Kabar baik datang dari dunia pendidikan Indonesia. Seorang pemuda bernama Grandprix Thomryes Marth Kadja sukses mendapatkan gelar Doktoralnya di usia yang baru menginjak 24 tahun. Tentu ini sesuatu yang membanggakan mengingat biasanya gelar ini didapat oleh mereka yang sudah ada di rentang usia 30 tahun ke atas. Atas prestasinya ini, Grandprix didapuk menjadi Doktor Indonesia termuda oleh MURI, mengalahkan rekor sebelumya.

Capaian ini diraih setelah pada Rabu, 6 September 2017 lalu, Grandprix sukses menggelar sidang desertasi tertutup dan dilanjut dengan sidang terbuka yang diadakan hari ini, Jumat 22 September 2017. Dilansir dari laman detik.com, berikut kisah Granprix hingga bisa menjadi Doktor di usia yang masih sangat muda. Biar kita juga tambah semangat belajar, yuk simak kisah pemuda dengan prestasi luar biasa ini bareng Hipwee News & Feature!

Mengambil jurusan Kimia di Universitas Indonesia (UI) untuk jenjang S1-nya, Grandprix mengikuti program PMDSU untuk S2 dan S3 sekaligus

S2 dan S3 hanya dalam waktu empat tahun saja! via anekainfounik.net

Usai lulus S1 dari jurusan Kimia di UI, Grandprix sebenarnya mendapatkan tawaran beasiswa untuk program Magister di Korea. Namun, ia tolak dan lebih memilih mengambil program PMDSU (Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul) yang digulirkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Program ini memungkinkan sarjana unggulan bisa menyelesaikan program S2 dan S3 dalam kurun waktu empat tahun. Sesuai dengan jurusan Kimia yang diambil, pilihan jatuh pada ITB untuk melanjutkan studinya tersebut.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Grandprix memang telah menunjukkan keunggulannya di bidang pendidikan sejak usia dini. Sulung dari tiga bersaudara ini sudah mengenyam pendidikan sekolah dasar di usia lima tahun, kemudian melanjutkan pendidikan SMP dan kelas akselerasi di SMA. Alhasil, usia 16 tahun ia sudah berstatus sebagai mahasiswa S1.

Untuk penelitian disertasinya, Grandprix fokus di bidang Katalis dengan topik tentang zeolite sintesis, mekanisme, dan peningkatan hierarki zeolit ZSM-5 

Advertisement

Sidang tertutup Grandprix via kumparan.com

Katalis merupakan zat yang mempercepat reaksi kimia pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan. Ia menjelaskan zeolit dapat dimanfaatkan di industri petrokimia untuk minyak mentah jadi bahan bakar. Atau bisa juga digunakan sebagai biogasolin dari produksi minyak sawit dan limbah plastik menjadi bahan bakar.

“Alasannya mengambil Katalis karena sejak S1 saya sudah konsen di sini, jadi lebih mendalami. Apalagi untuk Katalis khususnya zeolit di Indonesia belum berkembang. Industri di Indonesia saja masih impor dari luar negeri,” ungkapnya pada detik.com

Ia berhasil lulus gelar doktor dengan delapan publikasi internasional dari targetnya yang hanya dua saja. Luar biasa!

Menulis jurnal via lifehacker.com

Dengan empat tahun masa studi untuk jenjang S2 dan S3, program PMDSU menargetkan dua jurnal ilmiah skala internasional, namun Grandprix justru melampauinya dengan berhasil menerbitkan delapan jurnal skala internasional dan satu jurnal nasional. Meski proses menulis jurnal memang bukanlah sebuah hal yang mudah, Grandprix mampu mengirim dua jurnal dalam setahun. Tak semuanya bisa diterbitkan. Kadang dia dikritik pedas, tak jarang juga ditolak.

Grandprix sangat berharap program PMDSU ini terus berjalan, sebab selain sebagai upaya menjawab kebutuhan ilmuwan dan doktor berkualitas yang ada di Indonesia, program ini sekaligus menjadi ajang pembuktian bahwa Indonesia juga mampu melahirkan ilmuwan-ilmuwan muda lokal, tetapi berskala internasional. Baginya penting untuk bisa berkarya dari negaranya sendiri, karena banyak lulusan luar negeri yang justru tidak produktif saat kembali ke tanah air dengan alasan pada keengganan untuk mulai beradaptasi di lingkungan dengan akses serba terbatas, berbeda dengan negara di mana mereka melanjutkan studi dulu.