Raya kemarin ditutup oleh kabar yang cukup mengejutkan dari daerah wisata Dieng. Salah satu kawahnya yaitu kawah Sileri, tiba-tiba meletus dan melontarkan berbagai material seperti lahar dingin, lumpur, serta asap hingga ketinggian 50 meter. Akibatnya, belasan wisatawan yang sedang berada di sana mengalami luka-luka. Yang justru lebih menyedihkan, rombongan helikopter Basarnas yang rencananya akan mengawasi kawasan letusan tersebut justru jatuh menabrak tebing. Kecelakaan tragis itu menyebabkan 4 kru dan 4 tim penyelamat gugur dalam tugas.

Namun satu hal yang perlu dipahami, fenomena gunung berapi sebenarnya memang banyak terjadi. Apalagi di Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, Indonesia punya ratusan gunung api yang masih aktif. Keberadaan gunung-gunung api ini memang membuat Indonesia tanah di Indonesia sangat subur dan bisa ditanami macam-macam. Tapi dampak negatifnya, kita harus waspada bila sewaktu-waktu gunung api terlampau aktif dan berpotensi meletus. Nah sebagai orang yang tinggal di Indonesia, nggak ada salahnya kita mengenal tipe-tipe letusan gunung berapi ini. Biar tidak gampang panik dan tahu harus berbuat apa, yuk simak ulasan Hipwee News & Feature!

1. Peristiwa Dieng termasuk tipe letusan Freatik. Sifatnya mendadak dan sulit diprediksi

Letusan freatik mengeluarkan asap tebal via beritadaerah.co.id

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana, letusan Kawah Sileri yang terjadi pukul 12.00 tanggal 2 Juli lalu termasuk tipe Freatik. Berbeda dengan Letusan Gunung Merapi yang sudah diprediksi selama berminggu-minggu sebelumnya, letusan Freatik terjadi mendadak dan sulit diprediksi. Material yang dilontarkan juga bukan magma panas, melainkan asap, lahar dingin, dan lumpur. Tipe letusan ini biasanya juga tidak menimbulkan gempa bumi. Letusan Freatik disebabkan oleh tekanan gas yang terlalu tinggi. Letusan kemarin bukanlah yang pertama di tahun 2017. Sekitar bulan April lalu, Kawah Sileri juga sudah mengalami letusan Freatik sebanyak dua kali.

2. Berdasarkan proses keluarnya magma, letusan gunung api terdiri dari dua tipe yaitu erupsi Eksplosif dan Efusif

Erupsi gunung api via stuffpoint.com

Advertisement

Pada erupsi eksplosif, terjadi tekanan gas dan magma yang luar biasa besar di perut gunung api. Saat tekanan tidak bisa ditahan lagi, timbul ledakan super dahsyat yang melontarkan isi bumi baik yang padat ataupun cair. Biasanya, letusan yang eksplosif ini meninggalkan kawah besar setelah kejadian. Sementara itu, bila erupsi efusif yang terjadi, magma keluar berupa lelehan. Ledakannya pun biasanya ringan. Hal bisa terjadi kalau dapur magma tidak terlalu dalam dan tekanannya tidak terlalu besar. Tapi di luar kedua tipe itu, ada juga erupsi campuran yang meledak dan juga meleleh.

Nah di Indonesia, tipe letusan gunung berapi yang sering terjadi adalah tipe ketiga atau campuran.

3. Kalau dilihat dari dapur magma, ada 7 tipe letusan. Masing-masing punya gaya letusan yang berbeda

Tipe letusan gunung dari jenis magmanya via dedisasmito.wordpress.com

Banyak faktor yang menentukan tipe letusan gunung berapi. Mulai dari kedalaman dapur magma, bentuk gunung berapi, kekentalan magma hingga tekanan gas. Ada tujuh tipe letusan gunung api, yaitu tipe Hawaii di mana lava bebentuk cairan sehingga mudah mengalir. Salah satu contohnya adalah Gunung Moana di Hawaii. Ada juga tipe Stromboli yang meletus berulang-ulang dalam interval waktu tertentu seperti Gunung Raung.

Lalu ada juga letusan tipe Vulkano yang mengeluarkan banyak material padat dan cair yang kekuatannya tergantung pada kedalaman dapur magma. Salah satu contohnya adalah Gunung Semeru di Jawa Timur. Letusan tipe Merapi memiliki kekhasan berupa awan panas yang disebut wedhus gembel, sementara letusan tipe Perret atau Plinian dikenal dengan kedahsyatan ledakannya.

Letusan Saint Vincent menyebabkan air danau kawah ikut tumpah bersama magma, sehingga daerah sekitar kawah akan diterjang lahar panas yang sangat berbahaya. Terakhir, ada letusan tipe Pelle. Dalam letusan ini, lubang kawah berbentuk seperti jarum, sehingga ketika tekanan semakin besar, material akan terlontar ke atas.

4. Sebagian besar gunung api di Indonesia berbentuk kerucut. Tipe letusan merapi paling sering kita jumpai

Gunung Merapi via www.sikerok.com

Bentuk gunung api juga mempengaruhi tipe letusan. Seperti yang kita tahu, kebanyakan gunung api di Indonesia berbentuk stratovulkan yaitu gunung api yang tinggi dan mengerucut di bagian atas. Meski tidak semua, tapi kebanyakan gunung api stratovulkan memiliki tipe letusan Merapi. Lava kental yang mengeras bisa menyumbat kawah. Tapi aktivitas dalam perut bumi terus berlangsung dan ketika tekanan semakin besar, magma bisa terlontar keluar dan meleleh menuruni lereng gunung. Gunung Kelud dan Merapi di Pulau Jawa adalah dua gunung stratovulkan yang paling aktif di Indonesia.

5. Tipe Perret atu Plinian adalah yang paling bahaya. Contohnya adalah tragedi Krakatau dan Tambora yang nyaris menghapus Eropa dari peta dunia

Anak Gunung Krakatau via www.flickr.com

Di antara ketujuh tipe letusan, tipe Perret dianggap yang paling berbahaya. Pada letusan Perret, tekanan gas sangat besar dan dapur magmanya sangat dalam. Ledakannya bisa begitu dahsyat sehingga menghancurkan badan gunung hingga gunungnya bisa hilang sama sekali. Ledakan Krakatau di tahun 1883 dan Tambora di tahun 1815 adalah salah satu yang terhebat tercatat dalam sejarah. Akibat letusan Krakatau di Selat Sunda, suhu global menurun hingga 1,2 derajat celcius dan cuaca tidak pernah stabil hingga tahun 1888. Tsunami tidak hanya menghancurkan Banten dan pulau-pulau sekitarnya, tapi juga dirasakan hingga ke Afrika dan Eropa.

Gunung Tambora jauh lebih hebat lagi. Letusan dahsyatnya membuat gunung yang tadinya memiliki ketinggian lebih dari 4000 mdpl, hanya tersisa 2.700 mdpl saja. Ratusan ribu korban melayang dari seluruh dunia, dan benua Eropa mengalami tahun tanpa musim panas. Letusan ini juga meninggalkan kawah dengan diameter 7 km dengan kedalaman lebih dari 1,5 km dan tercatat sebagai yang terdahsyat sepanjang sejarah modern.

Sebagai penduduk dari negara yang punya ratusan gunung berapi, kita wajib waspada sambil terus mengenal tempat tinggal kita yang memang penuh potensi bencana ini

Evakuasi Gunung Kelud 1990 via indonesiana.tempo.co

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki gunung api terbanyak di dunia. Lebih dari 50 diantaranya, statusnya terus dipantau karena masih sangat aktif. Tak hanya itu, beberapa gunung api yang tadinya dianggap tidur seperti Sinabung, tiba-tiba aktif dan meletus kembali pada tahun 2013. Umumnya, sebelum gunung meletus ada tanda-tanda yang dapat dibaca. Mulai dari suhu di sekitar kawah yang meningkat drastis, pepohonon layu dan hewan-hewan ‘turun gunung’ karena panas, sumber air mengering, sering terdengar suara bergemuruh dan gempa kecil.

Selain itu teknologi yang sudah maju bisa memantai aktivitas gunung api. Sehingga saat darurat terjadi, kita bisa tahu dan melakukan penyelamatan diri. Banyak juga langkah-langkah yang sudah diedarkan oleh pemerintah untuk antisipasi saat terjadi letusan gunung api. Mematuhi jalur evakuasi dan langkah-langkah antisipasi bisa menyelamatkan diri sendiri. Tinggal di Indonesia, kita memang hidup berdampingan dengan gunung Api. Tak perlu panik, namun harus tetap siaga.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya