Ada polisi cantik langsung ribut, ada tukang jualan pecel cantik langsung berebut, bahkan ada perempuan cantik saat banjir semua mendadak kalut. Fenomena apa yang melatarbelakangi perempuan-perempuan cantik mendadak gampang sekali viral di dunia maya?Apa karena wajah mereka dianggap cukup mengundang gairah? Bukankah menikmati kecantikan dan ketampanan memang wujud dari adanya sebuah gairah yang dibumbui nafsu?

Kita tidak sedang mengkritisi laki-laki saja di sini. Meskipun tidak bisa dipungkiri mereka adalah salah satu lakon dalam fenomena ini. Hampir semua laki-laki menyebut diri mereka makhluk visual yang suka berpetualang. Apa yang mereka lihat kemudian diimajinasikan sedemikian rupa untuk memenuhi tuntutan akan kenikmatan (nafsu mereka). Secara biologis ini wajar? Kita tidak akan membahas itu tentunya. Yang jelas kita juga akan mengkritisi perempuannya. Meski tahu mereka sedang ‘dibeli’ secara fisik, mereka tetap diam saja. Mereka justru berbangga seolah benar-benar profesionalitas mereka yang sedang dinikmati, padahal jelas bukan.

Popularitas yang didapat dengan diawali embel-embel cantik jelas tidak mengedepankan profesionalitas. pernyataan ini jelas mengandung pro dan kontra, termasuk kamu juga tidak sabar ingin berkomentar bukan? Kali ini Hipwee mewawancarai beberapa orang dengan berbagai latar belakang, kita lihat yuk apa pendapat mereka tentang fenomena ini!

1. “Jelas mereka sedang menjual tubuh, bukan apa isi dari otak mereka. Tapi menjual tubuh pun tak sepenuhnya salah!” (Adira, 25 tahun, Jurnalis)

“Polisi-polisi cantik itu diminta mengisi acara bukan karena mereka yang paling hebat di antara teman-temannya tapi karena secara visual mereka paling bagus untuk dilihat. Bukankah pakaian polisi yang cukup ketat itu yang mengundang gairah para lelaki? Tidak munafik, mereka memang ‘menjual’ tubuh bukan hanya kecerdasan mereka. Aku nggak bilang ini salah, di media menggunakan hal-hal yang enak dilihat memang perlu.”

2. “Yang aku sayangkan cuma satu, karena tahu kecantikan mereka dibicarakan banyak orang, mereka jadi sok cantik!” (Lina, 23 tahun, Florist)

Advertisement

“Mungkin mereka memang cantik dan gara-gara terkenal mereka malah jadi sok cantik. waktunya kerja malah selfie, mereka juga menarik perhatian di medsos dengan foto-foto cantik mereka. Buat aku ini jadi nilai minus sih, mereka seolah-olah cuma punya satu modal saja di hidup mereka: wajah cantik. Sisi positif lainnya nggak ditonjolkan.”

3. “Coba lu lihat deh, mereka sebenernya nggak cantik-cantik amat, orang-orang saja yang lebay!” (Dhio, Mahasiswa)

“Menurut gue mereka yang dibilang cantik itu biasa saja sebenernya, bisa saja itu efek lighting atau editan kamera. Jadi nggak usah lebay deh sebenernya sampai dibikin judul jadi orang cantik apa lah, siapa cantik apa lah. Banyak banget muka-muka begitu juga di sekitar kita. Aku sih biasa saja, nggak menikmati sama sekali.”

4. “Yang jadi populer karena cantik begitu nggak akan lama, paling aji mumpung pas tenar. Habis itu sudah hilang~” (Dinar, Mahasiswi)

4 via tempo.co

“Habis heboh dibilang cantik, mereka biasanya ”kan bakal diminta jadi model atau bintang sinetron atau penyanyi dadakan itu, tapi yakin deh itu nggak bakal bertahan lama. Yah paling aji mumpung doang, habis itu ya hilang namanya, nggak akan ada orang yang kenal atau peduli.”

5. “Cantik itu bukan talenta ya, popularitas mereka yang gampang meredup itu buktinya.” (Fattah, Barista)

“Paling terkenal cuma dalam hitungan bulan, habis itu hilang nggak ada namanya. Setinggi-tingginya cuma jadi model, ada yang cuma keberuntungannya jadi judul di salah satu berita. Sudah, belum ada itu yang bisa sampai terlihat karyanya. Ini adalah bukti kalau cantik itu bukan talenta. Kamu nggak bisa jadi apa-apa kalau modalnya cuma cantik saja, lha wong yang cantik di dunia ini juga banyak kok. Kebetulan saja mereka yang tertangkap kamera.”

6. “Sebenarnya ini jadi bukti sih kalau cewek cantik nggak cuma dari kalangan mereka yang berduit.” (Titis, pegiat pemberdayaan perempuan)

“Selama ini yang kita lihat selalu orang-orang yang berduit yang dianggap cantik. Fenomena ini sebenarnya jadi pembantah untuk anggapan itu, orang cantik juga bisa berasal dari kalangan yang biasa-biasa saja. Tanpa make-up mahal dan tanpa barang branded. Tapi masalahnya kemudian adalah mereka yang jadi objek, mereka dikomodifikasi, fisik mereka dimanfaatkan. Makna cantik ‘asli’ mereka yang harusnya dihargai malah diubah setelah mereka populer. Itu saja.”

7. Intinya, “Menurutku cantik itu harusnya nggak dilihat dari fisik tapi kepribadiannya juga.” (Hafidza, Mahasiswi)

“Kita sering melihat syarat dalam pekerjaan adalah berpenampilan menarik. Mau apa-apa kita dituntut tampil cantik secara fisik, sementara kecantikan dari dalam dikesampingkan. Meski banyak orang berteriak bahwa inner beauty itu ada, tapi praktiknya selalu jadi nomor dua. Cantik fisik tetap yang utama, masih harus berjuang untuk mengubah pemikiran ini.”

Itulah pendapat dari teman-teman kita, Lalu apa pendapatmu sendiri? Apakah kita perlu melakukan redefinisi kecantikan agar semua orang bisa lebih paham bahwa fisik hanya salah satu dari jenis kecantikan yang ada? Dan apakah masih banyak jutaan hal lain yang bisa mendefinisikan cantik?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya