Ada yang bilang, usia bumi sudah kian renta. Konon, umur yang telah mencapai miliaran tahun ini nggak akan bertahan lama. Bahkan mulai muncul klenik-klenik yang membicarakan embusan terakhir napas bumi. Ada yang memprediksi beberapa kiamat, di tahun 2012 lalu, 2020, 2030, dan seterusnya. Kalau berbicara kiamat, bukankah itu hanya ada di tangan Yang Maha?

Tapi kalau melihat dari keadaan dan kondisi bumi kita ini, rasanya prediksi—terlepas dari kepercayaan pada paranormal—kiamat bisa saja terjadi, bahkan bisa juga dalam waktu dekat ini. Pasalnya, banyak faktor yang membuat para peneliti yakin bumi nggak akan bertahan lama. Seperti polusi yang sangat meresahkan seluruh masyarakat bumi ini. Yuk simak ulasan Hipwee News & Feature ini!

Pertama, sampah yang mengalir dari sungai ke sungai hingga bermuara ke lautan. Di Indonesia, malah bule yang geram melihatnya!

Bersih-bersih kali Citarum. via www.instagram.com

Di sepanjang sungai, kita bisa dengan jelas melihat bagaimana sampah-sampah terseret arus hingga bermuara ke lautan. Ekosistem laut terganggu, masyarakat kesusahan mencari air bersih, banjir di mana-mana, timbul bau lahak di sepanjang aliran sungai, dan sebagainya. Dan ini cerita lama di negeri kita. Minimnya kepedulian akan lingkungan sehat.

Justru, hal ini menjadi perhatian bagi dua WNA yang tumbuh besar di Bali yang melihat betapa buruknya kondisi sungai Citarum. Adalah Sam dan Gary Bencheghib yang berinisiatif untuk membersihkan sungai Citarum, karena dinilai ini sungai yang paling berpolusi di dunia. Dengan menggunakan kayak yang terbuat dari botol-botol nggak terpakai, mereka menyusuri aliran sungai dengan mengangkut segala macam sampah.

Advertisement

Rendahnya kesadaran orang-orang di sekitar sungai Citarum membuat kedua kakak-beradik ini nggak habis pikir. Padahal mereka memanfaatkan aliran sungai ini untuk keperluan sehari-hari. Rasanya memang kesadaran kita perlu diubah deh!

Jangan salah, polusi suara juga bisa mengganggu kehidupan loh. Berbagai penyakit bisa mendera siapapun juga

Polusi paling serem. via factspy.net

Orang mana yang nggak terganggu dengan suara yang bising, seperti di jalanan kota? Banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa polusi suara sangat berbahaya bagi kesehatan, seperti penurunan kinerja telinga yang sering berdenging, sulit tidur, kehilangan ingatan, kamampuan kognitif, tekanan darah tinggi, hingga mengakibatkan serangan jantung dan stroke. Pernah terjebak macet di jalanan dan orang-orang membunyikan klakson segila itu? Derita kita dimulai dari situ, Guys!

Terlihat sepele, tapi ternyata polusi visual juga berakibat buruk bagi banyak orang. Nggak pernah terpikirkan, bukan?

Merusak pemandangan. via artspace.com

Polusi visual merupakan polusi yang berkaitan dengan estetika, mengacu pada dampak polusi yang mengganggu kemampuan orang-orang untuk menikmati pemandangan. Singkat kata, polusi ini merupakan menjamurnya sampah-sampah visual yang ada di sekitar kita. contoh konkretnya, seperti baliho, spanduk, banner, iklan, poster kampanye partai, yang semuanya terpasang di jalanan, yang sama sekali mengabaikan nilai estetika. Alhasil, visibilitas setiap orang terganggu.

Bahkan, seorang budayawan sekaligus penggiat Reresik Sampah Visual, mengatakan bahwa sampah visual ini bisa berakibat fatal. Seperti di Jogja, hal ini bisa membuat Jogja kehilangan kekuatannya sebagai kota wisata, budaya, dan pelajar. Karena di setiap ruang terbuka hijau, taman kota, trotoar, tiang listrik, bangunan heritage, hingga trotoar, menjadi lahan bagi sampah visual. Sementara kalau hal ini dibatasi, sampah visual yang memiliki izin resmi bisa mengurangi Pendapatan Asli Daerah di setiap kota. Galau, kan? Tapi, bagaimana seseorang bisa nyaman dengan keadaan seperti ini?

Inilah yang paling dianggap sebelah mata, polusi cahaya. Terkesan receh, tapi dampaknya jangan ditanya!

Perbedaan tingkat polusi -8 dan -1. via srirammurali.com

Beda lagi dengan polusi yang satu ini. Polusi cahaya menjadi salah satu keresahan yang sama sekali nggak dianggap. Pasalnya, seperti simalakama, semakin terang suatu tempat, semakin senang pula seseorang untuk mendiaminya. Padahal, tingginya penerangan pada sebuah tempat bisa berdampak buruk bagi setiap insan. Inilah yang disebut polusi cahaya; dampak buruk atas cahaya buatan (artifisial).

Polusi ini merupakan dampak dari industrialisasi; lampu-lampu taman, bangunan, perkantoran, papan reklame, lampu stadion, dan sebagainya. Penerangan yang dilakukan secara masif dan nggak efektif inilah yang menyebabkan langit malam tertutup oleh cahaya buatan, sehingga kita kesulitan untuk melihat bintang-gemintang tanpa teleskop—bahkan alat ini pun sudah mulai kesusahan sehingga para astronom nggak leluasa dalam bekerja.

Selain itu, dampak buruk juga terjadi pada makhluk hidup. Hewan-hewan yang kehilangan navigasi, seperti bayi kura-kura yang pengen ke laut dengan mengikuti pantulan cahaya dari air, dan sebagainya. Sementara bagi kita, jam biologis kita bisa terganggu dengan rancunya penggunaan lampu di waktu pagi, siang, sore, dan malam. Untuk saat ini sih memang belum terasa, tapi lambat laun, jangan ditanya.

Kalau melihat prediksi batas usia bumi, rasanya ngeri juga, kan? Tapi balik lagi, tanpa adanya kesadaran kita para penghuninya untuk merawat bumi, bukan nggak mungkin prediksi itu bisa saja tepat. Keberlangsungan bumi ada di tangan kita sendiri loh!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya