Siapapun tahu kalau keperawanan masih jadi pembicaraan tabu di negeri ini. Meskipun tetap tabu dibicarakan, tapi sebenarnya sudah jadi rahasia umum juga kalau perilaku seks bebas di Indonesia trennya makin meningkat. Maka dari itu ketika seorang hakim secara gamblang mengusulkan tes keperawanan sebelum menikah untuk menurunkan angka perceraian yang sedang tinggi-tingginya, warga Indonesia, secara online maupun offline, langsung bereaksi keras.

Menariknya, hakim ini tampaknya berusaha bersikap adil dengan tidak hanya mengusulkan tes keperawanan tapi juga tes keperjakaan. Meski sekilas terdengar adil dan tidak merendahkan cewek, kalau dipikir lebih jauh sebenarnya pernyataan itu ‘kosong’ semata. Bagaimana coba keperjakaan bisa di-tes? Buat yang bisa masuk ke artikel ini karena udah 17 tahun ke atas, mungkin dapat membayangkan betapa mustahilnya mengecek apakah seorang pria masih perjaka atau tidak. Yang populer justru semacam kepercayaan diantara cowok-cowok yang mengkaitkan nyaringnya bunyi lutut dengan keperjakaan seseorang.

Istilah seperti dengkul kopong seringkali jadi bahan ejekan buat mereka yang diduga sudah nggak perjaka dan sering masturbasi. Ternyata bukan cuma di Indonesia aja lho lutut dijadikan penanda keperjakaan seseorang. Kenapa lutut ya?! Gimana juga dari sisi medis, emang beneran nggak ada kah tes keperjakaan yang bisa dilakukan?  Yuk bahas bareng Hipwee News & Feature!

Dilihat dari kacamata medis, sampai sekarang belum ada metode pasti buat menentukan seorang cowok masih perjaka ting-ting atau sudah ternoda

Tenang mas, nggak dicek kok! via www.womenshealthmag.com

Selain usulan kontroversial hakim di atas, tes keperawanan dan keperjakan sempat jadi isu hangat beberapa tahun ketika jadi persyaratan bahwa calon anggota Polri harus perawan dan harus perjaka untuk calon anggota Polri. Namun, sebagaimana dilansir Tempo, Brigadir Jenderal Moechgiyarto pun mengatakan bahwa satu-satunya cara mengetes keperjakaan selama ini hanya diketuk lututnya. Hasilnya pun nggak valid jadi akhirnya tidak ada tes keperjakaan buat cowok.

Setelah Hipwee mengubek-ubek topik ini, metode medis yang paling dekat dengan ‘tes keperjakaan’ adalah dengan melihat kondisi lapisan frenulum yang membungkus bagian bawah Mr. P. Dilansir dari laman Columbia University, bagian yang disebut frenulum ini akan mengetat, bisa robek, dan bahkan bisa berdarah jika Mr.P memanjang karena lapisan ini ikut tertarik. Tapi balik lagi, kalau kondisi si cowok ereksi hanya karena stimulus tertentu yang bukan mengindikasikan dia berhubungan intim, maka kita nggak bisa menyimpulkan dia sudah nggak perjaka.

Selain sangat tidak konklusif, metode ini juga mungkin tidak akan bisa dipakai untuk cowok-cowok Indonesia yang sebagian besar sudah disunat.

Meskipun secara medis dan logika jelas mustahil dibuktikan, mitos keperjakaan seperti dengkul kopong mengakar kuat di Indonesia

Coba ketok yang ini guys via medicalnewstoday.com

Mitos soal lutut dan perjaka ini kayaknya sudah jadi urban legend yang turun temurun melekat di benak masyarakat luas. Kelakar masa kecil cowok-cowok juga berkisar soal; kamu sudah nggak perjaka jika ketika lututmu diketok bunyinya nyaring.

“Iya lah waktu SD suka saling ngetok lutut teman. Kalau bunyinya kopong berarti dia sudah nggak perjaka atau saking seringnya masturbasi sendiri. Dulu sih wktu masih polos aku percaya, tapi setelah SMA dan mikir-mikir, nggak ada hubungannya sih sperma sama lutut.” Galih, 24 th

Ternyata di Afrika Selatan juga mengenal dark knees atau lutut gelap. Cowok yang punya lutut berwarna jauh lebih gelap dari kulitnya artinya sudah nggak perjaka

Coba sini abang aku cek dulu satu-satu…lututnya! via www.huffingtonpost.com

Mitos soal keperjakaan di Afrika Selatan ternyata lebih kompleks nih. Khususnya di kawasan KwaMashu, keperjakaan cowok jadi hal yang sangat penting. Setiap cowok dan cewek yang akan menikah harus menjalani tes keperjakaan dan keperawaan. Caranya mengetesnya perjaka pun terbilang unik, yaitu dengan bagaimana mereka kencing. Masyarakat percaya, kalau air kencing tegak lurus ke udara, maka cowok masih perjaka. Kalau air kencing menyebar, besar kemungkinan sudah tidak perjaka. Asumsi ini didasarkan pada masyarakat yang percaya kalau cowok juga punya selaput dara. Ketika melakukan hubungan intim, selaput ini tertarik dan robek. Nah ketika kencing robek tidaknya selaput ini terlihat jelas lewat bagaimana air kencing menyembur. Ah masa sih? Padahal menurut medis cowok nggak punya selaput keperjakaan loh.

Sedangkan seseorang yang dianggap ahlinya tes keperjakaan ketika ditanyai IOL mengatakan kalau cara paling akurat buat tahu keperjakaan seorang cowok ya dengan melihat warna lututnya. Kalau warna kulit cowok di bagian lutut jauh lebih gelap, yasudah, artinya keperjakaannya sudah terenggut. Dari mitos-mitos yang nggak bisa dibuktikan kebenarannya ini, timbul pertanyaan. Kenapa sih perjaka atau nggak dikaitkan sama lutut? Ada apa dengan lutut para lelaki?

Ada apa dengan lutut para lelaki? Sampai-sampai dikaitkan sama keperjakaan dan masturbasi

Kenapa harus lutut? Bukan kepala, pundak, atau kaki? via coub.com

Lutut kopong bukan hal yang mustahil terjadi pada cowok. Tapi penyebabnya jelas nggak ada hubungannya dengan sperma.

“…Lutut kopong, biasanya terjadi karena terkikisnya sendi di lutut akibat gesekan yang berlangsung secara terus-menerus. Penyebabnya pun bisa bermacam-macam, diantaranya pengeroposan tulang, pengapuran sendi dan bisa juga akibat cedera. Misalnya lagi karena keseleo, berolahraga, atau bekerja terlalu berat….” dr. Luluk Maya Savira dikutip melalui Hai.

Kalau mau ditarik kesimpulan gampang, logikanya seks memang melibatkan aktivitas otot dan sendi. Selain itu ketika melakukan hubungan seks, lutut jadi tumpuan dan komponen utama pada kaki cowok. Nggak usah dibayangkan. Lutut yang banyak terkena gesekan dalam beberapa kasus bisa jadi membuat warna lutut makin gelap, terlau banyak aktivitas sendi dan otot yang melibatkan lutut juga bikin lutut kopong. Mungkin inilah yang membuat orang-orang percaya kalau ada kaitannya lutut dengan keperjakaan seseorang.

Keperjakaan dan keperawanan kalau di budaya kita memang jadi suatu hal yang penting. Bahkan ini menyangkut reputasi dan penilaian orang. Tapi nggak ada faedahnya juga kalau kita harus kepoin status keperjakaan dan keperawanan seseorang tanpa alasan yang jelas dong. Tentu saja bikin orang nggak nyaman! Terlepas dari itu, semoga uraian tadi bisa mengobati rasa penasaranmu ya soal sepak terjang tes keperjakaan. Sampai jumpa di kesempatan berikutnya! :*

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya