Bagi seorang ibu, anak rasanya lebih berharga dari dunia dan seisinya. Tak terkecuali bagi seorang public figure seperti Nafa Urbach. Baru-baru ini Nafa jadi headline berita setelah ia meluapkan emosi dan amarahnya di media sosial. Alasannya? Ia memergoki sejumlah komentar tidak senonoh tentang putri semata wayangnya, Mikhaela Lee Juwono, dalam sebuah pemberitaan. Di bawah pemberitaan online tentang kecantikan dan prestasi putrinya, Nafa mendapati beberapa akun melontarkan komentar yang sarat dengan kode-kode pedofilia. Meski mungkin sebagian orang mungkin menganggap beberapa komentar di media sosial itu hal sepele, tidak begitu halnya dengan Nafa.

Mengajak semua orang, khususnya ibu-ibu untuk memerangi pedofilia via showbiz.liputan6.com

Walaupun beberapa waktu lalu sempat menghebohkan Indonesia, warga tampaknya masih memiliki kesadaran yang rendah terhadap masalah pedofilia ini. Sepertinya kita memang harus mulai waspada seperti Nafa. Meski awalnya hanya komentar di media sosial, siapa yang bakal tahu nantinya akan berkembang seperti apa. Komentar seperti apa sih yang harus diwaspadai? Yuk kita simak beitanya bareng Hipwee News & Feature berikut.

Nafa sendiri awalnya mengaku kurang paham, tapi komentar ‘Loli’ itu sangat meresahkan. Loli itu jadi semacam kode untuk menyebut anak-anak yang kerap kali jadi target kaum pedofil

Nafa sudah mencatat dan berjanji bakal mencari tiap akun yang berkomentar seperti itu via www.instagram.com

Pada unggahan Nafa Urbach di Instagram, ia mengatakan bahwa ada orang-orang pedofil yang sudah berani berkomentar tidak senonoh di pemberitaan soal putrinya yang ditulis sebuah laman media online. “Loli” merupakan sebutan yang sering digunakan oleh pedofil untuk menyebut seorang anak yang ingin mereka incar. Istilah ini berasal dari kata “Lolita” yang juga berarti sama.

Advertisement

Istilah ini merupakan istilah yang sangat sensual bagi kaum pedophil dan bisa berarti juga bahwa ia ingin meniduri anak yang disebut loli. Tidak heran, Nafa Urbach merasa ini merupakan sebuah pelecehan terhadap anaknya yang masih berusia 6 tahun tersebut. Ia pun mengunggah komentar-komentar tak senonoh itu di akun Instagramnya. Komentar itu bahkan tidak hanya satu, namun ada cukup banyak. Tidak heran jika akhirnya Nafa Urbach naik pitam.

Tindakan Nafa Urbach pun tidak hanya sebatas berkoar di media sosial, ia juga sudah menghubungi Kak Seto mengenai perkara ini

Capture percakapan Nafa Urbach dengan Kak Seto via www.instagram.com

Menanggapi komentar tidak senonoh pada pemberitaan anaknya, Nafa pun sempat membalas komentar-komentar tersebut. Dengan menggunakan akun inisial NU, Nafa Urbach membalas komentar tersebut dengan marah. Ia bahkan mengancam akan mencari orang-orang tersebut. Tindakan Nafa Urbach terbilang sangat berani karena ia juga mengajak para ibu yang bernasib sama untuk bersatu dan melawan predator anak ini. Sikapnya yang terbuka lewat sosial media ini secara tidak langsung ia juga telah menyatakan perang secara terbuka terhadap pelaku pedofilia.

Selain mencari ahli IT untuk melacak orang yang telah berkomentar tidak senonoh, Nafa juga berusaha mencari perlindungan melalui LPAI dan menghubungi Kak Seto. Nafa mengatakan bahwa ternyata di luar sana banyak para orag tua yang kurang mengerti arti “loli” dan selama ini ternyata juga sering mendapat pelecehan. Namun berhubung Kak Seto masih berada di Los Angeles, maka Nafa Urbach baru bisa menemuinya minggu depan dan mewakili para ibu di seluruh Indonesia untuk memberantas pedofilia.

Pedofilia nggak bisa dianggap sepele. Apalagi di zaman digital seperti sekarang, kita harus ekstra hati-hati dan mengenali ciri-cirinya

Kesadaran dan pengetahuan soal pedofilia masih minim via www.lavocedeltrentino.it

Pedofilia tidak bisa lagi dianggap sebagai kasus yang bisa dikesampingkan. Dalam kasus Nafa Urbach sendiri, nampak banyak para orang tua yang sering mendapatkan perlakuan hampir serupa terhadap anaknya, namun mereka mengaku tidak mengetahui apa itu “Loli”. Hal ini menandakan bahwa kepedulian dan pengetahuan akan pedofilia di Indonesia masih sangat minim, sementara pedofilia sendiri makin berkembang dan makin rawan.

Seringnya kasus pedofilia ini diiringi dengan tindak kekerasan, bahkan tak jarang hingga pembunuhan. Pedofilia bagaimana pun tidak bisa diterima secara sosial maupun moral. Kemudahan akses media sosial juga berimbas pada mudahnya para pelaku berkomunikasi dan saling bertukar informasi. Beberapa saat yang lalu bahkan ditemukan grup Facebook yang beranggotakan para pelaku pedofilia yang isi percakapannya cukup meresahkan masyarakat.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya