Kamu tentu sudah tahu soal uang Rupiah terbaru yang barusan kemarin dikeluarkan oleh pemerintah kita. Ada 12 gambar tokoh sejarah Indonesia yang wajahnya diabadikan dalam pecahan uang baru resmi negara kita. Selain pecahan uang 100 ribu Rupiah yang tetap dihiasi proklamator Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta, semua pecahan uang kertas maupun logam menampilkan wajah pahlawan nasional baru. Mereka berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, seperti G.S.S.J. Ratulangi dari Sulawesi Utara atau  Frans Kaisiepo dari  Papua.

Yang menarik, dari 12 tokoh sejarah tersebut hanya ada satu nama tokoh wanita. Ia adalah Cut Nyak Meutia atau Cut Meutia yang wajahnya terpampang dalam pecahan uang 1000 Rupiah baru. Pahlawan wanita asal Aceh yang sepak terjangnya melawan penjajah Belanda tercatat sebagai salah dalam sejarah penting dalam perjuangan kemerdekaan negara kita. Nah, biar kamu nggak penasaran siapa sih sebenarnya Cut Meutia, Hipwee sudah merangkum profilnya. Sebagai warga Indonesia, kita wajib bangga atas sepak terjang beliau melawan penjajah!

Lahir di Aceh, watak kuat Cut Meutia merupakan turunan dari sang Ayah. Ayahnya yang tokoh pemimpin lokal juga tak mau tunduk pada Belanda

Lukisan wajah Cut Meutia via nurladya0101.blogspot.co.id

Cut Meutia. Salah satu pahlawan wanita yang perjuangannya mampu membakar semangat juang rakyat Aceh. Terlahir di Pirak Aceh pada tahun 1870, Cut Meutia adalah satu-satunya anak perempuan dari pasangan Teuku Ben Daud Pirak dengan Cut Jah. Ayah Cut Nyak Meutia adalah salah satu tokoh pemimpin di wilayah Desa Pirak.

Semasa kepemimpinan Teuku Ben Daud, wilayah Pirak menjadi salah satu wilayah paling aman di Aceh. Saat Belanda datang, Teuku Ben Daud adalah salah satu tokoh yang keras menolak untuk tunduk kepada Belanda. Sifat kerasnya mengispirasi banyak orang, terutama putrinya Cut Meutia. Dari sang Ayah, Cut Meutia belajar untuk menjadi sosok yang kuat dan tak mudah tunduk pada penjajah.

Berbeda dengan perempuan kebanyakan yang memilih menetap di dapur setelah menikah, Cut Nyak Meutia justru makin giat berjuang melawan penjajah

Advertisement

Makin aktif berjuang setelah menikah via bintang.com

Berkat didikan orangtuanya, Cut Meutia tampaknya tak pernah terkekang dengan statusnya sebagai perempuan. Apalagi di tengah gempuran asing yang mengancam kedaulatan bangsa, siapapun harus ikut berjuang. Semangat perjuangan itu semakin membara ketika ia menikah dengan sesama pejuang bernama Teuku Muhammad, atau yang lebih dikenal sebagai Teuku Cik Tunong.

Pasangan suami istri ini dengan cerdik menggunakan taktik gerilya untuk mengecoh penjajah Belanda. Mereka bersama sejumlah pejuang lain berhasil merebut satu per satu pos milik Belanda dan melucuti logistiknya. Ketika suaminya gugur dalam sebuah pertempuran, wasiat terakhirnya adalah agar Cut Meutia tetap melanjutkan perjuangan. Atas wasiat mendiang suaminya pula, Cut Meutia juga menikah kembali dengan sahabat suaminya yang juga pejuang, Pang Nangroe.

Meski kalah persenjataan dan berkali-kali hampir tertangkap, Cut Meutia tetap menolak untuk tunduk pada pasukan Belanda. Meski nyawa taruhannya, ia tetap tak mau menyerah

Jasanya harus selalu diingat via portalsatu.com

Kalau bicara soal perjuangan Indonesia melawan penjajahan Belanda pada tahun-tahun itu, tentu kamu sadar kalau dalam urusan persenjataan kita jauh tertinggal dari pihak Belanda. Sementara kita masih menggunakan bambu runcing, parang dan keris, militer penjajah sudah menggunakan senapan dan bayonet. Jelas saja pihak pejuang Indonesia dengan mudah terdesak dan dikalahkan.

Pun demikian yang terjadi pada perjuangan Cut Meutia. Persenjataan Belanda yang jauh lebih kuat membuat kubu Cut Meutia terdesak. Taktik gerilya mereka tak berdaya ketika pihak Belanda berhasil mengepung dan menyerang markas mereka. Banyak pejuang yang gugur setiap Belanda berhasil menemukan persembunyian mereka.

Namun Cut Meutia tak mau menyerah. Beliau selalu berpindah tempat dari satu titik ke titik lain dan mengobarkan semangat juang sepanjang perjalanannya. Meskipun pihak Belanda sudah memberi ultimatum dan ancaman, namun Cut Meutia tetap kokoh mempertahankan pendirian dan perjuangannya. Salut!

Pendiriannya yang begitu kuat untuk tidak tunduk pada penjajah, membawanya kepada takdir terakhirnya. Yakni untuk gugur di medan perang, tanpa sekalipun menyebut kata ‘menyerah’

Makam Cut Meutia di Aceh via biografi-tokoh-ternama.blogspot.com

Strategi gerilya dan selalu berpindah-pindah milik Cut Meutia memang efektif untuk membingungkan pihak Belanda. Namun seperti pribahasa “sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya ia akan jatuh juga”, persembunyian Cut Meutia pun pada akhirnya terbongkar juga. Oktober 1910, prajurit Belanda mengepung persembunyian Cut Meutia dan beberapa rekan pejuang lainnya. Ultimatum terakhir diberikan. “Menyerah atau ditembak?” adalah sebuah pilihan yang sulit bagi kebanyakan orang. Namun tidak bagi Cut Meutia.

Hingga nafas terakhir dihembuskannya pada tanggal 24 Oktober 1910, ia tetap setia pada perjuangannya. Meski tiga butir timah panas menghentikan raganya, semangat perjuangan Cut Meutia tetap dikenang sepanjang masa. Akhirnya pada tanggal 2 Mei 1964, pemerintah Indonesia memberikan predikat pahlawan nasional yang memang pantas disandang Cut Meutia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tak pernah melupakan jasa pahlawannya. Kebijakan pemerintah menggunakan uang baru untuk memperkenalkan pahlawan nasional patut diapresiasi

Wajah Cut Meutia di pecahan baru 1000 Rupiah via www.statusaceh.net

Jarang ada tokoh yang rela berjuang mengusir penjajah seteguh tekad yang dilakukan oleh Cut Meutia. Atas kuatnya tekad perjuangan beliau, kemarin Cut Meutia juga diabadiakan dalam lembar uang resmi negara. Wajah Cut Nyak Meutia nampak di lembar Rupiah keluaran terbaru dengan nominal 1000.

Namun sayangnya momen bersejarah yang perlu diapresiasi ini, diikuti kontroversi. Baru sehari uang tersebut resmi dikeluarkan oleh pemerintah, ada beberapa golongan yang memprotes penggambaran Cut Meutia di lembar Rp. 1000 tersebut. Alasannya satu. Di lembar Rp. 1000 tersebut, Cut Meutia digambarkan tak mengenakan penutup kepala atau hijab. Salah satu yang paling keras memprotes penggambaran tersebut adalah anggota DPRA Aceh.

Menurut mereka, Cut Meutia adalah sosok wanita yang shalihah dan taat beribadah. Beberapa golongan menginginkan penggambaran Cut Meutia di lembar rupiah harusnya menggunakan penutup kepala sesuai dengan aturan yang berlaku di Aceh. Bahkan mereka juga menuntut agar pemerintah segera menarik peredaran uang Rp. 1000 dengan lukisan Cut Meutia tersebut.


Akan menarik melihat bagaimana kasus ini akan berkembang atau bagaimana pemerintah dan Bank Indonesia bakal merespon tuntutan tersebut. Tapi sekali lagi yang perlu diingat, tak sembarang orang bisa masuk dalam jajaran tokoh yang ada di uang resmi Indonesia. Cut Meutia yang wajahnya nampak di lembar rupiah terbaru adalah tanda bahwa perjuangan dan jasanya diakui oleh negara. Jika ingin menjadi bangsa yang besar, kita harus selalu mengingat jasa-jasa pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya