Terbentang dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beribu-ribu pulau, suku, dan bahasa, sudah seharusnya tiap-tiap warga Indonesia paham betul betapa pentingnya menghargai perbedaan supaya bisa hidup berdampingan. Termasuk persoalan agama. Seperti yang diketahui bersama, isu agama tampaknya jadi makin sensitif dan meruncing beberapa tahun belakangan ini. Orang jadi sering mengkritik dan menghakimi orang lain dengan mengatasnamakan agama. Toleransi antar umat beragama yang dulu seringkali digembar-gemborkan jadi kekuatan negeri ini, sekarang tampaknya jadi barang yang begitu mahal.

Seperti kejadian Sabtu (23/9) kemarin, lagi-lagi jagat maya dihebohkan dengan video yang mempertontonkan seorang pria ngamuk dengan membawa kapak dan gergaji besi. Berdasarkan keterangan dalam video tersebut, pria yang belakangan diketahui bernama Nasoem Sulaiman alias Joker, marah lantaran merasa terganggu dengan kegiatan ibadah kebaktian yang sedang berlangsung di selasar sebuah rusunawa. Hipwee News & Feature telah merangkum sejumlah fakta soal kejadian yang membuat beberapa anak kecil di sana trauma. Yuk, simak!

Joker yang juga penghuni rusunawa itu merasa terganggu dengan riuhnya suara anak-anak yang sedang melakukan ibadah kebaktian di selasar lantai 3 blok F


Sabtu sore kemarin menjadi hari yang cukup mencekam bagi beberapa anak yang sedang melaksanakan kegiatan ibadah kebaktian di Rusunawa Pulogebang. Gimana tidak? Baru sekitar 10 menit ibadah berlangsung, seorang pria berparas sangar marah-marah sambil membawa-bawa kapak dan gergaji besi. Pria yang diketahui bernama Joker itu ingin acara tersebut segera bubar. Kegiatan ibadah anak-anak itu digelar di selasar lantai 3 blok F Rusunawa Pulogebang, Jakarta. Dalam video yang beredar, beberapa anak bahkan terlihat menangis karena ketakutan.

Kabarnya Joker saat itu baru pulang dari bekerja sebagai tukang bangunan. Mendengar anak-anak yang berisik saat kebaktian, ia pun emosi

Joker seperti kesetanan via megapolitan.kompas.com

Advertisement

Kepada Kompas, Kepala Unit Pengelola Rusunawa Pulogebang Ageng Darmintono mengatakan, selain sebagai penghuni tetap rusun tersebut, Joker saat itu memang terdaftar sebagai tukang yang mengerjakan renovasi di lantai 6. Saat baru pulang, ia mendapati suara anak-anak yang sedang teriak-teriak. Karena merasa terganggu, spontan ia langsung turun dan berusaha membubarkan ibadah tersebut dengan berteriak marah serta masih membawa alat-alat kerjanya. Selain membawa benda tajam, ia juga beberapa kali melontarkan kata-kata kasar, cacian, dan sempat menyinggung Ahok.

Kejadian ini kabarnya sudah ditangani pihak berwajib. Joker pun sudah mengatakan menyesal dan meminta maaf

Sudah berjanji via www.suarasosmed.com

Sehari setelahnya, tepatnya Minggu (24/9) kemarin, Kepala Unit Pengelola Rusun Pulogebang, Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman DKI Jakarta, pihak kepolisian, dan tokoh masyarakat setempat telah melakukan mediasi untuk membahas masalah ini. Apalagi seperti dikonfirmasi Suara Pembaruan, kejadian pembubaran sepihak seperti itu sudah berlangsung tiga kali. Menurut Ageng Darmintono, Kepala Unit Pengelola Rusun, Joker mengaku jika dirinya menyesali perbuatannya. Permasalahan ini pun dianggap selesai setelah Joker dan warga setempat sepakat berdamai. Tak tanggung-tanggung, pihak kepolisian juga mengancam akan mengeluarkan Joker dari rusun kalau terbukti melakukan hal serupa lagi.

Meski sudah sepakat berdamai, permasalahan soal toleransi ini agaknya masih jauh dari kata selesai. Jelas jadi PR yang tak mudah bagi pemerintah dan para orang tua

Kelompok intoleran merajalela via www.kompasiana.com

Miris adalah satu kata yang bisa digunakan untuk menggambarkan kejadian serupa di atas. Sudah sejak kecil kita disuguhkan buku-buku pelajaran yang membahas bab soal toleransi antar umat beragama. Karena memang kita hidup di negara dengan beragam suku, budaya, agama, dan ras. Tapi kenyataan yang terjadi di kehidupan nyata justru sebaliknya. Tak hanya soal agama. Kasus-kasus menyangkut SARA lainnya juga makin sering terdengar. Bahkan pernah beredar video anak-anak SD yang sudah diajarkan membenci kaum tertentu dengan memasukkan ujaran kebencian dalam jargon-jargonnya. Dunia macam apa yang sedang kita diami sekarang ini?

Alih-alih menegur secara sepihak atau main hakim sendiri, sebaiknya kalau memang ada aktivitas yang mengganggu di sekitarmu, laporkan baik-baik ke pihak yang lebih berwenang. Biar gimanapun keputusan main hakim sendiri itu nggak bisa dibenarkan sampai kiamat sekalipun! Semoga Indonesia bisa semakin damai ya..

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya