Resmi per akhir Juni 2017 ini, salah satu waralaba minimarket besar di Indonesia tutup. 7-Eleven namanya. Bila kamu tinggal di Jabodetabek pasti akan mudah menemui minimarket dengan warna dominasi hijau, merah, dan oranye itu, mulai dari pinggir jalan besar hingga dekat dengan lampu merah.

Minimarket tempat nongkrong anak gaul masa ini, kini harus rela gulung tikar setelah bertahun-tahun merugi. Sedikit aneh, padahal kalau dipikir-pikir 7-Eleven punya produk-produk original. Artinya produk itu sulit ditemukan di minimarket lain seperti Alfamart atau Indomaret. Kira-kira kenapa 7-Eleven kok bisa sampai gulung tikar? Yuk simak ulasan Hipwee News & Feature!

7-Eleven atau Sevel adalah pelopor tongkrongan gaul nan murah. Tempat remaja bisa bercengkrama dan internetan meski hanya beli Aqua

Beli air mineral doang nongkrongnya lama via tirto.id

7-Eleven atau yang biasa disebut ‘sevel‘ adalah brand minimarket asal Amerika yang sudah masuk ke Indonesia sejak tahun 2009. Bukan hanya menjual barang sehari-hari, makanan, dan minuman, Sevel juga dilengkapi dengan bangku-bangku untuk duduk dan wifi gratis. Sejak saat itu, 7-Eleven menjari solusi cerdas untuk anak kekinian yang butuh tempat untuk nongkrong dan internetan. Hanya dengan membeli Aqua dan chiki, kamu sudah bisa nongkrong seharian tanpa takut diusir. 7-Eleven juga jadi tempat yang sempurna untuk titik temu saat janjian. Sedih sih karena minimarket merah, hijau, dan oranye yang menjadi saksi kegaulan kita ini harus tutup usia.

Meski di Indonesia baru ada di Jabodetabek saja, 7-Eleven punya reputasi internasional. Ada di 17 negara dengan format yang berbeda

Dibanding minimarket lain, 7-Eleven sudah tergolong tua lho. Berdiri pertama kali di Texas dengan nama Tote’m Stores di tahun 1927. Lalu pada tahun 1946 namanya diubah menjadi 7-Eleven yang merujuk pada jam operasional toko, dari jam 7 pagi sampai 11 malam. Sejak tahun 2005 Sevel sepenuhnya dimiliki oleh Seven & I Holding Co, sebuah perusahaan Jepang. Karena itu konsep 7-Eleven di Indonesia mirip-mirip dengan minimarket Jepang dengan bangku-bangku nongkrongnya. Berbeda dengan 7-Eleven lain di benua Eropa dan Amerika yang hanya jualan barang saja.

Sejak tahun 2015, Sevel memang mengalami kejenuhan. Beberapa gerainya bahkan sudah tutup lebih awal

Advertisement

Proses penutupan 7-Eleven ini memang tidak tiba-tiba. Isu kebangkrutannya memang sudah berhembus sejak lama. Bahkan di tahun 2015 sudah ada beberapa gerai yang tutup karena tidak mampu memenuhi target penjualan. Awal tahun 2017 lebih dari 30 gerai Sevel yang berhenti beroperasi. Hingga puncaknya akhir juni menjadi akhir pula bagi toko kelontong ini. Bangku penuh, tapi yang belanja sedikit. Padahal ada biaya sewa tempat dan internet yang harus dipenuhi. Wah, apa jangan-jangan kebiasaan kita beli secangkir kopi dan nongkrong dari pagi hingga petang yang membuat minimarket ini gulung tikar?

Kondisi Sevel makin parah saat muncul larangan penjualan alkohol. Poin yang membuat Sevel “beda” nyaris hilang begitu saja

7-Eleven memang punya kelebihan menjual produk-produk yang tidak dijual di minimarket lain seperti Indomaret atau Alfamaret. Salah satunya adalah minuman alkohol. Tapi sejak tahun 2015 ,melalui peraturan menteri, Indonesia melarang penjualan minuman beralkohol di toko-toko dan minimarket. Akibatnya, 7-Eleven kehilangan salah satu dagangan ‘khas’nya. Mau tidak mau, hal ini berdampak juga pada angka penjualan snack dan barang-barang lainnya.

Terlepas dari manajemen Sevel, persaingan mini market di Indonesia memang tinggi. Yang kalah pastinya terus merugi

Saingan ketat via jabar.pojoksatu.id

Terhentinya penjualan alkohol memang jadi satu soal. Tapi yang paling penting tentu kerasnya persaingan diantara minimarket dan toko-toko kelontong di Indonesia. Kita tahu ada Alfamart dan Indomaret yang sudah menjangkau hingga ke pelosok. Apalagi sekarang Indomaret juga punya Indomaret point, yang konsep mirip-mirip dengan 7-Eleven. Lalu ada pesaing asing seperti Lawson yang berasal dari Jepang dan Circle K dari Amerika. Bahkan belakangan di Jabodetabek, gerai-gerai Family Mart juga mulai bermunculan. Di ranah lokal, 7-Eleven bersaing dengan toko-toko kelontong warga yang dikelola dengan asas kekeluargaan. Alias pembeli bisa ngutang dulu saat kepepet karena sudah akrab.

Ketatnya persaingan tentu membuat pemain-pemain ini harus putar otak untuk menjadi lebih baik. Mulai dari banting-bantingan soal harga, hingga konsep-konsep unik yang bisa ditawarkan. Dari segi ini, barangkali 7-Eleven sudah buntu dan tidak bisa lagi bertahan di persaingan pasar.

Ketatnya persaingan membuat masa depan toko-toko waralaba ini pun masih dipertanyakan. 7-Eleven sudah tumbang, yang lain apa kabar?

Warung lokal semakin jarang via id.wikipedia.org

Di antara nama-nama toko warabala, barangkali Alfamaret dan Indomaret yang paling familiar. Khususnya di Pulau Jawa, Indomaret sudah hadir sampai ke daerah-daerah. Tapi di Padang, kamu nggak akan bisa menemukan Alfamaret, Indomaret, Lawson, Circle K, dan 7-Eleven lho. Pasalnya Walikota Padang melarang pendirian toko-toko waralaba ini karena dikhawatirkan mematikan pedagang lokal dan tidak memberi keuntungan pada daerah karena mereka menjual produk dari luar Padang.

Selain itu, sesuai anjuran Presiden masing-masing daerah harus menggalakan ekonomi warga dengan berbagai UKM. Untuk bisa bertahan, toko-toko waralaba ini tentu harus bisa bersinergi. Mungkin kelak Indomaret dan Alfamaret bisa menjual produk-produk lokal masing-masing daerah. Nah, menurutmu kira-kira siapa yang bisa bertahan paling lama nih?

Bagaimanapun juga tutupnya sebuah badan usaha tetap banyak dampak negatifnya. Terutama bagi mereka yang tak bisa lagi kerja

Banyak yang kehilangan pekerjaan via www.ummi-online.com

7-Eleven memiliki lebih dari 170 gerai di seluruh Indonesia. Saat Waralaba Jepang ini resmi tutup usia, bisa kita bayangkan berapa banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Mulai dari karyawan resmi hingga tukang parkir yang mengatur kendaraan. Dari sisi persaingan, tutupnya 7-Eleven mungkin memberi nafas segar bagi pedagang kelontong kecil karena setidaknya satu pesaing tumbang. Namun sedih juga memikirkan ribuan karyawan yang dipaksa pontang-pontang mencari pekerjaan baru ini.

Selamat tinggal Sevel Eleven yang menemani kegaulan masa remaja kita. Kini tak ada lagi pola janjian sejuta umat “Ketemu di mana? Sevel aja ya?”. Anak muda yang butuh tempat nongkrong hits, murah, dan seru tentu harus segera mencari alternatif baru. Semoga saja sih internet kita bisa seperti Korea Selatan. Jadi kita bisa nongkrong di taman kota dan pakai internet gratisan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya