Perdamaian dunia mungkin memang hanya impian yang harus terus diupayakan, tanpa pernah bisa terwujud. Kenapa pesimis begitu? Ya lihat saja realita kehidupan kita sekarang. Meskipun konflik terbuka seperti perang dunia tidak lagi jadi ancaman, kini semua orang ‘berperang’ lewat media sosial. Bukan lagi perseteruan antar negara, warga satu negara yang bahkan mungkin tinggal bersebelahan seringkali ‘adu jotos’ di kolom komentar karena perbedaan ideologi, agama, sampai pilihan calon bupati. Biasanya semua itu berawal dari satu postingan kontroversial berisi konten kebencian yang entah siapa yang memulai.

Saking tidak masuk akal, dangkal, dan besarnya kebencian dari postingan tersebut, kamu pasti sering bertanya ‘kok ada ya orang seperti itu?!’ Mungkin memang tidak ada guys. Baru saja (23/8) Polri berhasil menangkap sindikat di balik 800 ribu akun yang sering menyebar konten kebencian di medsos. Tiga orang tersangka yang sudah diringkus ini, berada di balik ribuan atau bahkan mungkin jutaan postingan provokatif yang tidak berlandasan dan hoax. Entah berapa banyak juga orang yang ‘termakan’ provokasi sindikat yang menamakan dirinya Sindikat Saracen. Yang lebih miris lagi, ternyata semua itu demi uang!

Dibayar 75-100 juta Rupiah hanya untuk bikin konten provokasi, tingkat keberhasilan mereka simpel: melihat kita saling tuduh dan terpecah belah

Tersangka Sindikat Saracen via news.liputan6.com

Kalau selama ini kita mengira ada semua ini adalah karena motif politik belaka, salah besar. Semua ini lagi-lagi karena uang. Nggak habis pikir deh ada kelompok yang tega menyaksikan bangsanya sendiri berseteru hanya karena uang. Sindikat ini bahkan terima pesanan untuk sebarkan kebencian. Mereka ini kelompok profesional guys, melibatkan 800.000 akun media sosial yang siap menyebarkan berbagai berita palsu untuk memicu perpecahan.

Sebagai masyarakat awam, kita yang setiap hari mengonsumsi media perlahan mulai percaya dengan berita bohong. Bagaimana tidak? Lebih dari 800.000 ‘penyebar hoax‘ yang aktif membombardir ideologi kita. Akibatnya kita yang nggak total dalam mengecek kebenaran sebuah berita, seringkali salah kaprah dan jadi korban provokasi.

Bukan bacaan berat atau esai, meme atau konten ringan yang mereka sebarkan justru efektif karena bisa dengan mudah di-share dan like 

Advertisement

Sosial media bisa sebagai penebar kebohongan via Independent.ae

Jangan tanyakan konten apa yang mereka buat. Tentu bukan konten membosankan dan berat yang selama ini malas kita baca. Sindikat Saracen membuat konten tulisan dan meme untuk menebarkan fitnah dan SARA, ujaran kebencian, dan pencemaran nama baik, tergantung pesanan dan permintaan pelanggan. Bahkan sindikat ini juga punya banyak akun bodong untuk ikut mengomentari unggahan lho. Isi komentarnya ya lagi-lagi provokatif. Ternyata hati-hati aja di internet benar-benar nggak cukup buat membentengi diri..

Lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan sosial media dan membaca informasi. Jangan keburu ditelan mentah-mentah ya guys

Jangan terlalu kaku memaknai ideologi via techinasia.com

Banyak sekali pihak yang tentunya sudah dirugikan oleh sindikat ini. Mulai dari presiden, pejabat publik, hingga orang biasa. Saat ini Polri sudah mengamankan tiga tersangka yang berperan sebagai ‘motor’ penebar kebencian. Mereka hanya bermodalkan keahlian IT dan sejumlah uang untuk membayar website dan hosting. Bahkan, mereka menawarkan ‘produk’ mereka ini dengan membuat proposal dan materi seputar kebencian yang sudah disusun rapi. Jika pihak yang ditawarkan mau membayar, barulah mereka mulai menyebarkan materi kebencian di akun-akun dan website mereka. Mestinya nggak hanya sindikat ini saja yang diusut, namun siapa yang pernah memesan dan menggunakan jasa mereka juga perlu dicari.

Sebenarnya jerat hukum yang dipidanakan pada Sindikat Saracen mungkin nggak akan cukup membayar kerugian kita. Suatu generasi bisa saja jadi punya ideologi yang salah, pemikiran yang keliru terhadap suatu hal hanya gara-gara sering mendapat informasi hoax. Mungkin perlu ada upaya khusus untuk memulihkan ini semua supaya perdamaian di dunia nyata maupun dunia maya bisa tercapai. Apa menurut kalian juga begitu? Yuk diskusi bareng di kolom komentar. 😀 Jangan lupa pake kepala dingin.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya