Jika kamu menonton berita atau membuka media sosial pagi ini, kamu tentu tahu apa yang terjadi di Paris. Jumat sore, 13 November 2015 waktu setempat, enam titik berbeda di ibukota negara Prancis itu menjadi target serangan teror. Tercatat lebih dari 120 orang tewas akibat serangan terkoordinir ini. Pasukan militer dikerahkan untuk menjaga kondisi jalanan, seluruh perbatasan Prancis ditutup untuk mencegah orang keluar-masuk, dan untuk pertama kalinya sejak tahun 2005, pemerintah Prancis menetapkan jam malam untuk penduduknya.

ISIS mengklaim mereka ada di balik teror ini. Sementara itu — termasuk mungkin di news feed Facebook dan Twitter-mu — netizen di seluruh dunia menyerukan toleransi antar umat beragama dan penolakan terhadap Islamofobia.

Tapi tidakkah kamu ingin tahu reaksi warga Paris sendiri pada kejadian ini? Di bawah ini, Hipwee menerjemahkan sebuah postingan di Medium dari seorang warga Paris untukmu.

#JeSuisParisien #PrayForParis

Jalan di sekitar Istana Presiden yang diblok via medium.com

Oleh @FXPasquier

Advertisement

PARIS, 13/11/2015 – Sore ini, sebuah rute menuju rumah saya diblokir. Saya pun bertanya pada polisi: “Ada apa ini?”

“Kita sedang diserang. Ada penembakan di beberapa lokasi di Paris dan sebuah ledakan terjadi di sekitar Stade de France. Bapak Presiden juga harus dievakuasi.”

Segera saya buka Twitter: ini dia, kejadian yang benar-benar tidak ingin saya dengar pelan-pelan menampakkan faktanya.

Tangis saya hampir pecah. Saya shock, benar-benar gagal paham. Orang-orang sedang menikmati malam Sabtu mereka — yang tentu hak mereka sepenuhnya — dan tiba-tiba, begitu saja, berkat terorisme yang tak masuk akal, hidup mereka berakhir.

Kita masih tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas serangan ini [postingan ini naik sebelum ISIS mengaku bertanggung jawab, red]. Tak peduli firasat atau kecurigaan apapun yang kita punya, tak ada yang bisa menjustifikasi kekerasan ini. Ideologi apapun, Tuhan yang manapun, atau permainan politik seperti apapun tidak layak menjadi pembenaran hilangnya nyawa orang-orang tak berdosa. Kita semua sama-sama manusia, dan –jika Tuhan itu ada — kita diciptakan oleh Tuhan yang sama. Saya dan kamu, kita harus melakukan sesuatu.

Sens critique versus rasa takut

Stade de France setelah insiden ledakan via theworldgame.sbs.com.au

Saya sangat mencintai negeri saya. Saya mencintai pendidikan khas Prancis yang kami terima; pendidikan yang selalu mengedepankan pentingnya pola pikir kritis terhadap fenomena apapun. Kami menyebut pola pikir ini: sens critique. Kami diajarkan untuk selalu menggunakan sens critique dalam kehidupan sehari-hari, untuk berhati-hati terhadap pendapat pribadi yang kita miliki. Agar pikiran saya selalu terbuka, saya selalu berusaha banyak membaca — terutama tentang sejarah, sastra, dan budaya orang-orang dari latar belakang berbeda. Tak jarang opini pribadi saya berubah karena hal baru yang saya pelajari. Tak jarang pula, kepercayaan yang saya pegang selama ini ditantang oleh fakta baru yang saya temui.

Aksi teror yang baru saja terjadi di Paris adalah tantangan bagi sens critique kita bersama. Dan saya takut kali ini kita tak mampu mempertahankannya. Saya mohon, kepada saudara saya sesama warga Prancis, serta kepada semua orang di dunia, sungguh — pertahankanlah sens critique ini apapun yang terjadi.

Sekarang, saya punya ketakutan besar.

Reaksi warga Paris di bulan Januari tahun ini, setelah aksi teror yang menewaskan 11 orang di kantor Charlie Hebdo via www.al.com

Saya takut bahwa aksi teror ini akan mencabut hak-hak dan kebebasan individu — atas nama “keamanan negara”. Saya takut aksi teror ini akan memicu ketakutan tak rasional dan kekerasan terhadap para pendatang, sementara nenek moyang mereka turut berkontribusi membentuk Prancis yang sekarang. Saya takut pada keputusan pemerintah atau permainan politik yang mungkin akan dipicu oleh ketakutan-ketakutan ini. Saya takut kita akan menambah beban kerja pasukan Prancis, yang sekarang sudah dikerahkan sedemikian rupa di Suriah dan Afrika. Saya takut kehilangan tetangga, teman, dan keluarga saya karena mereka bisa terbunuh kapan saja.

Tapi terutama, saya takut kita semua akan kehilangan sens critique, dan jatuh dalam fanatisme yang sama dengan yang akhirnya membunuh ratusan orang tak berdosa di Paris sore ini.

Siapapun kamu, saya mohon: jangan biarkan rasa gusar dan marah menghancurkan kemanusiaanmu. Selalu ada hal baru untuk dipelajari, ilmu baru untuk diakrabi. Tidak ada kepercayaan atau pendapat pribadi apapun yang sudah pasti benar — dan tentunya tidak ada kepercayaan apapun yang bisa menjustifikasi tindak kekerasan.

Jika akal sudah tidak bisa melunakkan hatimu, lihatlah saya; tak peduli seberapa marahpun kamu, kita tetap saudara sesama manusia. Saya menyayangimu karena itu, tak peduli apapun yang kamu lakukan — sebagaimana saya mencintai semua orang yang sudah kamu bunuh.

Hari ini, je suis parisien et je prie pour Paris — saya adalah penduduk Paris dan saya berdoa untuk Paris

Reaksi warga Paris setelah serangan via www.zeit.de

Bersama saudara saya sesama orang Paris, sesama penduduk Prancis, dan sesama penduduk dunia, kita akan memperingati mereka yang sudah jatuh tanpa dosa — kita akan berjalan bersama dan menjadi kuat karena satu sama lain. Kita tak boleh lupa: kata terakhir dalam motto negeri kita adalah “Persaudaraan”.

Aksi teror ini membuat saya takut. Tapi saya punya asa. Jadi saya, tak akan takut selama-lamanya.