Dr. Zakir Naik memang figur yang penuh kontroversi. Meski berhasil memikat jutaan orang dengan dakwahnya, ulama yang satu ini juga dituduh menyebarkan ujaran kebencian dan malah mendukung aksi terorisme. Tuduhan itu salah satunya dilayangkan oleh pemerintah negaranya sendiri, India. Badan Penyelidikan Nasional (NIA) India bahkan sudah menetapkan Naik sebagai tersangka atas kasus pendanaan terorisme dan pencucian uang. Karena sudah tiga kali dipanggil dalam penyelidikan dan tidak pernah muncul, pemerintah India akhirnya mengambil langkah ekstrem dengan mencabut paspor Dr. Zakir Naik.

Pencabutan paspor seseorang itu tentu bukan perkara sepele. Bahkan bisa dibilang dengan begitu, berarti seseorang kehilangan kewarganegaraanya. Memang banyak sih negara yang sepertinya sudah menawarkan ulama ini kewarganegaraan baru, tapi tetap saja berita ini menghebohkan dunia. Walaupun jarang, dari masa ke masa memang ada sejumlah orang yang kehilangan status warga negaranya alias nggak punya negara. Bukan cuma kayak kasus Dr. Zakir Naik ini sih, simak deh alasan-alasan lain orang kehilangan kewarganegaraan yang sudah Hipwee News & Feature kumpulkan.

Zakir Naik kini kehilangan kewarganegaraannya setelah pemerintah India memutuskan untuk mencabut paspornya

Dr. Zakir Naik via www.hindustantimes.com

Soal dugaan kasus terorisme, ujaran kebencian, bahkan hingga pencucian uang ini masih menjadi perdebatan di kalangan netizen. Zakir Naik sendiri membantah dirinya terlibat dengan terorisme. Sejak tahun lalu, ia meninggalkan India karena telah diterbitkannya surat penangkapan dari pemerintah India. Selama setahun, ia tetap berceramah ke berbagai negara termasuk Indonesia. Bahkan pada April lalu, ia mengadakan kuliah umum seperti di Bandung, Bekasi, dan Yogyakarta serta masih dihadiri ribuan orang.

Pencabutan paspor Zakir Naik oleh pemerintah India kemudian membuat Zakir Naik kehilangan kewarganegaraan. Saat ini ia pun sulit untuk pergi dari suatu negara ke negara lainnya dan ruang geraknya semakin terbatas. Hal ini menyusul karena mangkirnya Zakir Naik dari pihak berwajib di India untuk menjalani pemeriksaan.

Kasus kehilangan kewarganegaraan kaya Zakir Naik ini termasuk involuntary loss of citizenship atau secara paksa terjadi

Advertisement

Paspor ditolak, hukum bertindak via theconversation.com

Kehilangan kewarganegaraan secara paksa umumnya karena terjerat kasus hukum atau seseorang terlibat kasus dengan negara. Sebagai contoh kehilangan kewarganegaraan yang dialami Zakir Naik dilakukan secara paksa dengan pencabutan paspor (karena yang bersangkutan berada di luar negri) atau disebut dengan involuntary loss of citizenship. Yang bersangkutan jadi nggak punya kewarganegaraan dan nggak bisa tinggal di negara manapun ataupun melakukan perjalanan ke negara lain.

Nggak cuma karena jeratan kasus hukum, kehilangan kewarganegaraan juga bisa karena prestasi

Bersumpah ke negara lain, “selingkuh” tingkat kewarganegaraan via en.wikipedia.org

Kehilangan kewarganegaraan sangat mungkin terjadi. Nggak hanya untuk orang-orang yang dinyatakan bersalah atau terjerat kasus hukum. Umumnya kehilangan kewarganegaraan ini ada dua macam, yaitu secara sukarela atau secara paksa. Menghilangkan kewarganegaraan secara sukarela biasanya dipicu ketika seseorang memiliki dua kewarganegaraan, atau dihadiahi naturalisasi oleh kewarganegaraan lain karena telah berjasa dan berprestasi di negara tersebut.

Maka ia berhak melepas kewarganegaraan asal dan pindah jadi warga negara yang baru. Atau secara sengaja, ia ingin melepas kewarganegaraan. Tentu tergantung aturan di masing-masing negara.

Lucunya ada orang-orang di perbatasan dan kehilangan kewarganegaraan Indonesia, tapi tetap ikut pemilu lho!

Pulau di ujung utara Indonesia via diditsetyopamuji.files.wordpress.com

Terlepas dari kasus yang menyebabkan seseorang kehilangan kewarganegaraan, ada hal lucu yang dialami orang-orang di perbatasan menyangkut kewarganegaraan. Beberapa tahun silam pemerintah sempat bingung dengan orang-orang yang tinggal di Sangir. Karena harga kakao lebih mahal di Filipina, banyak yang kemudian pindah ke Davao untuk cari nafkah. Mereka pun disebut sapi (sangir Filiphina).

Secara hukum mereka kehilangan kewarganegaraan Indonesia dan nggak bisa begitu saja menjadi warga negara Filiphina. Namun lucunya, ketika pemilu mereka berhak memilih, padahal KTP sudah tidak berlaku. Hal ini yang memicu pemerintah untuk lebih peduli terhadap kaum yang tinggal di perbatasan. Seperti orang Sangir yang tinggal di ujung utara Sulawesi.

Nggak kebayang bagaimana sulitnya ketika seseorang nggak punya kewarganegaraan. Selama ini negara dengan segala macam aturannya juga bisa memberikan kita tempat bernaung dan membuat kita tercatat sebagai anggota dari suatu kelompok besar bernama negara. Orang yang nggak punya kewarganegaraan terkadang sulit untuk tinggal, selalu ditolak dari negara asalnya dulu dan tidak bisa selamanya menetap di negara lain.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya