Selamat Hari Senin. Selamat Upacara Bendera. Selamat Hari Pendidikan Nasional. Ya, sekarang 2 Mei, seperti sudah diketahui sebelumnya, hari ini kita merayakan Hari Pendidikan. Selamat Selamat ~~~ Seperti disampaikan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, Ph. D pada pidatonya pagi tadi, tahun ini tema yang diangkat ialah “Nyalakan Pelita Terangkan Cita – Cita”.

Tema tersebut digunakan dengan harapan yang selama ini ada di pundak pendidikan bangsa, yaitu dengan mencetak manusia bermutu tinggi, tanggap, dan handal dalam menjawab berbagai tantangan perubahan jaman. Lha tapi kalau pendidikannya aja belum merata, manusia bermutu tinggi nanti juga ada di kota aja dong Pak? Dimananya yang adil?

Nah, isu kesenjangan pendidikan di bangsa ini juga sudah jamak diketahui masyarakat Indonesia. Bukan hanya mereka yang menilik langsung kesana, melainkan banyak juga yang melihat dari sinema. Seperti seringkali dikatakan, karya yang bagus ialah karya yang juga dapat menyampaikan pesan. Seperti halnya film, yang dapat menunjukkan adanya kesenjangan di bidang pendidikan. Simak yuk film apa aja sih yang dapat membuka mata kita terkait belum meratanya pendidikan di Negara ini. Siapa tahu ada yang belum kamu tonton atau mau kamu tonton lagi untuk merenungi Hardiknas yang jatuh pada hari ini.

1. Denias, senandung di atas awan. Kisah anak pedalaman yang menuntut adanya pendidikan layak dengan penuh perjuangan.

Berlatar pedalaman Papua, seorang anak bernama Denias  dikisahkan sedang berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Film yang diproduseri sekaligus dibintangi oleh Ari Sihasale dan Nia Sihasale Zulkarnaen ini, sarat akan kepedulian pendidikan di Indonesia. Pada tahu juga nggak sih, sejatinya cerita film ini diadaptasi dari kisah nyata seorang anak Papua bernama Janias, yang harus berjuang untuk bisa bersekolah. Tentunya ini menjadi film yang penuh inspirasi terutama bagi anak-anak agar tetap bersemangat dalam pendidikan di kota yang lebih mudah. Film ini sekaligus menjadi sindiran bagi pemerintah yang perlu membenahi pendidikan di Indonesia, agar merata dan tidak ada diskriminasi-diskriminasi tak masuk akal.

2. Sokola Rimba, pendidikan bukan hanya hak anak-anak kota. Mereka, yang ada di luar Jawa juga memiliki antusiasme yang luar biasa.

Advertisement

Butet yang dikirimkan oleh Prisia Nasution via img.okezone.com

Sama halnya dengan Denias, film berlatar Indonesia pasca reformasi ini juga berangkat dari kisah nyata pengalaman wanita tangguh bernama Butet Manurung. Setelah hampir tiga tahun bekerja di sebuah lembaga konservasi wilayah Jambi, Butet yang diperankan oleh Prisia Nasution akhirnya menemukan hidup yang dia inginkan selama ini. Yakni mengajarkan baca-tulis dan berhitung kepada anak-anak masyarakat Suku Anak Dalam, yang dikenal sebagai Orang Rimba. Kemudian, Butet pun bertemu dengan seorang anak rimba bernama Nyungsang Bungo yang memiliki antusias tinggi dalam belajar dan betapa ia ingin bisa mengenal baca tulis untuk melindungi tanah adat leluhurnya. Dia pun terkesan dengan semangat yang dimiliki para muridnya dan mencari segala cara agar bisa tetap mengajar disana.

3. Alangkah Lucunya Negeri Ini, film komedi yang memberi arti bahwa pendidikan lebih dari sekadar yang diajarkan di bangku sekolah.

alangkah lucunya~ via haitami44.files.wordpress.com

Film yang dirilis oleh Deddi Mizwar ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Muluk yang diperankan Reza Rahardian. Seorang lulusan strata-1 manajemen yang susah mencari pekerjaan di negerinya sendiri. Hingga akhirnya dia bertemu dengan seorang pencopet cilik yang melakukan aksinya dipasar. Memilih tak menangkap pencopet itu, Muluk malah menjadi pengajar di ‘sekolah pencopet’ tersebut, sembari menunggu pekerjaan lain yang datang nantinya. Dia pun mengelola ‘bisnis’ mencopet itu dengan sistem baru, dimana para pencopet bekerja sesuai dengan porsinya, dan setiap hasil yang di dapat akan di sisihkan 10% untuk dirinya dan ditabung. Dari situlah, Muluk mengembangkan sumber daya “pencopet” menjadi tidak mencopet lagi dan akhirnya bekerja sebagai asongan.

Banyak pelajaran yang didapat dari film ini, diantaranya, proses pendidikan itu tak sekadar berlangsung di bangku sekolah. Sebab, pendidikan merupakan suatu proses melompat. Artinya, dimana yang asalnya tidak tahu, menjadi tahu, dan yang tak mengerti menjadi mengerti. Alangkah Lucunya Negeri Ini juga membuka mata kita mengenai betapa banyaknya pengangguran, masih mahalnya biaya sekolah, dan minimnya tenaga pendidik yang handal.

4. Tanah Surga Katanya, mengenai keterpaksaan yang terjadi pada mereka yang hidup di perbatasan. Anak-anak yang tak tahu apa-apa mengenai Nasionalisme pun tak bisa disalahkan.

salah satu quotenya via 3.bp.blogspot.com

Film yang juga diproduseri oleh Deddy Mizwar ini menggambarkan sebagian kecil kenyataan yang ada di daerah perbatasan dengan Malaysia. Masyarakat disana yang miskin, melihat perhatian dari negaranya sendiri yang sangat kurang tapi tetangganya di sebelah negara lain hidup dengan baik, akan membuat kita miris dan gemas dengan pemerintahan di Negara ini. Bahkan mereka menjual hasil bumi dan hasil kerja keras ke negara Malaysia dengan mata uang Ringgit. Mereka hanya mengenal mata uang asing itu dibanding Rupiah.

Lebih miris lagi ketika anak-anak SD sama sekali tak mengenal Negara yang mereka duduki saat ini. Bukankah Nasionalisme akan tumbuh bila ditanamkan sejak dini? Pengenalan terhadap sejarah bangsa, perjuangan pahlawan, lagu nasional dan pelajaran kebangsaan lainnya sudah sepatutnya mereka dapat di sekolah dengan guru dengan kapasitas ilmu yang layak dan memadai.  Di film ini anak-anak sama sekali tidak tahu hal-hal tersebut, tak bisa menunjukkan gambar bendera merah putih, dan tak bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kenyataan kah??

5. Atambua 39 Derajat Celcius, bedah budaya lokal Timor dan pendidikan jadi salah satu persoalan yang mereka alami ‘hari ini’.

Atambuaaaa via us.images.detik.com

Seperti dikatakan sang sutradara, Riri Riza, para pemeran utama dalam film ini merupakan inspirasinya dalam film tersebut. Sebab, bukannya melibatkan para bintang ternama, Riri justru memilih masyarakat asli Timor untuk berperan dalam film berdurasi 90 menit itu. Nampak dari sana, adanya kemiskinan yang tinggi, kurangnya tingkat pendidikan dan trauma sebagai dampak perpecahan politik merupakan beberapa dari sekian banyak  permasalahan di kawasan Indonesia bagian timur yang membutuhkan perhatian. Lewat film ini, pengetahuan dan wawasan kita perihal rasa kebangsaan juga akan bertambah, apalagi soal kesenjangan, Duh!

6. Cahaya Dari Timur, Beta Maluku. Tentang anak-anak yang kudu diselamatkan saat kerusuhan, dengan bekal yang tak melulu akademik sebagai keilmuan.

Beta Maluku via sidomi.com

Diangkat dari kisah nyata perjuangan mantan pesepakbola dari Tulehu, Sani Tawainella. Setelah gagal merintis karier profesional di bidang sepak bola, dia menghidupi keluarganya dengan mengojek. Di tengah situasi konflik agama di Maluku pada akhir tahun 1990-an, dia pun mencoba menyelamatkan anak-anak dari kerusuhan dengan melatih sepak bola, hingga beberapa tahun kemudian timnya dipercaya bertanding melawan kesebelasan lain.

Film yang disutradari Angga Dwimas Sasongko ini, menganggap bahwa Indonesia Timur telah menjadi prototipe untuk seluruh Indonesia. Karena ketertinggalan infrastruktur dan kemiskinan, namun memilki alam yang indah dan kaya. Kisah Sani yang kesulitan berkarir secara profesional di ujung timur Indonesia sana, diharapkan dapat menjadi pencerahan. Sebab, dengan begitu dia bisa menyalurkan energi positifnya kepada hal lain, seperti mengajar anak-anak di daerahnya sendiri misalnya.

7. Laskar Pelangi, mengenai betapa pentingnya mimpi bagi anak-anak Negeri.

salah satu pemeran dalam Laskar Pelangi via static.republika.co.id

Film garapan sutradara Riri Riza ini diadopsi dari novel Laskar pelangi. Film ini mempunyai setting di salah satu pulau terkaya di Indonesia, Belitung. Mengisahkan perjuangan dua orang guru yang ingin agar sekolahnya tidak ditutup. Kedua guru dibantu oleh sepuluh murid yang mampunyai keistimewaan dan keunikan masing masing-masing. Perjuangan mereka disertai banyak halangan dan tantangan yang menekan, serta hampir mematahkan semangat.

Cobaan demi cobaanpun datang menguji semangat mereka. Kisah tentang perjuangan, persahabatan, semangat menggapai mimpi dikemas menjadi kisah mengharukan yang sangat inspirasional, yang tentu saja membuat film pendidikan anak ini sangat inspiratif dan sensasional.

8. Di Timur Matahari, kisah anak-anak Papua yang rindu akan pendidikan dan selalu menunggu sosok guru baru yang mencerahkan.

para pemeran via media.viva.co.id

Film besutan Ari Sihasale ini tak kalah heroiknya dalam menceritakan anak-anak Papua yang selalu semangat menanti kedatangan seorang guru baru di sekolah mereka. Meski sang guru baru tak kunjung datang, mereka selalu semangat untuk menuntut ilmu dari berbagai orang yang ada di sekitarnya. Film berdurasi 110 menit ini juga mengemas berbagai perbedaan suku, ras, dan agama dalam sebuah kisah yang cantik.

Minimnya fasilitas pendidikan di pulau paling timur Indonesia inilah yang membuat anak-anak disana merasa kurang mendapat perhatian untuk memperoleh pendidikan. Sudah enam bulan mereka menanti seorang guru pengganti datang ke sekolahnya, namun sosok yang mereka harapkan tersebut tak juga kunjung tiba. Jadi, sudah selayaknya kan kalian bersyukur dengan pendidikan yang sudah didapat selama ini?

9. Sang Pemimpi, tentang mimpi dan keinginan besar yang ada dalam diri setiap orang, dan sah-sah saja untuk selalu diperjuangkan.

sang pemimpi via 3.bp.blogspot.com

Masih diadaptasi dari tetralogi novel Laskar Pelangi, Sang Pemimpi bahkan menjadi film terlaris kedua di tahun 2009, dengan jumlah penonton 1,9 juta orang. Film yang dibintangi Lukman Sardi, Ariel Peterpan, Rieke Diah Pitaloka, Mathias Muchus dan bintang lain ini menceritakan tentang perjuangan tiga sahabat yang berjuang mencari identitas diri dan mengejar impian. Dipermanis dengan cerita anak remaja dengan problem cinta dan seksualitas usia 17 tahun, film ini menjadi inspirasi positif bagi kalian anak remaja Indonesia.

10. Temani Aku Bunda, sebuah potret buram sistem pendidikan di Negeri kita.

dokumenteer via www.21cineplex.com

Kamu pasti sudah tidak asing kan dengan kisah anak SD yang disuruh pihak sekolah memberikan contekan untuk teman-temannya sewaktu Ujian Nasional? Nah, kisah itulah yang diangkat dalam sebuah film dokumenter yang berjudul “Temani Aku Bunda”. Mengenai jeritan hari seorang murid yang jujur ketika pihak sekolah justru mendiktenya untuk memberi contekan dengan tujuan mengharumkan nama sekolah nantinya. Melalui film ini pula, pesan kejujuran dalam UN harus dipertahankan dengan kuat. Maka, jika ada anak yang melaporkan kecurangan UN, ya harusnya dilindungi.

Jadi, film mana yang sudah dan belum kamu tonton? Selamat merayakan Hari Pendidikan Nasional. Selamat belajar dan berproses menjadi pribadi unggul. Selamat bersama-sama mendukung kejujuran dan menghapus kesenjangan yaaa…. 🙂

Baca info lainnya di @Migmeseleb ya!