Jalan-jalan di pusat perbelanjaan sambil dorong troller bayi. Pakaiannya santai: cuma kaos, celana pendek, sneakers, sama backpack yang berisi apalagi kalau bukan perlengkapan bayi.

Ibu muda? Bukan. Baby sitter? Bukan juga. Ini bapak-bapak muda yang ikut ngurus anak mereka.

Menjadi ayah di usia yang masih terbilang muda memang sangat menyenangkan. Apalagi kalau ikut terlibat aktif merawat anak. Berikut ini beberapa kisah dari bapak-bapak muda yang di sela-sela kesibukannya, masih banyak menghabiskan waktu bersama anaknya. Intip yuk gimana serunya bapak yang kompakan sama anaknya!

1. Kekhawatiran bahwa hidup menjadi ayah akan membuatmu tampak tua langsung sirna saat melihat bayi mungil yang menggemaskan itu.

Melihatnya di dunia, membuatmu merasa kuat via www.babymagz.com

Awalnya, kamu khawatir bahwa setelah punya anak kehidupanmu akan berubah menjadi Kamu merasa kebebasanmu akan terancam. Rumah yang dulunya menjadi kerajaanmu mulai terusik. Sikap manja dan kekanak-kanakanmu terkalahkan.

Advertisement

Tapi ternyata tidak. Setelah kamu melihat di jagoan kecilmu hadir di dunia, semua ketakutan itu lenyap. Yang ada hanyalah perasaan ingin menjaganya. Dengan hati-hati, kamu pun mencoba menggendongnya dengan pelukan kaku, takut si mungil itu terjepit. Kamu pun mulai berbisik pelan di telinganya, “Selamat datang, Sobat!”

2. Ada keasyikan sendiri saat kamu memakaikannya baju seolah-olah dia adalah duplikatmu.

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Like father like son. Pepatah-pepatah itu memacumu untuk membuat dia benar-benar seperti kamu. Mulai dari menghiasi kamarnya dengan nuansa warna favoritmu dan menyisipkan aksesoris band kesayanganmu di salah satu sudut kamarnya. Begitu kamu menemukan baju bayi yang bergambar logo tim sepak bola kesayanganmu, tanpa pikir panjang kamu langsung memesannya. Betapa bahagianya kamu bisa memakai baju kembaran dengannya sampai-sampai layout jejaring sosialmu terpasang foto kekompakan kalian berdua.

3. Setelah lama sekali tak bangun pagi buta, kamu mulai kembali melakukannya untuk mengantar anak ke sekolah

Siap mengantarkannya via blogselasamalam.files.wordpress.com

Tanpa terasa, dia pun sudah mampu berinteraksi denganmu. Kakinya mulai melangkah, meski sering kali terjartuh dan kamu dengan tenang memintanya untuk kembali bangkit mengejarmu. Bibirnya pun sudah mulai cerewet, meskipun terdengar tak jelas dan susah dimengerti, menanyakan hal-hal yang membuatmu bingung menjelaskannya. Kamu yang selama ini bangun telat, mulai memaksakan diri bangun pagi untuk mengantarkannya ke sekolah.

4. Guru dan orangtua lain sering menyangka, kamu adalah kakaknya

Duh, masnya rajin ya masih mau disuruh nganter adiknya orangtuanya kerja ya, Mas?

Maaf, Bu, saya Bapaknya. Hehe. *sambil sok malu-malu*

Saking kompaknya gaya kamu dan anakmu, guru-guru dan orang tua murid lainnya sering nyangka kalau kamu kakaknya, bukan bapaknya. Kalau sudah gitu, kamu malu-malu bangga sih, karena itu tandanya kamu masih kelihatan awet muda.

5. Perkumpulan orangtua yang isinya ibu-ibu semua awalnya membuatmu malu, tapi lama-lama biasa

Aktif di perkumpulan orang tua murid isinya ibu-ibu semua via icebreakerideas.com

Kebetulan tempat kerjaku nggak jauh dari TK-nya Bintang (5 tahun), jadi tiap hari aku yang anter jemput. Jadi kenal akrab sama orang tua yang lain, malahan aku sering diajak perkumpulan orang tua. Malesnya, isinya ibu-ibu semua. Tapi, aku jadi banyak belajar karena mereka kan juga sudah lebih pengalaman, cerita Dana, 30 tahun.

Keakrabannya dengan warga sekolah yang lain, membuat Dana tidak kesulitan kalau dia berhalangan menjemput Bintang tepat waktu. Orang tua atau guru selalu menjaganya sebelum Dana atau istrinya datang menjemput.

6. Gak cuma ibu-ibu muda aja yang bisa nongkrong sama bayi mereka. Bapak-bapaknya juga!

Main sama teman-teman! via usatoday30.usatoday.com

Sering ikut berbagai kegiatanmu, dia pun sudah mulai terbiasa dan nggak gampang resek. Saat teman-temanmu mengajak kamu hangout, kamu pun tak ragu mengajak jagoan kecilmu untuk hangout bersama. Kehadirannya pun membawa keceriaan tersendiri bagi teman-temanmu.

Adik: “Om, punya anak yang seumuran aku?”

Om: “Belum. Om belum nikah.”

Adik: “Lhooo… kok bisa belum nikah?”

*dan tawa pun meledak bercampur bully-an*

7. Selain “Papa” atau “Ayah”, kalian punya panggilan khusus yang cuma kamu dan anakmu saja yang tahu

Gak cuma “papa” atau “ayah”!

Kedekatan kalian kadang membuat kamu enggan terus-terusan dipanggil Papa atau Ayah . Kamu pun mulai memanggilnya dengan panggilan sayang yang kamu ciptakan. Ketika dia membalas memanggilmu dengan panggilan serupa, kamu tidak marah. Sebaliknya, kamu justru tersenyum bangga.

“Hey, Bradder ayo tidur ”

“Belum antuk, Bladdel ”

8. “Mas, adiknya umur berapa?” Saat ngajak si kecil jalan-jalan, lagi-lagi kamu disangka kakaknya

Kamu kakaknya kan? via pagesix.com

Entah sudah berapa kali, saat jalan-jalan bersamanya, kamu selalu dikira kakaknya. Lagi-lagi kamu hanya menjawab sambil tersenyum sekaligus bangga karena ternyata masih tampak muda. Kalau yang nanya itu Mbak-Mbak masih kuliah, pasti deh mereka langsung pasang tampang patah hati. Maaf ya, Dik. Saya taken. Hehehe.

9. Ketika ibunya memarahi karena nilainya yang pas-pasan, kamu tetap santai mengajaknya bermain.

Main aja yuk! Hehe via www.huffingtonpost.com

Tibalah saatnya si kecilmu yang lugu mulai berulah di sekolah. Kamu harus datang ke sekolahan untuk menemui gurunya. Mendengarkan gurunya membicarakan nilainya pas-pasan, kamu hanya diam menahan tawa. Sampai di rumah, istrimu mengomelinya. Kamu hanya mendekat padanya dan berbisik, Santai, Bradder, dan senyuman di wajahnya pun kembali mengembang.

Sering banget dipanggil gurunya Zora (6 tahun), gara-gara nilai Bahasa Arab-nya jelek. Aku sih santai, aku juga nggak bisa ngajarin. Paling ibunya yang senewen, hehe Riomandha (32 tahun)

10. Siapa bilang Bapak nggak bisa khawatir karena anaknya sakit?

siapa bilang kamu gak bisa khawatir? via artnaz.com

Sering kamu ajak main bola saat musim hujan, membuatnya demam. Jagoan kecilmu yang sehari-hari berisik dan banyak tingkah jadi diam tak berdaya. Kalau sudah begini kamu jadi tak tenang saat bekerja. Hampir setiap jam kamu selalu menghubungi rumah untuk menanyakan keadaannya, sambil berkali-kali menitip pesan, Kalau ada-ada segera kabari ya. Kamu begitu takut buah hatimu kenapa-kenapa.

11. Kamu sadar dia akan segera punya dunianya sendiri. Tapi kamu tahu, kemana pun dia melangkah, kamu akan selalu ada di sisi

Sampai kapan pun kamu akan tetap menjadi teman terbaiknya via images.askmen.com

Pada akhirnya, kamu akan sadar buah hatimu tak selamanya menjadi duplikatmu. Tak beberapa lama lagi, dia akan memiliki dunianya sendiri dan menemukan jati dirinya sendiri. Kamu pun tak akan takut akan hal itu, karena kamu telah melukiskan momen-momen indah bersamanya. Kamu pun akan tetap selalu ada untuk membimbingnya.

Tuh ‘kan, nggak cuma ibu-ibu muda saja. Jadi bapak muda bisa seru juga!