Indonesia ini negara yang kekayaan alamnya melimpah bukan main. Mulai dari pesona alam yang potensi wisatanya tak terkira, sampai semua sumber daya alam yang seharusnya cukup untuk tujuh turunan. Dengan kekayaan sebegitu banyak, harusnya negara ini tak pernah kekurangan. Sayangnya alih-alih berkembang jadi negara kuat, Indonesia justru mengalami ketergantungan energi yang tidak bisa diperbaharui seperti minyak dan gas.

Subsidi pemerintah untuk kedua sumber energi yang diperkirakan akan habis dalam hitungan puluhan tahun ke depan, terus bertambah tiap tahunnya. Subsidi yang harusnya bisa digunakan untuk mengembangkan sektor energi terbarukan yang masa depannya lebih cerah. Untungnya langkah menuju transisi ke energi terbarukan ini sudah mulai digarap pemerintah.

Skema teknologi biogas sederhana via biru.or.id

Salah satunya adalah pengembangan biogas atau gas yang dihasilkan dari fermentasi bahan organik seperti kotoran manusia atau hewan serta limbah organik yang memiliki metana dan karbon dioksida. Program Biogas Rumah atau ‘BIRU’ adalah hasil kerjasama Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral dengan pemerintah Belanda dan Norwegia untuk menyediakan reaktor biogas di sembilan provinsi di Indonesia.

Nggak percaya? Desa-desa ini sudah membuktikannya. Karena menggunakan biogas, masyarakat desa-desa ini sudah tak perlu pusing lagi masalah subsidi gas elpiji atau minyak tanah!

1. Desa Cabbeng Bone, Sulawesi Selatan. Sejak 2013 telah mengolah kotoran ternak jadi biogas untuk keperluan rumah tangga. Ampas pengolahan gas ini juga bisa dimanfaatkan jadi pupuk

Advertisement

Kompor warganya sudah pakai biogas via radarbone.fajar.co.id

Desa yang memiliki luas 6,8 kilometer ini bahkan sudah memanfaatkan biogas sejak tahun 2013 lalu. Berawal dari informasi dan bantuan dari Badan Lingkungan Hidup, warga desa Cabbeng Bone kemudian mengembangkan biogas sebagai sumber energi utama bagi kebutuhan rumah tangga mereka.

Setidaknya sudah ada 30 alat pengolah limbah kotoran ternak mereka. Menurut penuturan warga, biogas ini sangat membantu. Cukup kotoran dari dua ternak sapi, mereka bisa memasak hingga 8 jam. Selain itu, ampas hasil pengolahan biogas juga bisa mereka manfaatkan. Ampasnya dikeringkan dan kemudian bisa digunakan sebagai pupuk organik. Kreatif!

2. Desa Penyabangan, Bali. Program BIRU membantu transisi energi dari kayu bakar ke biogas. Sedikitnya, 44 rumah yang sudah menggunakan biogas

Kotoran sapi sudah nggak jadi limbah lagi via akarumput.com

Tak jauh berbeda, desa Penyabangan di Bali pun juga sudah memilih untuk beralih ke biogas. Sebelumya, desa yang mayoritas warganya adalah petani tersebut menggunakan kayu bakar untuk memasak. Namun, semenjak masuknya BIRU, warga desa ini mulai tertarik menggunakan biogas. Bermula sejak 2011 silam, warga desa Penyabangan mulai menggunakan kotoran hewan ternak mereka guna diolah menjadi biogas. Hasilnya meski sekarang harga minyak dan elpiji mahal, mereka tak bergitu terpengaruh dengan kenaikan harga tersebut untuk urusan memasak.

3. Desa Medowo di Kediri juga tak mau kalah. Desa yang isinya mayoritas peternak sapi ini juga beralih ke biogas

Di balik keadaan alamnya yang sejuk dan asri yang terletak di kaki gunung Anjasmoro, kebanyakan warga desa Medowo memang berprofesi sebagai peternak sapi perah. Karenanya mereka tak kesulitan mencari limbah kotoran untuk digunakan sebagai biogas. Meski pada awalnya ragu, namun setelah mereka memasang biogas, ternyata secara keseluruhan harganya tak semahal yang diperkirakan. Bahkan setelah menggunakan biogas, mereka bisa mengurangi pencemaran air sungai di lingkungannya. Yang dulunya tercemari oleh limbah kotoran ternak, kini pencemaran tersebut sudah bisa ditekan sampai 90%. Yeah!

4. Lebih keren lagi, penggunaan biogas di Desa Argosari, Malang. Tak hanya sekadar membuat dapur mengepul, mereka juga paham misi besar untuk menjaga kondisi alam sekitar

Pengolahan sederhana via lpmtechno.wordpress.com

Meskipun pada awalnya tak percaya, namun kini warga desa Argosari merasakan sendiri keuntungan menggunakan biogas. Jika dulu untuk memasak mereka harus menebang pohon di hutan, kini mereka tinggal menyalakan kompor berbahan bakar biogas. Biogas mengubah pola pikir masyarakat Argosari. Hutan yang dulu pepohonannya ditebangi kini justru mereka tanami lagi dan dirawat sepenuh hati. Karenanya debit air di desa mereka bisa terjaga. Hasilnya, selain mandiri energi, mereka juga bisa mandiri air. Asik nggak, tuh?

5. Bicara biogas, bahkan di Pasuruan ada empat desa yang sudah beralih menggunakannya. Tiap bulannya mereka bisa berhemat ratusan ribu rupiah

Dari pengolahan limbah kotoran hewan ternak via agus-jalanjalan.blogspot.co.id

Nah, bicara soal biogas, Pasuruan adalah salah satu contoh yang sudah menggunakan biogas sejak dulu. Bahkan, ada empat desa di Pasuruan sana yang 100% warganya sudah memanfaatkan biogas sebagai sumber energi untuk aktivitas masak-memasak mereka. Empat desa tersebut adalah desa Gunung Sari, Ngempiring, Cemoro, dan Kumbo. Bekerjasama dengan koperasi di sana, keempat desa tersebut sekarang sudah bebas dari menggunakan elpiji dan kayu bakar. Menurut warga sana, mereka bahkan bisa menghemat pengeluaran hingga Rp 400.000 tiap bulannya.
Nah, itu baru beberapa desa. Masih ada banyak desa lain yang sudah menggunakan biogas untuk aktivitas memasak di rumah mereka. Coba deh bayangkan kalau hampir semua desa di Indonesia sudah menggunakan biogas, bisa jadi subsidi minyak dan gas akan dihapuskan. Uang subsidi tersebut bisa dialokasikan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat. Sektor pendidikan dan kesehatan misalnya. Cari deh info lebih lanjut di website resmi BIRU di link ini, siapa tahu kamu juga bisa beralih ke energi biogas.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya