Gelaran konser K-Pop Music Bank Jakarta 2017 kemarin (2/9) tampaknya jadi mimpi buruk bagi beberapa fans asal Korea Selatan. Rela datang jauh-jauh ke Indonesia cuma buat menonton idola kebanggaan negerinya, mereka justru sakit hati dan kecewa berat. Gimana nggak, mereka mengaku kalau dapat perlakuan nggak adil dan tidak senonoh waktu pemeriksaan keamanan sebelum masuk venue! Padahal kemarin pertama kalinya mereka menginjakkan kaki di Indonesia. Eh, udah dibikin kapok.

Peristiwa ini mungkin lebih bisa dirasakan sama para fans K-Pop terutama yang kemarin datang ke konser tersebut. Saya sendiri bukan termasuk penggila K-Pop sih. Tapi meski begitu, sebagai orang Indonesia, saya berhak dong ikut malu dengan gimana cara pihak keamanan konser mendiskriminasikan penonton. Kejadian kemarin jelas bisa mencoreng nama Indonesia di mata turis khususnya dari Korea Selatan. Apalagi ini bukan yang pertama kalinya, duh. Buat lebih jelasnya simak deh ulasan Hipwee News & Feature kali ini.

‘Curhatan’ ini ditulis pertama kali sama akun Twitter penggemar EXO @whitedreams1127. Lewat unggahannya itu dia ungkapkan semua kekecewaannya. Bikin miris yang baca sih

“Aku ingin membahas konser kemarin. Ini pertama kalinya aku datang ke Indonesia, dan sangat menantikan konser ini. Tapi ada hal yang membuat aku sangat kecewa. Tidak hanya di Indonesia, di negara lain pasti ada pengecekan keamanan. Aku sangat mengerti ini adalah pekerjaan mereka (sekuriti). Tapi apa yang membuatku marah saat beberapa staf menarik temanku dan membawa mereka ke sebuah ruangan dan meminta temanku untuk membuka baju untuk melakukan body checking. Mereka melakukan ini untuk mengambil kamera yang disembunyikan di balik baju. Ini bukan tentang keamanan, tapi sudah sangat melanggar hak asasi. Aku dan temanku sudah menyerah dan tidak ingin masuk ke dalam membawa kamera, di sana juga tidak ada loker untuk menyimpan barang kami. Beberapa orang yang sudah ingin pergi dari venue dan kembali ke hotel juga tidak diperbolehkan pergi dan menyimpan barang-barang mereka di depan pintu masuk. Apa tujuan dari semua itu? Kami juga ditanya dari mana kami berasal oleh petugas di depan pintu masuk. Jika kami orang Korea, mereka akan memeriksa tubuh kami secara detil. Tapi mereka tidak melakukan hal yang sama kepada penonton lokal. Padahal beberapa ada yang membawa kamera dan bisa masuk ke dalam venue dengan mudah. Apakah ini sebuah diskriminasi? Aku tidak mengerti apa tujuan mereka bertanya kewarganegaraan kami. Terakhir, aku tidak menyalahkan siapapun, aku hanya ingin semua orang tahu apa yang terjadi kemarin dan bagaimana para staf memperlakukan kami dengan kasar.” (Terjemahan: Kumparan)
Membaca keluhan di atas, nggak heran kalau yang bersangkutan bisa alami trauma. Kita yang orang lokal aja pasti juga akan merasa kecewa, sedih, terpukul, dan segala rasa yang bisa muncul pada orang yang pernah mengalami kekerasan dan pelecehan seksual. Beberapa pendapat warganet muncul menanggapi tulisan panjang di atas. Sebagian justru menyalahkan si cewek Korea itu karena keukeuh membawa kamera ke dalam venue yang jelas-jelas dilarang. Sebagian lainnya punya pendapat berbeda, kalaupun dia salah nggak seharusnya dia diperintah buka baju di ruangan yang banyak lelaki juga di dalamnya.
Meski yang memeriksa sekuriti wanita, tetap aja cara tersebut nggak bisa dibenarkan karena dianggap melanggar hak asasi dan diskriminatif.

Ternyata 2016 kemarin kejadian yang sama juga menimpa penonton konser EXO asal Indonesia. Ada dugaan pelecehan seksual waktu proses body checking

Advertisement

Konser EXO via www.bintang.com

Bulan Februari 2016, boyband EXO yang banyak digilai remaja Indonesia ini menggelar konser di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang. Kali ini sampai bawa-bawa KPAI. Dikabarkan beberapa fans beserta orang tuanya melapor ke KPAI atas dugaan pelecehan seksual saat proses pemeriksaan sebelum masuk venue. Mereka mengaku kalau bagian-bagian vitalnya dipegang, ditekan, bahkan ditarik. Mirisnya pengecekan tersebut disaksikan staf lain yang notabene berkelamin lelaki! Salah satu fans bahkan mengaku sampai menangis. Bukannya menenangkan, seorang staf lelaki malah berujar, “Diam! Bersyukurlah yang meriksa cewek, bukan aku!”.

Dilansir dari Detik, sekretaris KPAI Rita Pranawati menegaskan, pemeriksaan dengan dalih apapun nggak diperkenankan menyentuh bagian vital orang yang diperiksa, apalagi kalau dilakukan secara paksa dan di ruangan terbuka, karena jelas akan bikin trauma. Mau atas nama SOP, aturan, atau lainnya, kejadian kayak di atas jelas pelanggaran namanya!

Nggak cuma itu, waktu Big Bang datang ke Jakarta 2015 silam, konsumen konsernya sampai menulis surat terbuka. Isinya berbagai keluhan yang dirasakan selama konser berlangsung

Surat terbuka via www.rollingstone.co.id

Pelecehan seksual dengan dalih body checking cuma satu dari sekian banyak ketidaknyamanan yang bisa dirasakan para penonton waktu menghadiri konser. Flash back ke dua tahun lalu, saat Big Bang konser di ICE BSD juga. Banyak penonton yang mengeluh soal prefesionalitas Melania Citra Prima atau biasa disebut Mecimapro, selaku promotor konser. Bahkan akun Twitter Bigbang Indonesia sampai mengunggah surat terbuka yang isinya opini atau keluhan para konsumen konser. Ada beberapa poin yang dijabarkan, mulai dari kotornya WC sampai soal official merchandise yang nggak sesuai ekspektasi. Jadi bertanya-tanya kan itu beneran official atau abal-abal.

Kasus-kasus di atas jelas timbulkan pertanyaan sendiri, apa memang kultur konser di Indonesia masih jauh dari kata nyaman?

Penonton konser via www.kapanlagi.com

Ya bukannya mau menjatuhkan pihak tertentu aja sih. Di sini lebih membahas profesionalitas secara keseluruhan para promotor konser di Indonesia. Banyaknya keluhan penonton mungkin bisa dijadikan tolak ukur, kesuksesan sebuah acara musik. Di acara konser apapun, mau dangdut, rock, reggae, metal, yang namanya penonton itu adalah pemegang saham terbesar. Nggak ada penonton, ya nggak akan jalan toh acaranya.

Melihat kejadian-kejadian di atas, bukan nggak mungkin kalau kemudian orang Indonesia lebih pilih nonton konser di negara tetangga yang buat kesananya nggak butuh budget banyak, tapi mereka bisa menikmati konser yang lebih profesional. Kamu setuju?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya