Setelah kontroversi travel ban yang melarang penduduk dari 7 negara mayoritas muslim untuk masuk AS, pemerintahnya kembali membuat kebijakan menghebohkan. Pemerintah AS telah menerbitkan larangan untuk membawa masuk peralatan elektronik yang lebih besar dari smartphone seperti laptop dan tablet, ke dalam kabin pesawat. Aturan ini berlaku untuk penerbangan dari 9 maskapai dan 10 bandara internasional yang tersebar di wilayah Timur Tengah dan Afrika alias negara-negara yang mayoritas muslim.

Memangnya ada apa dengan laptop? Menurut laporan CNN, larangan tersebut dibuat berdasarkan temuan badan intelijen AS yang menyatakan bahwa kelompok teroris Al-Qaeda hampir menyempurnakan teknik menyamarkan bom di baterei-baterei laptop. Langkah serupa ternyata juga langsung diikuti oleh pemerintah Inggris. Waduh bahaya juga ya kalau kekhawatiran itu terbukti. Tapi kenapa cuma yang dilarang cuma maskapai atau bandara ini ya? Kenapa juga larangannya hanya di kabin, berarti boleh dong masuk bagasi? Nah Hipwee News & Feature punya laporan selengkapnya nih.

Larangan yang ramai disebut oleh media sebagai ‘laptop ban’ ini mengejutkan semua orang. Meski tidak ada preseden awal, namun badan intelijensi AS dan Inggris yakin ini ancaman nyata

Laptop yang dibawa maskapai dan pesawat dari bandara-bandara ini, tidak boleh masuk kabin via www.businessinsider.co.id

Pada hari Selasa (21/3) kemarin, pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan larangan bagi penumpang yang membawa laptop dari beberapa maskapai yang terbang ke AS. Beberapa maskapai ini berasal dari Timur Tengah, Afrika Selatan, hingga Turki. Sebuah peraturan yang jelas membuat maskapai tersebut merasa dirugikan. Beberapa jam setelah AS mengeluarkan larangan tersebut, Inggris pun menyatakan pelarangan yang sama. Jika larangan AS mencakup 8 negara, Inggris hanya ‘mengambil’ 6 dari negara yang berpotensi mengancam negaranya. Kabarnya, Kanada juga sedang mempertimbangkan langkah yang sama.

Menurut kabar dari pasukan khusus AS yang berada di Yaman, kelompok teroris Al-Qaeda di Semenanjung Arab sedang merencanakan penyerangan melalui maskapai yang terbang ke Barat. Caranya dengan memanfaatkan baterai laptop sebagai bahan peledak. Maka dari itu, AS dan Inggris melarang penumpang membawa laptop di dalam kabin. Harus disimpan di dalam koper dan ditaruh di bagasi.

Namun pakar teknologi dan beberapa kalangan menanggapi larangan ini dengan nada pesimis. Pasalnya, di dalam bagasi pesawat pun baterei lithium teorinya tetap bisa meledak

Advertisement

Apa artinya jika hanya dilarang di kabin saja? via www.bbc.com

Meski dua negara berpengaruh sudah menerbitkan laptop ban, ada beberapa hal yang dinilai para pakar cukup janggal. Pertama, larangan masuk kabin tetapi masih boleh dibawa sebagai bawaan bagasi. Kedua, larangan terhadap gadget seperti laptop dan tablet karena batereinya dikhawatirkan bisa digunakan untuk menyelundupkan bom. Padahal baterei hp atau smartphone sendiri sebenarnya juga komposisinya sama. Jika memang Al-Qaeda memiliki teknik canggih menyamarkan bom dalam baterai lithium hingga tidak terdeteksi protokol keamanan bandara standar, benda tersebut berbahaya mau diletakkan di kabin maupun bagasi.

Ya tapi sebagai masyarakat awam, kita hanya bisa waspada. Apalagi kalau badan intelijensi negara paling adidaya saja bilang itu bahaya. Ada juga sih beberapa teori seperti ahh ini gara-gara Trump parno aja seperti muslim ban kemarin. Tapi buktinya negara-negara lain seperti Inggris dan Kanada juga mengikuti. Mungkin juga ancaman ini hanya berlaku untuk negara-negara Barat yang ditargetkan langsung. Tapi tidak ada salahnya juga ya kalau pemerintah kita juga memperhatikan perkembangan terbaru ini. Ya semoga dunia aman-aman saja yaa…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya