Berita apapun kini bisa jadi viral. Tanpa harus melalui proses editing atau fact-check, postingan seseorang di media sosial bisa tersebar luas dan dianggap sebagai berita yang terpercaya. Generasi kekinian sepertinya juga masih kurang menyadari betapa pentingnya mengecek sumber atau validitas berita, sebelum share ke grup keluarga. Apalagi kalau judulnya menggelegar, bikin penasaran, dan penuh kata-kata seperti unik, aneh, gila, atau ajaib, dijamin pasti populer.

Baru-baru ini jagat dunia maya dikejutkan oleh sebuah berita tentang kelahiran ‘Bayi Ajaib’ di Enrekang, Sulawesi Selatan. Bagaimana tidak ajaib?! Menurut keterangan keluarga, bayi ini hanya dikandung selama 3 jam dan langsung bisa mengucapkan ‘Assalamualaikum‘ setelah dilahirkan. Utje Ramadani (19), perempuan yang melahirkan bayi tersebut juga diklaim tidak memiliki suami dan belum pernah berhubungan badan. Meski sekilas tidak masuk akal, banyak orang di medsos yang langsung heboh dan melabeli berita ini sebagai mukjizat atau keajaiban.

Jelas ini bukanlah berita heboh pertama yang jadi perdebatan di kalangan netizen. Tapi perkembangan terbarunya, bisa jadi pembelajaran bagi semua. Kasus ini baru saja dilaporkan ke Polres Enrekang sebagai tindakan pembodohan publik. Jika terbukti, pihak keluarga harus menghadapi sanksi hukumnya. Penting sih untuk menindaklanjuti kasus-kasus seperti ini. Masalahnya generasi sekarang tampaknya makin sering terperangkap dalam perdebatan tidak penting di kolom komentar, daripada berkarya atau memikirkan hal yang lebih penting untuk kemajuan bangsa.

Setelah klaim bombastis itu, pihak keluarga langsung menolak segala pemeriksaan medis terhadap ibu ‘bayi ajaib’. Bahkan menyentuh perutnya saja tidak boleh

Pihak berwajib langsung curiga dan menetapkan ada indikasi pembodohan publik via tribunnews.com

Diberitakan dari Tribun News (Rabu, 5/7), polisi mulai lakukan investigasi terkait kelahiran ‘bayi ajaib’ yang menghebohkan masyarakat. Bersama dengan Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak Massenrempulu (KP2AM), kasus ini akan diselidiki sebagai aksi pembodohan publik. Hal itu dilakukan supaya masyarakat terhindar dari praduga yang menyesatkan bahkan ada kemungkinan jadi syirik.

Advertisement

Memang banyak fakta yang tidak tersambung ketika klaim-klaim keluarga yang seperti mukjizat ini, mulai ditelusuri kebenarannya. Indikasi terbesarnya adalah penolakan pihak keluarga untuk berkoordinasi dengan pihak berwajib. Bahkan mereka menolak segala pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi ibu ‘bayi ajaib’ tersebut. Proses penyelidikannya ini masih berlanjut, tapi semoga saja ada akhir yang jelas supaya masyarakat tak lagi dibuat bingung dengan kasus-kasus seperti ini.

Kasus pembodohan publik baru-baru ini banyak mencuat ke publik, siapa yang harus bertanggung jawab?

Jeng Ana dikritik karena banyak penjelasan yang sering keliru. via okezone.com

Kasus serupa baru-baru ini memang banyak mencuat ke publik. Sebut saja Jeng Ana yang mendakwa dirinya sebagai herbalis, padahal faktanya banyak sekali informasi yang disampaikannya perihal medis malah keliru. Lain lagi dengan Jeng Ana, paranormal Ulfa yang dikenal dekat dengan para selebriti mengungkapkan bahwa Julia Perez belum ‘sepenuhnya meninggal’. Netizen pun dibuat bingung, bahkan nggak sedikit yang mengkritik habis pernyataan Ulfa ini.

Bagaimana kita bisa menilai berita hoax jikalau kita pun tak tahu menahu dasar kebenarannya. Hal ini menjadi pekerjaan bersama. Pihak berwajib seperti kepolisian, memang harus mengawal ketat arus informasi yang tersebar di jagat dunia maya. Berita hoax dan kabar simpang siur baiknya disikapi dengan investigasi atau verifikasi kebenarannya. Tapi kiranya masyarakat juga harus lebih ‘mempersenjatai diri’ dengan bersikap lebih waswas, ketika scrolling update-an di medsos atau mendapat share-share baru di grup chatting. 

Biasakan deh, googling sebentar atau cross-check ke pihak lain tentang berita itu sebelum membagikannya ke orang lain. Kalau jelas-jelas salah, ya mending tidak perlu disebarluaskan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya