Hipwee menyadari Hipwee belum punya kapasitas untuk menjadi corong nomor satu yang paling up to date saat ada breaking news terjadi. Contohnya saja saat terjadi pengeboman yang diduga bom bunuh diri di Kampung Melayu.

Kami tidak punya reporter, tidak bisa secepat itu juga menghubungi informan di lapangan. Oleh karena itu saat ini mari kita lupakan berapa jumlah korban, kita tutup mata pada berbagai spekulasi motif di balik ledakan. Ijinkan Hipwee bicara dari sudut pandang media.

Tentang menyelamatkan persepsi lewat cara sederhana: tidak asal klik waktu ada kata ‘Foto Korban’, ‘Serpihan Tubuh Korban’ dan hal-hal sangar lainnya.

1. Media daring memanfaatkan momen chaos dan kejadian terkini untuk secepat mungkin melansir berita

Yang penting cepat! via www.etonline.com

Pertempuran di dunia daring saat ini sudah lebih kejam. Biar bagaimanapun bisnis yang satu ini punya hambatan masuk yang rendah. Siapapun yang punya uang untuk beli domain, bisa menulis — sudah bisa bikin media online! Pertanyaannya adalah siapa yang bisa konsisten menciptakan konten bagus? Karena kebanyakan media akhirnya menyadari bahwa bikin konten bagus itu susah maka kebanyakan media daring lebih memilih menggantungkan diri pada kejadian up to date. 

2. Logika ‘Ah, karena ini daring kan nanti bisa direvisi….’

Advertisement

Since when? via www.picturequotes.com

Kesalahan paling fatal dalam melansir sebuah berita adalah distorsi informasi. Oke lah kalau kesalahan itu masih sebatas soal berapa kalori yang terkandung dalam sebuah pisang. Tapi kalau soal jumlah korban yang dilaporkan meninggal dalam ledakan? Atau tentang isu leadakan beruntun di lokasi lain?

Sayangnya kebanyakan pemain media daring masih merasa pemberitaan yang mereka lansir itu seperti ujian akhir di sekolah. Kalau salah bisa ada remedial. Atau seperti mahasiswa skripsi, kalau salah kan masih bisa direvisi.

3. Setiap kamu klik berita berisi foto korban dan berbagai fakta yang belum diketahui kebenarannya, kamu ikut andil dalam menentukan standar informasi yang akan kamu baca bertahun-tahun lamanya

Rasa ingin tahu dan gidik ngeri saat melihat foto korban memang harus diakui adiktif, juga manusiawi. Beberapa rekan media memanfaatkan perasaan ini untuk menentukan konten macam apa yang harus mereka buat. Sayang, kebanyakan media mainstream saat ini mengartikan berita yang baik adalah berita yang mengandung sebanyak mungkin foto yang mengganggu.

Perlu kamu tahu, salah satu penentu sebuah konten itu berhasil atau tidak adalah dari seberapa banyak orang yang membacanya. Semakin banyak dibaca akan makin berulang pula pola konten itu ke depannya. Jika sekarang berita yang kamu pilih klik adalah berita dengan judul ‘Serpihan Tubuh Korban’ atau ada embel-embel ‘Sangar!’ — sudah terbayang kan konten apa yang akan kamu nikmati terus sampai nanti?

4. Parahnya, sudah mengobrak-abrik standar informasi. Eh, kamu juga masih memberi ‘nafkah’ ke media-media ini

Semakin banyak klik = semakin banyak penghasilan adsense

Semakin tinggi traffic = makin mudah meyakinkan brand untuk placement

5. Berhenti beramal! Karena sekarang kekuatan itu letaknya di sini

Power, nowadays via www.picturequotes.com

Kekuatan sekarang berada di siapa yang membagi informasi yang benar dan siapa yang turut membagikannya. Sayang, sekarang kebanyakan informasi yang viral itu belum teruji kebenarannya.

Mari kita sama-sama berdoa untuk Jakarta, untuk korban di Kampung Melayu dan untuk kedamaian kita bersama. Semoga semua segera aman dan damai!