Sebagai sesama perempuan, setiap tahu pemberitaan soal pemerkosaan atau tindakan cabul lainnya, cuma satu yang terbesit di benak saya: apakah para pelaku nggak pernah berpikir bagaimana rasanya kalau ibu, kakak adik, atau anak perempuan mereka mendapat perlakuan yang sama? Sedih ‘kah mereka? Atau malah acuh? Yang jelas perilaku di atas nggak bisa dibenarkan barang seujung kuku pun, sekalipun korban pernah melakukan hal buruk pada pelaku sebelumnya.

Meski sudah banyak pelaku yang pada akhirnya dijebloskan ke penjara, nyatanya hukuman tersebut nggak bisa membuat pelaku lain di luar sana menghentikan ‘serangan’nya. Seperti halnya yang baru terjadi Rabu (6/7) kemarin. Yang lebih buat mengelus dada, kali ini yang jadi korban perilaku biadab ini adalah penumpak ojek online. Sarana transportasi yang notabenenya kini jadi andalan kaum hawa untuk berpergian kemana-mana karena aman dan nyaman, reputasinya mungkin telah tercoreng karena peristiwa ini. Simak info selengkapnya bareng Hipwee News & Feature.

Pengemudi ojek online Grab tercyduq akibat perilaku cabulnya pada penumpangnya yang masih SMA. Tega banget!

Pengemudi Grab cabul via kumparan.com

Dilansir dari Akurat News, kejadian yang bikin miris ini bermula saat korban inisial DS yang masih berusia 17 tahun itu memesan Grab Bike dari rumah kontrakannya di Jalan Manggarai Utara II, Tebet, Jakarta Selatan ke tempatnya PKL di bilangan Jakarta Pusat. Situasi masih berjalan normal sampai ketika pengemudi yang diketahui bernama Chairullah itu malah membelokkan tujuan ke tempat lain! Lelaki bejat itu membawa sepeda motornya ke rumah temannya di Jalan Slamet Riyadi, Matraman, Jakarta Timur.

Sesampainya di sana, korban diajak masuk ke dalam rumah dengan berbagai alasan. Pelaku juga membuat korban tak sadarkan diri. Setelah dirasa waktunya ‘tepat’, ia pun segera melancarkan aksinya. Setelah itu ia tetap berencana mengantar bocah malang itu ke lokasi PKL, namun nahas perilakunya ‘terbaca’ oleh warga sekitar, dan pelaku pun diamankan pihak polisi.

Kejadian ini seolah jadi mimpi buruk bagi DS. Mungkin selamanya dia nggak akan mau lagi naik angkutan online

Advertisement

Trauma via theolympians.co

Berkaca dari kasus ini, meski banyak pihak mengagung-agungkan fasilitas transportasi online ini dengan alasan praktis, efektif, dan efisien, nyatanya semua itu nggak menjamin 100% kalau angkutan jenis ini aman. Pertama, karena penumpang sama sekali nggak tahu latar belakang si pengemudi sebelumnya. Kedua, kesempatan berbuat jahat bagi pengemudi terbuka lebar, terlepas dari tanggung jawabnya sebagai driver. Ketiga, kurangnya kontrol dari pusat pada kinerja pengemudi di lapangan.

Sebagai perusahaan yang menaungi setiap pengemudi transportasi online, mungkin sudah waktunya mereka menyediakan fasilitas yang bisa digunakan customer saat dalam keadaan darurat

Fasilitas harusnya tersedia di aplikasi. Tombol darurat misalnya via makhluklemah.wordpress.com

Berkaca dari kejadian di atas dan puluhan kasus serupa, seharusnya sih perusahaan transportasi online memikirkan cara bagaimana mengembalikan kepercayaan publik. Nggak sedikit lho yang lantas jadi parno untuk naik ojek atau taksi online setelah banyak kejadian nggak mengenakkan menimpa penumpang. Nah, mengingat nggak ada yang bisa mengawasi perjalanan penumpang dari lokasi penjemputan ke lokasi pengantaran, akan lebih baik sebenarnya kalau ada semacam ‘tombol darurat’ yang bisa dimanfaatkan penumpang ketika terjebak di situasi darurat. Dan mungkin perusahaan juga bisa melakukan pengawasan langsung pada pengemudi lewat GPS yang bisa disaksikan di pusat.

Kasus ini juga bisa jadi pelajaran berharga bagi penumpang transportasi online di seluruh penjuru negeri

Penumpang juga harus waspada via student.cnnindonesia.com

Nggak cuma bisa jadi bahan refleksi perusahaan tempat para pengemudi transportasi online bernaung saja, tapi juga bagi penumpang. Meski pengemudi membawa nama perusahaan yang rasa-rasanya nggak mungkin kalau mereka menyelewengkan profesinya sendiri (beda kalau dibandingkan dengan ojek konvensional yang jarang diketahui siapa pihak yang mempekerjakan), tapi yang namanya kesempatan bisa datang kapan saja kan?

Nggak cuma di ranah transportasi online saja sih yang rawan akan tindak kejahatan. Bahkan di lingkungan yang katanya aman pun, tentu nggak menutup kemungkinan ada juga yang berbuat jahat. Intinya sih, tetap waspada dimanapun berada.

NB: Dilansir dari Kumparan (8/9), Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo menyatakan fakta baru bahwa ada dugaan aksi di atas dilakukan atas dasar suka sama suka. Ini didasarkan hasil pemeriksaan bahwa relasi antara pelaku dan korban sudah berlangsung selama kurang lebih 2 minggu. Sehingga mereka saling mengenal, bertukar pesan, hingga memesan ojek tanpa melalui aplikasi alias langsung melalui chat Whatsapp. Meski begitu hingga kini pemeriksaan masih terus berlanjut.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya