Belakangan nama Marissa Haque kembali hits di media sosial Twitter. Pasalnya istri penyanyi Ikang Fawzi yang kini menjadi dosen itu membuat beberapa cuitan yang berakhir twitwar. Awalnya, Marissa Haque terlibat twitwar dengan sutradara Joko Anwar mengenai Pilkada DKI. Selanjutnya, pemilik dua akun twitter @HaqurMarissa dan @Haque_Marissa itu sempat ngecengin Chico Hakim soal statusnya sebagai lajang.

Seperti yang kita tahu Chico Hakim adalah mantan suami Wanda Hamidah. Saking terkejutnya disindir kalah bercinta oleh Marissa Haque, Chico Hakim sampai berharap akun tersebut sedang dibajak. Bukan cuma itu, akibat sindirannya yang dianggap keluar konteks, itu, Marissa Haque juga menuai banyak hujatan dari netizen.

Terakhir Marissa Haque terlibat twitwar dengan akun @lunaticcedric, yang merupakan menantu dari Christine Pandjaitan, penyanyi senior yang dulu pernah menjalin hubungan dengan Ikang Fawzi. Dalam rentetan perang twit itu, Marissa Haque menuduh Christine Pandjaitan belum move on dari Ikang Fawzi dan membuat lagu yang berkisah tentang masa lalu.

Selain itu, Marissa Haque juga terlihat sangat menggarisbawahi dan membanggakan rumah tangganya dengan Ikang Fawzi yang sudah berjalan 31 tahun. Ya memang mengarungi rumah tangga selama 31 tahun adalah prestasi yang membanggakan. Tapi apakah seperlu itu untuk diumbar di media sosial?

Cuitan Marissa Haque mengundang respon netizen beragam. Ada yang tertawa, mengritik, dan ujung-ujungnya berantem sendiri

Advertisement

Saat Marissa Haque menyindir Cristine Pandjaitan belum move on dari sang suami, netizen justru mempertanyakan sebaliknya: apakah Marissa Haque merasa insecure karena Ikang Fawzi belum move on dari sang mantan pacar. Apalagi sebelumnya, Marissa Haque pernah melaporkan acara Rumpi No Secret ke KPI karena mengulik soal masa lalu Christine Pandjaitan dan Ikang Fawzi.

Ah, seperti itulah media sosial. Daripada menyimak kasus yang terjadi, terkadang lebih seru menyimak komentar netizen yang beragam. Ada yang menyesalkan komentar-komentar Marissa Haque, ada yang memberi dukungan, dan ada yang berantem sendiri.

Media sosial agaknya menjadi tempat pelarian keluh kesah. Apa yang di-share terkadang harusnya jadi konsumsi pribadi saja

Overshare via www.rd.com

Mengapa Marissa Haque menyindir Christine Pandjaitan soal move on dari sang mantan barangkali membuat kita bertanya-tanya. Bukankah itu urusan pribadi dan rumah tangga, kenapa pula harus disebar-sebarkan? Tapi Marissa Haque bukanlah yang pertama. Selama sudah banyak drama di media sosial yang serunya mengalahkan sinetron-sinetron di layar kaca. Mulai dari kisah perceraian Athalarik Syah dan Tsania Marwa yang mondar-mandir di media. Curhatan Tsania Marwa di akun IG-nya membuat publik kian bertanya, sebenarnya ada apa?

Lalu ingat juga soal seorang dokter yang posting soal kisah perselingkuhan suaminya. Serangan demi serangan yang dilancarkan kepada selingkuhan suaminya, secara tak langsung membeberkan perkara rumah tangga. Apa yang seharusnya diselesaikan kedua belah pihak menjadi konsumsi netizen yang gemar ikut berkomentar atas segala urusan.

Banyak alasan orang jadi overshare di media sosial salah satunya adalah tempat mengekspresikan diri. Tak bisa disangkal, terkadang kita butuh panggung bukan?

Sarana ekspresi diri via ampervize.wordpress.com

Media sosial barangkali sudah ada sejak era Friendster dahulu. Namun barangkali tren orang curhat dan bertengkar di medsos baru booming beberapa tahun belakangan. Memang media sosial adalah tempat yang mudah bagi setiap orang untuk mengekspresikan dirinya.

Ada yang kesulitan mencari teman di dunia nyata, namun lebih percaya diri di dunia maya. Di media sosial, dia yang bukan politisi, artis, atau apapun yang punya banyak mimbar, bisa mengutarakan pendapat dan mengekspresikan dirinya. Media sosial juga menjadi cara seseorang menunjukan jati diri. Love dan like serta share di media sosial punya banyak makna, salah satunya adalah menunjukkan bahwa “ini lho aku” atau “ini aku banget“. Kamu juga begitu?

Beberapa yang lain “tepaksa” curhat di medsos untuk cari dukungan. Memang jejaring sosial adalah layar sempit yang luasnya tanpa batas

Curhatan Tsania Marwa di IG via forum.detik.com

Betapa melegakannya bisa mencurahkan uneg-uneg dalam hati. Sayangnya, tidak semua orang bisa melakukannya. Ada yang memang tak punya seseorang yang cukup dipercaya untuk bercerita. Ada juga yang tak punya nyali untuk menceritakan isi hatinya, sebab isi hati memang bukanlah hal yang sederhana. Barangkali karena itulah orang memilih media sosial sebagai tempat curhat yang aman sekaligus tempat mencari dukungan. Saat bu dokter yang membongkar perselingkuhan suaminya, barangkali sebenarnya dia sedang mencari kekuatan dan dukungan untuk menyelesaikan urusan rumah tangganya.

Saat Tsania Marwa curhat di medsos soal perlakuan suaminya, barangkali itulah satu-satunya cara untuk “bicara” kepada Athalarik Syah. Sebab katanya sang suami memblokir semua media komunikasi sekaligus akses pertemuan dengan kedua buah hati. Yah, kita tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, jadinya suka menduga-duga bukan? Sekilas media sosial memang hanya kehidupan di layar gadget. Tapi jangkauannya sangat luar biasa, dan bisa menghimpun opini ataupun dukungan.

Tapi sharing sesuatu di media sosial juga harus dipikirkan. Sebab di era digital ini agaknya berlaku prinsip “you’re what your share on your timeline”

You are what you share via www.adweek.com

Memang melegakan punya tempat curhat dan tempat ekspresi diri yang “aman”. Tapi seberapa jauh kita boleh blak-blakan di media sosial? Masalahnya, masyarakat era digital selama ini punya kebiasaan terlalu cepat mengambil kesimpulan. Identitas seseorang seringkali diasosiasikan dengan apa yang dia tulis di media sosialnya.

Hanya membuka dan stalking timeline-nya selama beberapa jam, kita bisa percaya diri menyebut “si dia” itu orang seperti apa. Dalam politik, dia yang suka  mengritik si A bisa dengan mudah dianggap sebagai pendukung si B. Padahal terkadang bersama selama puluhan tahun pun belum tuntas untuk memahami seseorang, jadi bagaimana kita bisa paham hanya bermodal kicauan di media sosial?

Reputasi bermain-main di media sosial. Jadi meski “berbagi” itu melegakan, ada baiknya selalu ada batas apa yang boleh dan tidak dibagi ke dunia luar

Reputasi dipertaruhkan via letsreadmagazine.com

Awalnya media sosial dibuat untuk sekadar “having fun” dengan komunikasi dan menjalin pertemanan. Tapi belakangan sepertinya medsos menjadi lebih serius dari itu karena sering dijadikan rujukan untuk menilai kepribadian. Kamu tidak tahu kan kalau bosmu bisa saja mengulik timelinemu untuk melihat kamu ini orang seperti apa? Dan kamu yang sering gagal wawancara, bisa saja karena tim HRD mendapati hal-hal yang tak sesuai di timeline media sosialmu. Gebetan potensial bisa saja berubah pikiran saat tahu apa yang kamu tulis di media sosialmu. Memang sekarang cuitan, tapi efeknya bisa panjang.

Tentu media sosial bukan sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Media sosial bisa menjadi tempat yang tepat untuk berbagi, mencari teman, bahkan mencari peruntungan seperti akun-akun online shop. Tinggal bagaimana kita yang memakainya. Menentukan batas apa yang boleh/tidak boleh dishare itu mutlak perlu. Pertama, karena tak semua orang mau menyimak kehidupan pribadimu. Kedua, ingat bahwa timelinemu menentukan reputasimu.

Media sosial memang sebuah ruang dengan banyak sekat. Setiap sekat ada kepentingan dan tujuan. Kita yang datang berkunjung, harus pandai-pandai memilah mana yang harus dikunjungi, dan mana yang harus dilewati.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya