“Para korban ini mengalami gejala kelainan seperti orang tidak waras, mengamuk, berontak, ngomong tidak karuan setelah mengkonsumsi obat yang mengandung zat berbahaya itu, sehingga sebagian harus diikat.” – Kepala BNN Kota Kendari, Murniati, seperti dilansir Kumparan.

Mau dibawa kemana nasib bangsa ini, kalau generasi mudanya saja sudah salah jalur. Generasi muda yang seharusnya bisa jadi bibit-bibit produktif guna memajukan negara di masa depan, justru menghiasi masa-masa muda mereka dengan melakukan hal-hal tidak terpuji. Miris rasanya ketika melihat berita-berita soal penyalahgunaan narkoba, penyimpangan seksual, atau kriminalitas, yang justru dilakukan para remaja yang masih duduk di bangku sekolah. Mereka yang seharusnya sibuk menggali potensi diri dalam-dalam, malah jatuh di ‘lubang hitam’.

Seperti halnya yang terjadi baru-baru ini di Kendari, Sulawesi Tenggara. Puluhan pelajar dirawat di rumah sakit karena diduga mengonsumsi narkoba mirip flakka. Rata-rata mereka memiliki kesamaan ciri-ciri fisik yaitu ada luka-luka di tubuhnya. Sebagian ada yang seperti menderita gangguan mental dan kejang-kejang, sebagian lagi bahkan sampai nggak sadarkan diri. Sedih sih, pelajar yang seharusnya berlomba-lomba mengukir prestasi, malah berlomba-lomba meracik obat-obatan terlarang. Simak deh kisah selengkapnya yang sudah Hipwee News & Feature rangkum berikut ini!

Peristiwa ini bahkan berakhir tragis karena salah satu pelajar yang baru duduk di kelas 6 SD, sampai meregang nyawa. Semua itu hanya karena rasa penasaran ingin mencoba obat terlarang

Bocah kelas 6 SD meninggal via www.dispatchlive.co.za

Dilansir dari laman Metrotvnews, Murniati mengatakan Kendari saat ini benar-benar sedang darurat narkoba. Ia juga berujar sudah ada 1 korban meninggal akibat mengonsumsi obat terlarang yang diduga beredar dalam dua bentuk, yakni cair dan tablet. Ironisnya, korban meninggal itu masih duduk di bangku kelas 6 SD! Berdasarkan beberapa laporan, dia mengonsumsinya dengan cara dicampur dengan minumannya. Bayangkan saja, nyawa bocah itu terenggut dalam sesaat hanya karena mencoba-coba mengonsumsi barang haram. Dokter pun menyatakan bahwa dia mengalami overdosis berat.

Sedangkan mereka yang lebih beruntung kini dalam perawatan RS di Kendari. Mirisnya, usianya pun beragam, dari siswa SD, SMP, hingga SMA

Advertisement

Masalah obat terlarang ternyata sudah menjangkiti seluruh kelompok usia via harianriau.co

Seandainya, rasa penasaran yang mereka miliki justru dicurahkan untuk hal positif, tentu saja kisah tragis seperti yang dialami puluhan pelajar di Kendari ini tidak akan terjadi. Saat ini berdasarkan keterangan Murniati seperti yang ditulis Viva, sejak Selasa (12/9) hingga Kamis (14/9) ini, jumlah korban sudah mencapai 50 orang. Beberapa dirawat di RS, tapi ada juga yang sudah dikembalikan ke orang tua mereka untuk dirawat di rumah. Karena gejalanya juga bisa sebabkan gangguan mental, ada juga yang sampai dirawat di RSJ.

Yang lebih memprihantinkan, bahkan kabarnya ada juga ibu rumah tangga yang ikut menenggak obat terlarang itu. Nggak habis pikir sih, kok bisa ya persebaran obat ini begitu masif?

Beberapa korban yang dirawat via style.tribunnews.com

Seorang ibu yang sudah seharusnya jadi panutan bagi anak-anaknya, justru bertindak di luar akal sehat. Masih berdasarkan keterangan Murniati, selain puluhan pelajar, korban yang saat ini masih dirawat di RS juga ada yang dari kalangan ibu rumah tangga, serta warga dan remaja yang tidak bersekolah. Sedangkan bocah SD yang meninggal tadi, kabarnya diberi obat tersebut oleh tantenya sendiri! Saat ini wanita itu masih dalam kondisi sakau.

Perkembangan terbaru, sudah ada 8 tersangka yang ditangkap. Menariknya, dua diantara terduga pelaku ini ternyata berprofesi sebagai apoteker

Saat ini Polda Sulawesi Tenggara bersama BNN telah mengamankan 8 orang tersangka yang diduga sebagai penyalur obat tersebut, termasuk di antaranya apoteker dan asisten apoteker. Dari hasil penangkapan tersebut, polisi juga mengamankan ribuan butir obat-obatan psikotropika. Diantaranya berjenis somadril dan tramadol. Dua jenis obat ini yang kemudian diduga disalahgunakan oleh para pelajar tersebut.

Somadril sendiri adalah obat penghilang rasa nyeri, rematik pada tulang, dan peredam gangguan pernafasan pada penyakit asma. Kalau digunakan berlebihan bisa menyebabkan kerusakan otak. Sedangkan tramadol tergolong obat pereda rasa sakit dengan tingkat kesakitan sedang sampai berat, misalnya rasa nyeri setelah operasi. Tramadol berpengaruh pada reaksi kimia di otak dan saraf sehingga bisa mengurangi rasa sakit.

Melihat begitu banyak kasus kriminal yang menjerat para pelajar di Indonesia saat ini, pengawasan orangtua kaum millenial ini agaknya juga perlu dipertanyakan

Salah satu korban yang bertingkah layaknya zombie via harianriau.co

Kemana para orang tua saat para pelajar ini ‘beraksi’? Apakah di era digital sekarang anak memang jadi semakin susah diatur? Mungkin bisa jadi. Media massa atau media sosial yang sifatnya masif saat ini sering menjadi faktor penyebab anak atau pelajar terpengaruh hal-hal buruk yang ada di dalamnya. Sedangkan di sisi lain, generasi orang tua tak begitu akrab dengan teknologi. Kesenjangan pun terjadi. Di sini bukan nggak mungkin para orang tua jadi tak tahu menahu soal apa yang dikonsumsi anak-anak mereka melalui media.

Banyaknya kejadian yang menimpa pelajar di Indonesia sudah seharusnya tak cuma jadi PR pemerintah, tapi juga kita semua sebagai generasi penerus bangsa. Memangnya kamu mau di masa depan bangsa ini justru hancur dan malah jatuh ke tangan negara lain, seperti dahulu kala?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya