Masih ingat sensor yang dilakukan stasiun televisi pada kebaya kontestan Puteri Indonesia? Tentu kamu juga masih ingat dong sama sensor yang juga “menimpa” Sandy Spongebob dan baju renang Shizuka. Sensor yang sangat absurd ini juga menimbulkan reaksi negatif dari banyak pihak, termasuk anak muda.

Tapi ternyata sensor yang absurd nggak hanya ada di televisi saja. Facebook juga melakukannya lho. Beberapa hari yang lalu, salah satu pengguna Facebook bernama Dea Safira Basori di-suspend setelah mengunggah foto-foto perempuan Indonesia zaman dulu yang bertelanjang dada.

Duh, memangnya sekarang foto-foto sejarah Indonesia juga termasuk pornografi ya? 🙁

Awalnya, Dea sendiri mengunggah foto-foto tersebut sebagai tanggapan atas sensor kebaya Puteri Indonesia

Seperti kamu, Dea — seorang feminis dan mahasiswi Kedokteran Gigi — bertanya-tanya kenapa kebaya harus disensor oleh produser acara Puteri Indonesia. Kemudian, ada yang bilang gaya berbusana seperti itu bukan budaya asli Indonesia. Ini membuat Dea penasaran. dan mencari tahu tentang sejarah berbusana Indonesia dengan kata kunci “foto perempuan Indonesia zaman dahulu”.

Lalu, muncullah foto perempuan zaman pra-kemerdekaan. Rata-rata, mereka bertelanjang dada. Karena menurut Dea temuannya bertentangan dengan alasan penyensoran yang mengatasnamakan “perlindungan budaya”, Dea pun mengumpulkan foto-foto tadi dan mengunggahnya dalam satu album di Facebook-nya dengan judul “The Culture of Real Indonesian Women”.

Nah, kalau foto-foto itu hanyalah dokumentasi sejarah, kenapa Facebook harus melarangnya?

Advertisement

Setelah postingan Dea di-share hampir 3000 pengguna lain, akun Dea malah ditangguhkan oleh pihak Facebook. Alasannya, postingan Dea tersebut dilaporkan sekitar 50 kali oleh pengguna Facebook lainnya. Dasar laporan tersebut adalah “adanya unsur nudity (ketelanjangan) dan sexual explicitness (eksplisit secara seksual)” dalam foto-foto bersejarah yang dikumpulkan Dea.

Dea sendiri nggak tinggal diam, lalu mengirimkan surel kepada pihak Facebook. Dalam surel ini Dea menjelaskan alasannya memposting foto-foto itu. Pihak Facebook pun sempat merespon dengan mengaktifkan kembali akunnya. Tapi nggak lama, pihak Facebook kembali menangguhkannya — sebelum akhirnya mengaktifkan akun Dea lagi.

Kok pihak Facebooknya galau gitu ya?

Pertanyaannya: siapa sih yang menemukan unsur sexual explicitness di foto bersejarah ini? Apa iya foto sejarah gitu bikin orang ngiler?

Ngiler sama foto sejarah ini? Terlalu…

Kalau dipikir-pikir, sensor semacam ini malah makin menunjukkan ketakutan orang terhadap belahan dada atau tubuh perempuan ya. Semakin sulit untuk membedakan antara pengetahuan, pornografi, dan erotisme.

Jangan-jangan nanti pelajaran biologi tentang organ seksual perempuan juga dihapus dari kurikulum karena dianggap mengeskpos bagian tubuh wanita 🙁

Lagipula, apa iya foto sejarah macam gitu bikin orang ngiler dan berfantasi yang bukan-bukan? Keterlaluan banget kalau seperti itu. Harusnya kita berpikir ulang. Dulu saja orang mengganggap hal semacam itu lumrah atau biasa. Mereka tidak mengumbar dada karena sengaja ingin merangsang atau membuat orang yang melihatnya terangsang. Mereka tidak menutup dada karena memang begitulah budaya zaman dulu di beberapa daerah di Indonesia. Dan kita yang sekarang sudah hidup di zaman berbeda (dengan budaya yang berbeda pula), punya foto ini yang terus mengingatkan kita tentang siapa sebenarnya nenek moyang kita zaman dulu.

Kalau masih ada yang ngiler ngelihat foto itu, berarti salah di orangnya. Bukan di foto atau yang mengunggah foto! Dear Facebook, semoga bisa lebih hati-hati dan nggak asal “sensor” lagi!