Menonton film pendek itu nggak kalah seru dibanding nonton berjam-jam film panjang box office. Kita bisa menyimak bagaimana sutradara dan kreator cerita mesti memantapkan pesan dan elemen ceritanya dalam durasi yang lebih minim. Akan tetapi, film pendek bukan sekedar film panjang yang diringkas. Sejak sempat dipopulerkan juga oleh Charlie Chaplin, film pendek menawarkan cara bertutur dan bahasa sinema yang baru dan punya ciri khasnya sendiri. Kebanyakan mengusung plot yang sederhana, tapi ada juga yang mencoba membawakan kisah dengan sentuhan fantasi atau berangkat dari peristiwa-peristiwa besar. Kreativitas benar-benar diuji untuk bisa memikat penonton dengan durasi tidak seberapa.

Nah, yang harus kamu tahu, geliat film pendek di Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata lo. Banyak sineas muda yang menelurkan karya-karya menakjubkan. Ganjarannya pun ialah deretan prestasi di ranah lokal maupun Internasional, dibuktikan dengan raihan penghargaan dari festival dunia bergengsi. Berikut, Hipwee membuat senarai atau daftar film-film pendek buatan anak bangsa yang bakal membuatmu terkesima. Catat, dan habis itu segera cari akses dan kesempatan ya buat nontonnya.

Sepatu Baru, tugas kuliah yang berakhir sebuah penerbangan ke Jerman.

Menanti hujan berkesudahan via cinemapoetica.com

Aditya Ahmad mengaku sempat sesak nafas kala film pendek arahannya yang bertajuk Sepatu Baru meraih penghargaan pada salah satu festival film bergengsi di Berlin. Pasalnya, Sepatu Baru mulanya sekedar digarap sebatas sebagai tugas akhir persyaratan lulus kuliah. Namun, belakangan malah membawanya terbang ke Berlin dan dianugerahi Special Mention pada kategori Generation KPlus di gelaran ke-64 festival film yang dikenal juga dengan sebutan Berlinale itu. Premis ceritanya sederhana, ihwal upaya keras seorang anak perempuan (Isfira Febiana) untuk menghentikan hujan melalui tradisi lama melemparkan celana dalam ke atap rumah. Simpel banget ya, tapi cerdas.

Adam, persahabatan seorang bocah dan action figure.

Maret 2012, Adi Putra atau akrab disapa Adip menuturkan warta gembira perihal kepastian filmnya yang bertitel Adam untuk diputar di festival film internasional Cannes dalam program Cannes Classic. Adam adalah film fiksi pertamanya yang diproduksi oleh University of Southern California (USC), di mana Adip menuntut ilmu. Digarap di usianya ke-22, film berdurasi 6 menit itu mengangkat tokoh utama seorang anak laki-laki berumur 10 tahun. Ia mencoba bertahan di keluarga yang carut marut dengan menciptakan dunia fantasinya sendiri. Action figure pun jadi teman imajinernya.

Maryam, jawara di festival film legendaris.

Advertisement

Meyke Vierna sebagai Maryam via www.muvila.com

Berdurasi 17 menit, Maryam mengusung tokoh seorang perempuan muslim yang mulanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun berakhir terjebak dalam ritual rohani agama lain bersama penderita autisme. Pergolakan batin menjadi konflik yang dieksplorasi dalam Maryam. Tahun 2014 lalu, film arahan Sidi Saleh ini sempat meraih prestasi prestisius, yakni memenangkan kategori film horizon pendek yang jenis ceritanya belum pernah ada sebelumnya pada gelaran ke-71 dari salah satu festival film tertua di dunia, Venice International Film Festival. Rahasianya, Maryam dipandang sukses menyajikan kecenderungan estetika dan ekspresi anyar di percaturan sinema dunia.

A Lady Caddy Who Never Saw a Hole In One, salah satu film pendek lokal paling ikonik.

Golf di pematang sawah. Unik! via mubi.com

Ning, seorang lady caddy mesti melewati dialog yang absurd namun berlapis makna ihwal cinta, tanah air, dan kemujuran. Eksistensi profesi caddy yang bergeser merambah kebutuhan untuk diisi kaum perempuan sejak dekade terakhir ini juga dapat ditelaah lewat A Lady Caddy Who Never Saw a Hole In One. Sutradaranya tak asing lagi untuk kamu, para penggemar film-film pendek, yakni Yosep Anggi Noen. Selain sarat pesan, karya ini juga salah satu film pendek lokal dengan latar paling ikonik: orang-orang berkostum pemain golf berada di tengah hamparan sawah. Gokil.

Lemantun, hanya tentang almari.

Mengupas lika-liku keluarga lewat lemari via cinemapoetica.com

Asal tahu aja, film ini cuma ngomongin lemari. Namun, penghargaan di setiap kategori juri pada XXI Short Film Festival 2015 disapu bersih. Lemantun adalah bahasa Jawa dari lemari, dan dalam durasi 20 menit, film ini gencar mengupas lemari secara filosofis. Ide kisah diilhami dari kisah nyata yang dialami Wregas Bhanuteja, sang sutradara yang punya Eyang yang mewariskan lemari ke anak-anaknya. Gagasan awal cerita yang unik itu dirajut untuk memunculkan muatan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat. Bahkan, awal tahun ini, Paul Grigson selaku duta besar Australia untuk Indonesia sempat mengklaim Lemantun sebagai film lokal favoritnya.

Lembusura, kembali Wregas Bhanuteja mencetak karya emas.

Lembusura, penunggu gunung berapi via arkipel.org

Jika Lemantun terinspirasi dari pengalaman yang mengakar di keluarganya, ide cerita Lembusura diperoleh dari ketidaksengajaan, bahkan musibah. Meletusnya gunung Kelud yang berdampak hujan abu di Yogyakarta membangkitkan naluri Wregas Bhanuteja untuk merekam dan membuat adegan tentang itu. Aksi itu digabung dengan mitos roh Lembusura sebagai penjaga gunung Kelud yang disampaikan dengan eksperimental. Terpilihnya Lembusura ke festival film Berlinale 2015 lantas membuatnya menjadi sutradara termuda yang turut berkompetisi di sana.

The Fox Exploit The Tiger’s Might, antara seksualitas dan kekuasaan.

militer, seks, dan kuasa via www.youtube.com

Lucky Kuswandi membuat para penonton sulit bernafas tatkala The Fox Exploits The Tiger’S Might diputar di Cannes International Film Festival. Represi dan ketegangan yang dibangun telah tersampaikan. Persinggungan dengan sejarah Tionghoa juga sanggup dicerna. The Fox Exploits The Tiger’S Might berkisah tentang dua anak laki-laki praremaja–dengan latar belakang berbeda–yang sama-sama tengah bergelut dengan perkembangan seksualitas mereka. Film itu juga menggambarkan hubungan antara seks dengan kekuasaan di sebuah kota kecil menjenuhkan yang memiliki pangkalan militer di dalamnya.

Sendiri Diana Sendiri, film tentang perempuan dari putri Garin Nugroho.

Raihaanun dan Tanta Ginting via cinemapoetica.com

Kendati durasinya 40 menit, karya Kamila Andina ini tergolong film pendek. Dengan titel bahasa Inggris Following Diana, film ini diputar di Toronto International Film Festival 2015. Diana Sendiri Diana mencoba mewakili persoalan perempuan di Indonesia, terutama akan kecamuk perasaan sebagai seorang istri sekaligus ibu.  Kamila Andina mengeksplorasi perasaan seorang wanita bernama Diana yang berusia 30 tahun ketika menghadapi masalah kerumahtanggaan dan hasrat suaminya untuk mempermadukannya.

Harap Tenang Ada Ujian!, berangkat dari gempa Yogyakarta yang membekas.

Harap tenang! via cinemapoetica.com

Film ini tergolong berumur, lantaran diproduksi sejak 2006 lalu. Ifa Isfansyah yang belakangan kian mapan di ranah sinema box office ini menangkap peristiwa gempa bumi 5.9 skala richter yang melanda Yogyakarta di tahun yang sama. Harap Tenang Ada Ujian! juga menyiratkan adanya kebobrokan dalam pelajaran sejarah di Tanah Air yang memicu sikap curiga dan persepsi buruk pada negara bekas penjajah. Biar nggak penasaran, kamu udah bisa kok langsung menonton film ini melalui kanal Youtube.

Tuh,  semua film di atas kelihatannya sederhana dan nggak banyak makan biaya. Tapi, hasilnya tetap luar biasa. Bahkan bisa buat kamu melanglang buana ke luar negeri dan pulang bersama penghargaan. Nah, kamu perlu tahu kalau Plaza Indonesia telah membuka jalanmu ke sana lewat gelaran Plaza Indonesia Short Film Competition 2016.

Dihelat oleh pusat perbelanjaan premium di pusat Jakarta, kompetisi film pendek fiksi ini tidak memungut biaya. Mengusung tema Celebrating Women, kriteria karya yang bisa dilombakan adalah film pendek dengan tema yang mengisahkan perempuan, mulai dari kultur, gaya hidup, cinta, karir, perjuangan hidup, ibu, anak perempuan dan lain-lain. Karya harus diproduksi dalam rentang waktu antara Januari 2015 hingga April 2016 dengan batasan durasi 3 menit sampai 25 menit. Waktu penyerahan film dan berkas administratif diperpanjang hingga 30 April 2016.

Hadiah yang disediakan juga tak main-main. Karya film pendek terbaik akan menerima pundi-pundi sebesar 50 juta rupiah disertai kesempatan memproduksi film pendek baru untuk ditayangkan secara perdana di gelaran Plaza Indonesia Film Festival 2017. Ada juga masing-masing 10 juta rupiah untuk pemenang kategori Best Performance (Actor/Actress), Best Script, dan Best Short Film Based on Viewer’s Choice.

Jadi tunggu apa lagi? Langsung ambil video perekam andalanmu, dan action!