Saya sudah memacari pacar saya selama 7 tahun. Lumayan lama ya? Tambah 2 tahun lagi kami sudah bisa lulus program wajib belajar.

Tapi faktanya cinta sejati saya bukan sang kekasih ini. Saya punya partner hubungan yang lebih langgeng. Yak, tidak lain adalah motor Satria FU 150 kesayangan. Selisihnya cuma beberapa bulan, tapi itu sudah cukup menentukan siapa yang saya beri pertolongan pertama duluan tatkala pacar saya terjatuh dengan motor FU ini akibat sok-sokan latihan kopling.

Saking sayangnya, motor keluaran 2010 ini pun saya beri nama panggilan. Setelah riset panjang disertai pertimbangan mendetail guna mencari nama yang seperti nama manusia, keren, mengandung doa, tapi tidak kebarat-baratan, akhirnya setahun kemudian saya menemukan nama yang tepat untuknya, yakni “Satria”. (kreativitas itu mahal, Bung)

Saking sayangnya juga, sampai hari ini saya masih tetap menungganginya tiap hari (apapun, kalau kamu sayang pokoknya harus kamu tunggangi) kendati dulu orangtua sempat beberapa kali berkehendak membelikan motor yang baru. Selain sudah terlampau banyak kenangan bersamanya, sukar melalaikan bukti-bukti keperkasaan motor Satria FU. Begitu menginjak jagat perkuliahan, mungkin pesonanya sudah kalah bersaing dengan cowok-cowok pongah bermobil. Tapi yakinlah, di masa sekolah, mereka para pengendara Satria FU adalah jawaranya.

Jika MegaPro atau Vixion terasosiasi dengan fantasi “gagah dan maskulin”, sementara Honda CBR dan Ninja punya impresi “mewah dan mentereng”, maka bagaimana dengan citra Satria FU? Berandal!

Selain romantisme terhadap kejayaan masa lalu, sampai kini pun saya memang belum menemui kendaraan roda dua di Indonesia dengan desain yang lebih menarik hati dan menggetarkan selera. Satria di mata saya punya desain yang adiluhung, apapun versinya. Ramping, minimalis, tapi beringas dan jemawa. Kecil-kecil biang rusuh. Jodoh terbaik teruntuk remaja resah yang berhasrat menyabet status sosial sebagai bad boy.  

Advertisement

Sayangnya, kemudian muncul oposisi yang doyan mengolok-olok Satria FU sebagai motor bencong. Modelnya dianggap setengah motor laki setengah motor bebek. Dasar kaum udik, saya sih acuh tak acuh meski Satria FU dilabeli motor LGBT. Kegandrungan ini tidak akan luntur kendati iklan motor Satria FU berikutnya memakai corak warna pelangi dengan tagar #lovewins.

Lantas, bagaimana dengan mesinnya? Peduli setan. Saya nggak paham jeroan. Toh, sama-sama harus pakai BBM, nggak bisa jalan kalau cuma pakai komitmen, wadaw 🙁

Serius deh, terkait dengan performa, saya cuma mengeluh karena kendaraan satu ini tidak bisa diajak irit. Rata-rata 30 ribu rupiah per sekali isi Pertamax akan amblas dalam rentang waktu 3-4 hari, padahal kediaman saya notabene hanya berjarak sekitar  5 kilometer ke sekolah. Makanya saya curiga jangan-jangan alasan kenapa banyak wanita mudah jatuh hati pada pemilik motor Satria FU adalah karena para wanita ini merefleksikan dirinya dengan motor tersebut.

Satria FU = cewek boros

Cowok yang suka Satria FU = Cowok yang suka cewek boros

Xianjeng

Satria FU adalah motor yang tersohor akan kecepatan dan akselerasinya. Motor ini selalu menjadi garda depan dan andalan untuk skuat tawuran SMA

Beda dengan Jakarta, budaya tawuran anak sekolah di Yogyakarta itu pakai motor. Secara sosiologis berkenaan dengan tata ruang kota,  medan aktivitas siswa-siswi Yogyakarta sepulang sekolah memang lain. Mereka kebanyakan pulang naik kendaraan roda dua pribadi, sementara jalanan di era saya SMA masih belum terlalu padat sehingga mengakomodir aksi adu kebut di jalanan. Kita punya istilah klitih dan banyak lainnya untuk segala prosedur tawuran yang sistematis di sini. Kadang kita main hit and run, bentrok banyak versus banyak, dan ada kalanya main keroyok atau malah dikeroyok.

Dengan pola berlaga seperti itu, secara strategis motor yang jago lari dan lincah bisa memberikan perbedaan. Setidaknya secara tongkrongan lebih intimidatif bagi lawan ketika kita mengacungkan jari tengah sambil berteriak “Asuuuu!” dari atas Satria FU dibanding dari atas Scoopy.

Syahdan, gara-gara si Satria ini pula saya akhirnya terseret ke ajang tawuran ini. Pasalnya, saya sekolah di SMA 9 Yogyakarta yang rasanya aktivitas dan reputasi tawurannya lebih masyhur dibanding bidang apapun yang bisa dikompetisikan dengan sekolah lain. Padahal, motor siswa-siswanya cuma motor bebek dan matic. Kehadiran Satria FU milik saya kemudian menjadi angin segar bagi kawan-kawan ini untuk meningkatkan infastruktur “militer”-nya.

Alhasil, motor saya jadi langganan sehari-hari untuk difungsikan sebagai alat perang. Ada kalanya saya ikutan, tapi terkadang juga cuma menunggu di sekolah seraya harap-harap cemas ia pulang dengan utuh. Sejatinya ikut nggak ikut juga saya sama-sama kena imbasnya. Waktu itu belum banyak motor serupa di Jogja, sehingga si Satria ini bisa mudah dihafalkan oleh sekolah-sekolah musuh. Bukan cuma sekali dua kali saya mendadak dikejar dan diteriaki segambreng anak SMA di perjalanan pulang sekolah sendirian. Makanya plat nomornya pun bengkok lantaran sengaja selalu ditekuk agar sebisa mungkin tidak terbaca polisi atau siswa sekolah lain. Saya juga maklum jika si Satria ini kepribadiannya perlahan berubah menjadi pendiam dan berdarah dingin.

Masih karena kecepatannya, Satria FU dijuluki “motor jambret” oleh publik. Bukan cuma jambret barang berharga, tapi juga jambret hati perempuan 🙁

Coba amati, setiap ada pemberitaan kasus jambret di surat kabar, biasanya disertai ilustrasi RX King atau Satria FU. Antara memang kedua motor itu yang selalu jadi dalangnya atau konstruksi media massa yang terlampau tidak adil.

Untungnya, menjambret hati perempuan belum termaktub dalam undang-undang pidana. Kalau iya, makin ramai lagi nantinya foto Satria FU di surat kabar. NDX AKA, sebuah duo hip hop dangdut fenomenal yang kondang akan lagu-lagu memelasnya bahkan pernah menelurkan baris lirik berbunyi, “ora FU ora love you” (tidak FU tidak love you”).

Selain untuk tawuran, motor saya juga kerap dipinjam kawan sepulang sekolah untuk pacaran atau tebar pesona. Saya sempat bertanya-tanya, apakah memang seefektif itu tingkat kekerenan motor terhadap kualitas kehidupan asmara. Bahkan, saat akhir pekan atau hari libur, tak jarang ada teman yang sampai mau menyewanya dengan bayaran ratusan ribu per harinya. Tentu saja saya tolak. Selain karena sudah kebanyakan duit (pfffft), saya merasa jadi germo jika melakukannya.

Yang pasti Satria FU ini memang marabahaya jika dimanfaatkan untuk tujuan yang merugikan orang lain, termasuk jambret. Ngeeeeeeeng, breng breng breng,… sekelebat saja tas tangan, tas jinjing, atau ponselmu raib.

Makanya kalau dulu ikatan hubungan dengan pacarmu mendadak hilang tanpa kejelasan, sosok wajib yang harus kamu curigai pertama kali adalah temanmu yang punya motor Satria FU. Ngeeeeeng, breng breng breng….  tiba-tiba kamu jomblo.

Oiya, fitur lain yang legendaris dari Satria FU adalah jok yang miring dan super licin. Ini fitur terselubung karena tidak pernah ditawarkan dalam rincian fitur-fitur terbaru di brosur penjualan. Padahal justru ini fitur yang paling konkret lahir batin. Cewek saya bahkan mengeluarkan fatwa jika memboncengkan wanita lain naik Satria FU adalah bentuk perselingkuhan, sementara tidak untuk motor lain. Lha pie toh

Tapi memang sih, andai kata tabrakan antara payudara dan punggung lelaki bisa bikin hamil, mungkin saya sudah punya banyak anak di luar sana.

HipweeJurnal adalah ruang dari para penulis Hipwee kesayanganmu untuk berbagi opini, pengalaman, serta kisah pribadinya yang seru dan mungkin kamu perlu tahu 

Baca tulisan #HipweeJurnal dari penulis lainnya di sini!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya