Lagi-lagi sebuah video yang viral membuat netizen mengelus dada. Kali ini tentang salah seorang calon penumpang yang mengamuk ketika diminta untuk melepaskan jam tangannya saat melewati pemeriksaan di bandara Sam Ratulangi, Manado. Dilansir detik.com, dalam video itu terlihat bagaimana seorang perempuan diminta untuk melepas jam tangan saat alarm Walk Through Metal Detector berbunyi sebelum akhirnya marah-marah.

Penumpang berinisial JOW ini nggak cuma marah-marah, tapi juga menampar petugas Aviation Security (Avsec). Perempuan tersebut kemudian diketahui sebagai istri seorang brigadir jenderal di Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas). Netizen pun langsung dibuat geram dan kecewa dengan sikap arogan ibu pejabat ini. Saking “anehnya” perilaku penumpang ini, sampai-sampai Menteri Perhubungan Indonesia, Budi Karya Sumadi, ikut angkat bicara.

Saat ini baik JOW maupun petugas Avsec sama-sama saling melaporkan. JOW dilaporkan atas tindak kekerasan, sementara petugas bandara dilaporkan dengan perbuatan tidak menyenangkan. Duh, memang sesusah apa sih melepas jam tangan dan menuruti aturan yang berlaku? Mengapa lebih suka menjadi sasaran para pencari video viral dan menjadi obrolan seluruh negeri? Apa karena pangkat suami yang tinggi, lantas merasa bisa bersikap sesuka hati? Yuk simak bareng ulasan Hipwee News & Feature ini!

Sikap arogan pejabat-pejabat negeri ini, memang sudah tersohor. Awal tahun lalu, anggota DPRD di Jambi juga membuat ulah. Saking bangganya pada jabatan sampai lupa lokasi parkiran

Surat permohonan maaf via www.seputarmerangin.com

Advertisement

Arogansi pejabat di Indonesia memang tidak mengherankan. Ada banyak kasus yang bisa menjadi rujukan. Salah satunya adalah kisah seorang anggota DPRD di Jambi yang balik marah-marah ketika diingatkan petugas bandara agar tidak memarkir mobil di area dropzone. Bukan hanya memaki-maki, pak pejabat sampai menjewer si petugas bandara dan dengan bangga “mengingatkan” bahwa dirinya adalah DPRD. Yang artinya, mungkin beliau merasa sebagai anggota DPRD boleh parkir di mana-mana. Untung saja beliau akhirnya menyadari kekeliruannya dan meminta maaf.

Arogansi pejabat ini terkadang menggelikan. Apa hanya karena pangkat kedudukan lantas seluruh aturan bisa dilawan?

Penumpang tampar petugas bandara via www.tabloidbintang.com

Tingkah pejabat yang kental arogansi ini sebenarnya sangat menggelikan. Sesungguhnya sangat naif bila beranggapan bahwa dengan pangkat yang tinggi maka segala hal bisa dilakukan. Meski pada praktiknya hal tersebut sering kejadian, tetap saja masih tak habis pikir dengan pola pikir yang sangat feodal ini. Bukankah seorang pejabat yang memimpin rakyat seharusnya memberikan teladan sehingga bisa diikuti? Memang tidak semua, tapi banyak tingkah pejabat yang sering bikin rakyat jelata mengelus dada. Lalu kami harus meniru siapa?

Melepas jam tangan dan ikat pinggang adalah aturan resmi dari kementerian. Jika lalai, tentunya patut diberi sanksi

Bandara punya prosedur keamanan via blog.reservasi.com

Sejak tahun 2015 memang setiap penumpang pesawat diharuskan melepas jam tangan dan ikat pinggang ketika melalui pemeriksaan X-ray. Sebenarnya peraturan ini juga sudah ada sejak lama, namun di-update secara berkala. Ikat pinggang dilepas karena bisa saja penumpang yang berniat jahat menyimpan pisau tipis di kulit ikat pinggang. Sementara jam tangan juga memungkinkan untuk penyimpanan jarum-jarum beracun. Ancaman-ancaman ini dapat dideteksi bila kedua benda itu dilepas saat diperiksa.

Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 127 Tahun 2015 tentang Program Keamanan Penerbangan Nasional (PKPN) dan Surat Instruksi Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan No. 3 Tahun 2015 tentang Kewajiban Perbaikan Sistem Keamanan Bandar Udara. Sebagai aturan resmi tentu ada konsekuensi bagi yang dengan sengaja mengabaikan atau menentangnya.

Proses screening di bandara adalah hal biasa, wajib malah. Dibanding negara lain, Indonesia sudah termasuk longgar. Kok masih saja ada yang keberatan

Di luar negeri lebih ribet via www.algemeiner.com

Atas peraturan melepas ikat pinggang dan jam tangan itu memang dianggap berlebihan oleh beberapa penumpang. Namun sebenarnya hal itu sungguh biasa bila dibandingkan dengan screening di luar negeri. Mulai dari alat elektronik, laptop, hingga baju bisa dilepas bila memang mencurigakan. Untuk urusan keamanan memang tidak boleh sembarangan ‘kan? Bukankah semakin aman penumpang juga semakin tenang?

Sebagai tempat umum, proses keamanan bandara yang njelimet adalah wajar. Toh semua itu dilakukan demi penumpang

Kalau aman terbang pun tenang via travelingyuk.com

Sebenarnya apa sih yang membuat sulit untuk melepaskan jam tangan? Toh, semakin kooperatif proses pemeriksaan lebih cepat sehingga masuk ke ruang tunggunya juga lebih cepat. Proses pemeriksaan yang njelimet ini nantinya akan menguntungkan kedua belah pihak, baik maskapai maupun penumpang. Maskapai akan merasa aman saat seluruh area bandara terjaga dan tidak dimasuki sembarang orang. Sementara sebagai penumpang, tentu kita ingin penerbangan berjalan lancar. Meski di film-film terlihat mendebarkan dan seru, tapi permasalahan saat penerbangan itu jelas bukan hal yang diinginkan.

Arogansi barangkali tak hanya dilakukan oleh mereka yang punya jabatan tinggi. Dan tidak semua yang berjabatan tinggi merasa bisa berbuat sesuka hati. Di jalan raya banyak juga orang yang merasa “tak apa-apa” menerobos aturan karena sedang seru-seruan dengan gerombolan. Padahal setiap aturan di tempat umum pastinya harus dipatuhi. Tak peduli peringkat, pangkat, ataupun latar belakangnya apa. Karena bila bukan untuk diri sendiri, ada hak-hak keamanan dan kenyamanan orang lain yang harus kita penuhi.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya