Seiring maraknya tren swafoto (selfie) dan meningkatnya kisaran rata-rata megapiksel pada kamera ponsel di pasaran, silih berganti muncul beragam model foto diri di publik. Mulai dari foto di cermin toilet mal, pura-pura nyetir di mobil bareng pasangan, hingga gaya iklan obat sariawan (itu loh, selfie dengan pose menutupi mulut pakai tangan).

Di Indonesia sendiri, belakangan santer persebaran foto dengan format unik. Foto itu terbagi menjadi dua (kanan-kiri), masing-masing memunculkan sosok orang yang sama. Bedanya, kalau foto yang sebelah kiri cenderung terkesan suram, kuno, angker, dan mendung, sementara foto di sebelah kanan memancarkan hawa sumringah, segar, dan optimis akan masa depan secerah lampu Alfam**t. Lantas, biasanya di bagian bawah akan tertera tulisan Maafin aku yang dulu ya.

Ada yang menyebut itu dengan istilah foto Dear Mantan, tapi ada juga yang menyebutnya Maaf Untuk Mantan. Bebas. Yang pasti, foto itu ditujukan sebagai pernyataan sikap yang kurang lebih begini: “Hello, it’s me. Engkau yang sudah meninggalkanku, maafkan aku yang dulu tiada gunanya seperti ampas rautan pensil. Karena sosok diriku yang sebenarnya baru muncul sekarang. Maaf ya, kamu harus menyesal.”

Nah, sebelum tren sementara ini berakhir digantikan tren model fotografi yang makin bikin geleng-geleng lagi, patut rasanya kita mengenang mereka yang sudah turut menyisihkan waktu dan tenaganya untuk terlibat dalam tren ini. Mereka mewakili kita menunjukan jati diri bangsa Indonesia. Coba deh simak alasan kenapa tren Maaf Untuk Mantan ini menunjukan bahwa kita adalah bangsa yang besar:

1.Ternyata kita punya rasa percaya diri dan nyali setinggi gunung Rinjani.

Superman yang dulu dan sekarang via gambarlucupictures.blogspot.co.id

Advertisement

Sebagian orang mengaku alergi kamera (entah apakah artinya kalau dipotret lalu gatal-gatal dan tumbuh pohon cabe di ketiaknya). Sebagian lain cenderung kurang pede di depan kamera, dan hanya bersedia foto bersyarat, misal cuma saat ramai-ramai bareng teman. Alhasil, hanya kita, bangsa penuh percaya diri dengan prestasi mengusir banyak penjajah via bambu runcing, yang berani menampilkan foto selfie sendirian, langsung dua sekaligus! Pedenya dobel! Gilak!

Padahal, merancang foto Dear Mantan ini tidak mudah. Tantangannya adalah meyakinkan orang bahwa potret yang dulu itu benar-benar jelek, sementara potret yang sekarang itu benar-benar cakep. Masalahnya, tak cuma sekali kita menemukan foto Dear Mantan yang tingkat kesulitan menemukan perbedaannya itu ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. “Bedanya apa nih? Sama aja perasaan. Jangan-jangan ini kuis tebak perbedaan gambar?” Tapi mereka tetap teguh dan bersikukuh melakukannya. Sungguh sebuah aktivitas yang optimis.

2. Kita bangsa yang berjiwa besar, tak segan-segan mengakui kesalahan dan minta maaf.

Banyak pihak memperbincangkan noda dalam sejarah kelam kita. Puluhan tahun negara ini belum meminta maaf pada keluarga korban pembunuhan massal G30S PKI di dekade 60-an. Apakah artinya bangsa kita adalah bangsa yang angkuh, arogan, dan tidak kenal kata maaf? Tidak, semua terbantahkan sejak ada tren Maaf Untuk Mantan.

Tak harus menanti lebaran datang bagi kita untuk melayangkan permintaan maaf ke orang-orang yang kita sakiti. Padahal, belum tentu juga mereka merasa dirugikan, tapi pokoknya minta maaf. Caranya memohon pemaafan pun sangat dipersiapkan dan santun. Membuat foto sedemikian rupa, lalu dikirimkan tidak hanya secara privat, tapi secara terbuka di depan publik. Disiarkan di media sosial. Kita membiarkan semua orang tahu bahwa kita yang salah, bukan sang mantan. Luar biasa jantan.

3. Sudah jelas, kita juga sadar teknologi.

Agent of change via www.brilio.net

Indonesia masih tergolong negara dunia ketiga. Tapi rasa-rasanya sih kita tidak setertinggal itu dari negara-negara maju dalam hal kemajuan IPTEK. Amerika Serikat boleh bikin film Star Wars atau Jurassic World dengan teknologi visual CGI super canggih, tapi kita jangan terlalu rendah diri. Kalau cuma sulap-menyulap tampilan, kita nggak kalah berpengalaman.

Kesadaran masyarakat kita memakai teknologi (baca: aplikasi edit foto) sudah terbukti. Bahkan, anak-anak hingga remaja belia sudah melek dengan itu.  Mereka bisa menyihir muka seperti apapun menjadi muka seperti apapun. Yang jerawatan jadi kinclong, yang berkulit gelap jadi seputih tembok dibedakin. Bahkan anatomi wajah pun bisa berubah. Kita sukses memanfaatkan teknologi untuk mengubah diri menjadi seseorang yang lain di dunia maya. Karena sesungguhnya kita yang sejati hanya ada di foto SIM.

4. Kita pun bangsa yang sudah mengglobal. Apapun yang negara lain punya, kita bisa jiplak bikin juga.

Terimakasih puberitas via baklol.com

Sekedar informasi, sebenarnya tren foto before-after semacam Dear Mantan itu udah ada sebelumnya di luar negeri. Bedanya, namanya adalah thanks puberty dengan tulisan you’re doing right. Tren foto thanks puberty digunakan para bule untuk menunjukan adanya perbedaan fisik yang signifikan antara masa-masa remaja puber mereka dengan masa sekarang. Dan seperti yang sudah-sudah, kita nggak pernah mau kalah.

Ini sudah era globalisasi. Kita pasti selalu menguntit dan mengawasi apa yang mereka punya. Nggak cuma sinetron-sinetron lokal aja yang suka nyontek naskah cerita yang udah digarap karya-karya luar. Gaya hidup, kesenian, dan perilaku juga begitu. Mereka punya, kita juga punya. Mereka bisa, kita juga bisa. Bagai mantan, selalu menghantui.

5. Terakhir, kita bangsa yang menghargai sejarah dan masa lalu.

“Bangsa yang besar adalah yang menghargai sejarahnya,” tukas Presiden pertama kita. Masa lalu adalah pijakan kita untuk melangkah ke masa depan. Jangan sekali-sekali melupakan masa lalu begitu saja agar tidak hilang arah. Bolehlah isi buku sejarah di sekolah-sekolah kita suka ngaco dan ngelantur, tapi tidaklah boleh sedetikpun kita melupakan yang satu ini: mantan.

Tren Dear Mantan ini menunjukan bahkan ketika kita sudah makin handal ngedit foto tampan dan cantik pun kita tak serta merta melupakan masa lalu. Mantan jelas adalah simbol sejarah. Ibarat sertifikat dari suka duka kita atas kisah romantika sebelumnya. Mengenang mantan sembari menguras air mata dalam alunan lagu Sedih Tak Berujung-nya Glenn Fredly tak ubahnya sebuah proses belajar-mengajar.

Tuh, sadar kan betapa membanggakannya tren Dear Mantan itu untuk rakyat Indonesia? Tapi coba tenang, rileks, lemesin, minum air putih 8 gelas sehari, dan buang air  pada tempatnya sambil direnungkan dulu. Setuju nggak sama opini-opini di atas? Syukur-syukur enggak sih.