Awal agustus ini, Saleha Juliandi seorang penulis berinisiatif untuk membuat petisi berisi permohonan kepada Presiden Jokowi dan Kapolri untuk memperkarakan orang tua yang memberi izin anak-anaknya berkendara sebelum cukup usia. Latar belakang petisi ini cukup menyedihkan. Dua orang kawan Saleha ditabrak oleh sepeda motor yang dikendarai dua anak dibawah umur. Satu kawannya mengalami trauma otak, sementara yang lainnya meninggal dunia.

Masih ingat kasus kecelakaan mobil putra Ahmad Dhani yang menewaskan 7 orang di tahun 2014 lalu? Nyatanya, di dunia perlalu-lintasan Indonesia, kasus Dul bukan kasus pertama apalagi satu-satunya kecelakaan lalu lintas oleh pengendara di bawah umur. Di tahun 2015, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara anak mencapai 290 kasus yakni peningkatan 14% dari tahun sebelumnya.

Secara hukum, izin mengemudi ada batasan usia minimal, yaitu 16 tahun untuk SIM C (motor) dan 17 tahun untuk SIM A (mobil). Namun pada praktiknya, kini jalan raya dipenuhi pemandangan anak-anak kecil mengendarai motor yang bahkan jauh lebih besar dari dirinya.

Entah apa alasannya anak-anak belia mengendara. Katanya bentuk kemandirian, tapi mungkin juga untuk gaya-gayaan

Apa cuma buat gaya-gayaan? via tikitakablog.wordpress.com

Kita yang tumbuh besar di era yang berbeda, tentu bertanya-tanya. Dulu anak-anak sekolah cukup mengendarai sepeda atau naik angkutan umum. Saat sekolah dasar, seringnya juga jalan kaki ramai-ramai dengan teman sebaya. Lantas apakah perkembangan zaman yang menuntut anak-anak untuk berkendara sebelum usianya? Apakah demi kemandirian ataukah supaya dianggap keren yang mengikuti perkembangan zaman semata?

Sikap permisif orang tua juga harus dipertanyakan. Apa kasih sayang hanya bisa diwujudkan dengan membiarkan anak berbuat semaunya?

Advertisement

Di mana peran orang tua? via www.kompasiana.com

Akses anak-anak dibawah umur untuk berkendara di jalan raya ini tentu tak bisa dilepaskan dari peran orang tua. Karena meskipun aturan hukum sudah jelas, tapi bantuan orang tua dalam mengarahkan anak-anaknya jelas sangat dibutuhkan. Sayangnya kini justru banyak orang tua yang bersikap permisif untuk menuruti apapun kemauan sang anak. Minta HP canggih, dituruti. Minta diajari motor dituruti. Dan pada akhirnya, kebebasan yang diminta. Termasuk untuk berkendara sebelum waktunya.

Berkendara di jalan raya tak hanya butuh skill, tapi juga kedewasaan. Ini jauh lebih penting dari sekadar jago nyalip dan jalan zig-zag

Berkendara di jalan raya tak hanya butuh skill, tapi juga mental via hondamitrajaya.com

Berbagi jalan dengan ribuan orang lainnya jelas bukan hal sederhana. Karena itu ada serangkaian rambu yang harus dipahami dan dipatuhi. Ada tuntutan sikap dewasa dan pengambilan putusan yang cepat, tepat, dan bijak pada situasi tertentu. Kondisi psikologis juga menjadi penentu keselamatan di jalan raya. Karena itu jugalah ketentuan batasan usia dibuat, agar pengendara selamat. Tahu bagaimana menjalankan kendaraan saja bukan alasan untuk memperbolehkan seorang anak berkendara di jalan raya.

Tak hanya soal izin orang tua yang longgar, surat izin mengemudi pun bisa didapat dengan mudah. Asal ada uang, segala persyaratan seringkali jadi formalitas

SIM nembak membuat pengendara ya cuma ‘bisa-bisaan’ via bandung.merdeka.com

Tapi meski ada hukum yang jelas sekalipun, nyatanya banyak celah yang bisa ditikung. Serangkaian tes sulit, baik tulis ataupun praktik, untuk menguji kemampuanmu naik kendaraan kini hanyalah formalitas. Surat Izin Mengemudi bisa didapatkan dengan mudah, asalkan bisa menjalankan motor dan bisa membayar biaya yang lebih tinggi. Barangkali karena itu juga banyak pengendara yang cuma ‘bisa-bisaan’. Masih sering lupa aturan lampu sen kanan tapi belok ke kiri, tetap percaya diri saja melaju di jalan raya. Tidak sadar bahwa perbuatannya tidak hanya membahayakan diri sendiri, tapi juga orang lain.

Atau barangkali, kurang buruknya sistem transportasi umum di Indonesia, membuat orang tua terpaksa mempercayai anaknya untuk berkendara


Sementara itu, kisah lain datang dari kota kecil di bagian selatan pulau Jawa. Seperti yang disiarkan oleh KompasTV, Di Kabupaten Trenggalek, anak-anak SD mengendarai motor untuk pergi ke sekolah. Orang tua yang sibuk bekerja dan minimnya transportasi umum sementara lokasi sekolah yang cukup jauh, membuat orang tua terpaksa membiarkan anaknya yang masih sekolah dasar untuk ke sekolah sendiri meskipun ada rasa was-was juga.

Yang demikian ini menimbulkan lebih banyak pertanyaan lagi. Sikap permisif orang tua jelas salah. Namun, persoalan fasilitas transportasi yang aman dan nyaman tentu perlu dicarikan solusi. Sehingga orang tua bisa melepas anaknya memakai fasilitas umum dengan hati tenang. Sementara lokasi-lokasi yang jauh dari ibu kota juga punya hak yang sama untuk mendapat fasilitas transportasi yang sama sempurnanya.

Persoalan transportasi yang kurang memadai dan insfrastruktur yang tidak merata memang masih menunggu solusi yang paling tepat. Namun setidaknya, kita-kita sebagai calon orang tua, bisa belajar banyak hal dari peristiwa yang sudah-sudah. Dunia boleh semakin maju dan teknologi pun semakin berkembang. Namun sebagai calon orang tua, kita harus lebih pintar.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya