Itu hidungnya kenapa? Kok masuk gitu!

Yah, kamu mah semekot alias semeter kotor. Pantes tuh kumpul sama anak SD, tingginya sama kan!

Muka kamu udah di setrika belom? Berantakan gitu sih!

Masih banyak sederet ejekan yang mengarah ke fisik yang sering kamu dengar. Bahkan ada yang lebih kasar dari itu semua. Memang memandang seseorang nggak mungkin tanpa melihat fisiknya. Tapi, bukan berarti kekurangan seseorang yang kamu lihat itu bisa dijadikan ejekan atau tertawaan. Apalagi, kalau tujuan kamu mengejek itu untuk menjatuhkan mental atau harga diri seseorang.

Di dunia ini nggak ada satu hal pun yang sempurna. Kamu yang menggap diri kamu sempuna saja, belum tentu di mata orang sama. Meski fisiknya tak sempurna, kamu tetap punya kewajiban untuk menghargai atau tak merendahkannya. Alih-alih terus membudayakan kebiasaan mengejek itu, lebih baik kamu renungi dulu hal-hal yang Hipwee uraikan. Semoga hati dan pikiranmu dilapangkan ya!

1. Tuhan itu maha adil. Di balik kekurangan fisiknya, dia pasti tetap punya kelebihan yang belum tentu kamu punya

Di balik kekurangan, mereka punya kelebihan masing-masing via i-rara.com

Fisiknya memang tak sempurna, bahkan bisa dibilang dia cacat di beberapa bagian tubuhnya. Tapi, apa kamu tahu, di balik kekurangannya itu terdapat kelebihan yang belum tentu kamu miliki. Dia yang wajahnya bisa dibilang pas-pasan, bisa jadi punya kecerdasan yang cemerlang. Atau dia yang bagian tangannya tak sempurna, justru seorang seniman yang punya daya cipta serta selera jauh lebih tinggi dari kamu.

Advertisement

Lalu kamu yang punya fisik sempurna, apa lagi kelebihan yang kamu punya, kalau cuma bisa mengejek kekurangan orang? Bisa-bisa, ejekanmu itu jadi penanda kalau kamu tak mampu, seperti mereka yang dengan keterbatasannya bisa terus maju.

2. Dia yang punya kekurangan pun pasti sadar diri, kamu tak perlu memberinya ejekan untuk mengingatkannya lagi

Kenapa mengejek, padahal mereka tak merepotkan kamu via info.arte.tv

Tak perlu kamu mengejeknya berkali-kali, dia pun sudah sadar diri dengan kekuranganya. Sekarang coba balik tanya ke diri sendiri, apa kamu sadar dengan kekuranganmu? Lagi pula apa yang salah dari kekurangannya, toh selama ini dia tak merepotkanmu dengan hal itu.

Justru kamu yang merepotkannya dengan segala ejekan. Membuatnya harus berkali-kali terbentur pada kegetiran. Tapi jangan salah, berkali-kali itu pula dia akan bangkit dan terus berusaha lebih baik.

3. Meski secara fisik kurang cantik dan menarik, bisa saja dia punya sikap dan sifat yang baik. Bahkan lebih dari kamu yang mengejek

Dia punya hati yang lebih baik dari kamu

Cantik atau tampan tak menjadi patokan hatinya rupawan. Dari sekian banyak orang yang berpenampilan menarik, mungkin bisa dihitung seberapa banyak yang punya sikap dan sifat yang baik. Begitu pula sebaliknya. Jangan karena hidungnya tak mancung, bicaranya gagap, atau kurang bisa mendengar orang, lalu kamu beranggapan mereka tak lebih baik dari kamu.

Ingat juga kan kisah seorang cowok tampan yang bisa dibilang fisiknya sempurna, justru memilih seorang wanita cantik yang sayangnya punya kekurangan di bagian tubuhnya. Kira-kira apa yang membuat cowok itu memutuskan memilih dia?

4. Apa pula keuntungan kamu mengejek fisik orang? Ejekan justru membuat kamu terlihat sombong di mata orang-orang

Kamu terlalu sombong mengejeknya pendek via health.liputan6.com

Setelah kamu mengejeknya, kira-kira keuntungan apa sih yang kamu dapat, selain rasa puas semata? Nggak ada lagi kan? Lalu kenapa kamu masih melakukannya?

Alih-alih sibuk mengejek mereka, kenapa kamu urusi saja diri kamu. Toh mengejek mereka nggak menghasilkan karya atau materi, pastinya juga nggak membuat kamu lebih berkelas. Malah ejekan bisa membuat orang melihat diri kamu sebagai pribadi yang sombong.

5. Meski dia tak akan marah dengan ejekan itu, apa kamu tahu hatinya terluka parah?

Ejekanmu membuat hati mereka terluka via everydayfeminism.com

Kamu mau mengejeknya berkali-kali pun dia nggak akan marah. Kalaupun dia kesal karena lelah diejek, mungkin dia akan memilih diam dan menghindar. Tapi, harus kamu tahu, ejekanmu itu tak lain belati tajam yang menyayat-nyayat hatinya. Bayangkan kalau posisinya dibalik, kamu sebagai dia yang menerima ejekan. Yakin bisa menerima itu dengan lapang dada?

6. Mengejek fisiknya, sama saja kamu mengejek siapa yang menciptakannya. Padahal kamu bukan siapa-siapa

Jangan mengejeknya lagi via www.leighday.co.uk

Parahnya lagi, kamu yang menjadikan kekurangan fisik itu ejekan, lupa dengan siapa yang telah dengan bijaksana menciptakannya. Setiap orang itu diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan. Tuhan tahu proporsi yang pas untuk ciptaannya. Dan kamu dengan entengnya mengejek ciptaan-Nya itu. Padahal kamu bukan siapa-siapa, cuma titik di semesta yang luas ini.

Kamu dan dia diciptakan oleh Tuhan yang sama.

7. Daripada terus mengejeknya, coba kamu bercermin. Dibalik fisik sempurnamu, apa betul kamu tak memiliki kekurangan sedikit pun?

Coba lihat dirimu baik-baik via theodysseyonline.com

Alih-alih selalu mengejek dia yang tak sempurna secara fisik, ada baiknya kamu bercermin. Perhatikan baik-baik dirimu. Apa iya hatimu serupawan wajahmu, apa iya pikiranmu sesempurna penampilanmu?

Kekurangan itu pertanda kalau kamu manusia biasa, bukan Nabi, Dewa, Malaikat ataupun Tuhan. Jadi, masih perlu mengejek kekurangan fisik seseorang? Bukan cuma kamu saja yang layak bahagia, mereka yang memiliki keterbatasan pun layak merasa bahagia tanpa perlu diejek terus menerus.