Dipandang rendah oleh orang lain memang hal yang sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi, apabila sudah direndahkan, ditambah ‘bonus’ dapat perlakuan kasar dan penganiayaan. Seperti yang dialami oleh seorang Mahasiswi asal Indonesia di Korea Selatan, Jessica Setia. Jessica mau tak mau menahan sakit akibat luka pukulan di bibirnya. Ia mengaku dianiaya penjaga klub malam yang telah memandang rendah dirinya sebagai orang Indonesia.

Peristiwa ini menjadi viral ketika teman Jessica mengunggah foto dirinya tengah menangis dengan kondisi luka di bibirnya yang berdarah. Ditambah lagi pengakuan Jessica yang menuturkan bahwa ia mengalami peristiwa diskriminatif di sebuah klub malam di Busan yang membuat ia terluka. Wacana diskriminatif warga Korea Selatan terhadap mahasiswi asal Indonesia ini menjadi persoalan yang cukup serius antarwarga negara Indonesia dan Korea. Yuk simak pembahasan lengkapnya melalui uraian Hipwee News & Feature berikut ini!

Niatnya Jessica menolong sang teman yang didorong oleh penjaga klub, tetapi justru berujung mendapat kekerasan

Klub malam di Korea (Ilustrasi) via www.koreaherald.com

Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu pelepas penat justru menjadi petaka bagi Jessica Setia dan temannya Gabrielle. Ketika hendak memasuki klub malam, Gabrielle didorong oleh petugas klub dan identitasnya dibuang ke trotoar. Tidak terima temannya direndahkan, Jessica pun mendorong penjaga klub tersebut yang justru berujung aksi kekerasan.

Dilansir melalui The Herald, Jessica mengaku bahwa ketika penjaga klub memeriksa identitas kawannya yang berkebangsaan Korea, ia mengizinkannya masuk dengan mudahnya. Namun ketika memeriksa identitas Gabrielle, kawan lainnya yang berkebangsaan Indonesia, perlakuannya justru berbeda. Hal tersebutlah yang ia anggap sebagai diskriminasi dan rasis. Penjaga klub dianggap terlalu memiliki sentimen terhadap orang yang bukan kaukasian seperti dirinya.

Bahkan Jessica mengaku terbiasa mendapat perlakuan rasis yang memandang rendah karena ia orang Indonesia. Sedangkan orang kulit putih diperlakukan istimewa

Advertisement

Perbedaan ras via www.candianews.gr

Sebagai minoritas yang tinggal di negeri orang, mungkin bukan hal yang mengejutkan bahwa terlihat ‘berbeda’ diantara orang kebanyakan. Jessica sendiri mengaku terbiasa mendapatkan perlakuan tidak adil hanya karena ia orang Indonesia.

“Saya terbiasa dengan masyarakat yang memandang rendah orang Indonesia. Saya pikir dia (penjaga klub) tidak menyukai orang asing jadi ia berlaku kasar pada kami, terlebih lagi karena kami bukan orang kaukasian berkulit putih. Ketika kami memperlihatkan kami kecewa karena perlakuannya, saya pikir itu membuatnya marah.”

Kawan Jessica, Gabrielle juga mengaku bahwa diskriminasi terhadap orang Indonesia sudah menjadi hal yang umum di Korea Selatan. Soal rasis dan tidak rasis memang jadi permasalahan laten yang sulit dipecahkan dimana pun. Bukan hanya antarnegara seperti Korsel dan Indonesia, banyak yang memandang rendah suku lain walaupun masih dalam konteks saudara sebangsa.

Berlawanan dengan pihak Jessica, pihak penjaga klub malam mengklaim bahwa aksinya murni perselisihan dan tidak ada hubungannya dengan diskiriminasi etnis Indonesia

Penjaga klub bertanggung jawab memeriksa identitas pengunjung (Ilustrasi) via www.abc.net.au

Pengakuan penjaga klub malam justru berlawanan dengan pernyataan Jessica. Tidak ada diskriminasi etnis dan ia mengaku mengecek semua identitas pengunjung yang masuk klub tanpa terkecuali. Yang mengejutkan, justru penjaga klub menyalahkan Jessica karena Jessica-lah yang pertama kali melontarkan kalimat makian dan mengepalkan tangannya ke arah penjaga klub. Dua argumen yang berbeda ini tentunya membutuhkan penyelidikan lebih mendalam lagi. Untungnya pihak kepolisian Busan segera mengambil tindakan untuk penyelidikan dan pengusutan kasus ini.

Permasalahan ini jadi viral di Korea Selatan, pihak KBRI pun beri tanggapan

Gedung KBRI di Seoul via aji-bintara.blogspot.co.id

Karena permasalahan ini menyangkut etnis dan melibatkan dua negara, KBRI pun memberikan tanggapan. Kepala Fungsi Penerangan Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) Seoul, M. Aji Surya mengatakan pada pihak Tempo bahwa KBRI akan mengawal kasus ini. Bahkan ia sudah berkomunikasi dengan orang tua Jessica. Selain itu Aji justru tidak ingin menilai hal ini sebagai kasus rasisme, karena menurutnya warga Korea Selatan sangat baik terhadap orang asing. Jarang sekali ditemui kasus rasisme serupa. Meski begitu, tentunya kasus ini tetap harus diselesaikan ‘kan? Demi menghindari kesalahpahaman dan menjaga hubungan baik dua negara.

Tapi kenyataannya, memang banyak orang yang sering mendapat perlakuan buruk hanya karena identitas ras, asal negara, maupun gendernya

Diskriminasi rasial sudah seharusnya dihentikan via www.koreatimesus.com

Melalui beberapa unggahan yang viral soal kasus ini, kebanyakan menyoroti soal diskriminasi etnis Asia Tenggara dan terutama perempuan. Orang-orang Asia Tenggara sering dipandang rendah, apalagi mereka yang berprofesi sebagai pekerja buruh. Sedangkan peran pria dan wanita di Korea Selatan juga dianggap tidak seimbang. Wanita lebih dianggap sebagai submissive yang menjadi budak pria. Berikut merupakan kutipan salah satu teman Jessica dalam akun Instagramnya, menanggapi soal kasus Jessica.

“…Banyak sekali teman saya yang melihat kasus dimana seorang wanita korea ditampar/ditonjok di publik. Bahkan ada teman saya yang melihat seorang wanita korea digeret dari rambutnya keluar dari apartemen dan saat teman saya memanggil polisi wanita itu keluar layaknya tidak terjadi apa-apa…”

Tindakan diskriminatif terhadap etnis dan gender tertentu memang nggak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun. Sudah seharusnya kita tidak punya anggapan dan prasangka tertentu terhadap karakter seseorang hanya dengan melihat apa sukunya, apa agamanya, dan apa jenis kelaminnya. Mulai dari hal yang kecil dan kehidupan sehari-hari kita aja deh. Cobalah jangan menganggap, “Pantesan emosian, orang suku xxx memang begitu.” atau “Pantes kasar dan suka main kroyokan, dia orang xxx sih!” Lebih bijak lagi ya guys!

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya