Seandainya kamu dapat mengulang lagi masa kecilmu, apa yang akan kamu lakukan? Momen apa yang ingin kamu kembalikan?

Masa kecil memanglah momen yang paling menyenangkan. Kata orang, pada masa-masa inilah problema hidup terberat kita hanya soal matematika. Selain itu, yang kita lakukan adalah bermain, tertawa, dan lari berkejaran. Kehidupan sosial kita terhadap kawan-kawan sebaya juga begitu tinggi dan akrab. Terlebih, gadget atau telepon seluler belum sepopuler masa-masa sekarang.

Ya! Ponsel memang alat komunikasi yang bermanfaat bagi manusia. Dahulu kita sebatas mengenal ponsel sebagai benda yang bisa menggantikan telepon duduk dan pager. Sanak saudara dan kekasih yang terbentang jarak ribuan kilometer, bisa disatukan dan dihubungkan dengan perantaranya. Kini tak sekedar telepon dan SMS saja, ponsel kita telah terhubung dengan internet, kamera, dan sejumlah dokumen lainnya. Sejujurnya aneka pekerjaan sehari-hari manusia juga semakin dimudahkan. Tapi di sisi lain, kehidupan sosial penggunanya juga semakin berkurang. Berkat ponsel dan kecanggihan teknologi terkini, orang yang dekat pun bisa serasa jauh.

Apesnya, fenomena ini tak hanya melanda orang dewasa saja. Anak-anak kecil modern pun sudah dijejali dengan gadget dan ponsel canggih terkini. Tak mengherankan apabila kehidupan sosial anak-anak masa kini juga berbeda jauh dengan masa kecil kita dulu. Banyak dampak-dampak negatif yang disebabkannya. Coba sekarang kamu pikirkan! Apakah benar anak kecil masa kini pernah mengalami indahnya masa kecil kita sebagai berikut?

1. Betapa bahagianya kita yang mampu terbahak dan berkejaran bersama kawan di lapangan. Kebahagiaan ini justru muncul ketika harga gadget belum terjangkau.

Berlari, berkejaran, bernyanyi, dan tertawa dengan kawan-kawan via www.groundworkopportunities.org

Advertisement

Ingat-ingat lagi, deh! Apa yang akan kamu lakukan setelah jam sekolah usai? Buru-buru pulang, ganti baju, lalu makan siang dengan masakan bikinan ibu. Terus? Belajar? Yakin langsung belajar? Pasti banyak di antara kamu memilih untuk cepat-cepat keluar rumah dan bermain dengan anak-anak satu kompleks. Permainan yang begitu lekat dalam ingatan adalah lompat tali, gobag sodor, ular naga, dan jamuran. Bisa juga kamu mampir ke rumah teman dan bermain-main boneka atau mobil-mobilan kepunyaan sahabat terbaikmu.

Gak jarang kamu atau salah satu teman tiba-tiba menangis. Alasannya mainan kesayanganmu rusak. Atau tanpa sengaja temanmu membuatmu terluka. Mengalami kekalahan yang terus-menerus juga jadi bahan keluhanmu. Kamu yang belum cukup dewasa, dengan begitu mudahnya menangis jika menemukan masalah-masalah kecil. Kadang kamu mengambek atau marah dengan kawan-kawanmu karena masalah sepele. Kalau sudah begini, segera kembali ke rumah dan mengadu pada orang tualah jalannya. Bukan seperti sekarang, dikit-dikit ngadu ke media sosial.

2. Berbincang dengan orangtua di malam hari membuat kita merasa diperhatikan. Namun anak masa kini lebih senang memperhatikan gadgetnya dibandingkan diperhatikan orang tua.

Bagaimana harimu di sekolah, nak? via www.matrony.ru

Sore segera menjelang. Setelah rutinitas seharian di sekolah dan bermain-main dengan kawan sekompleks, sudah waktunya menyisakan waktu untuk keluarga sendiri. Saat anggota keluarga lainnya berkumpul di ruang keluarga, kamu ikut serta. Pekerjaan rumah dari guru dikerjakan sembari menonton sinetron kesayangan keluarga. Kalau kesulitan menghadang, ayah, ibu, atau pun saudaramu lah yang dijadikan sasaran agar membantu. Ayah dan ibu juga turut menjadikan kesempatan ini untuk berbincang.

“Bagaimana dengan sekolahmu, nak? Dapat nilai berapa dari ujianmu?”

Kamu pun bercerita panjang lebar tentang bagaimana kamu menghabiskan waktu istirahat, bagaimana kawan-kawanmu mengobrol dan mengajak bermain, serta nilai yang kamu dapatkan dari ujian terakhir. Tak jarang kehangatan dan keakraban ini terbawa hingga meja makan.

Kelak, kamu tak akan pernah mau menggantikan momen spesial ini lagi dengan apapun. Sebab mereka yang kini telah sibuk berkawan dengan gadget, akan lebih senang menghabiskan waktu sendirian. Waktu berjam-jam dipenuhi dengan ketukan-ketukan tangan pada layar yang bercahaya. Orang tua yang sibuk dan lelah di malam hari, bisa jadi lebih memilih memantau atau kepoin anak-anaknya dari status media sosial. Mereka bisa saja menanyakan secara langsung, tapi mungkin juga anak masa kini yang memilih membatasi diri.

3. Kamu tetaplah menjadi seseorang yang sesuai dengan usiamu. Usia mudamu terjaga dari hal-hal yang membuatmu lebih tua terlalu dini.

Kalau sekarang, kayak gini udah diciye-ciyein via dc379.4shared.com

Waktu kamu kecil, bergandeng tangan dan bermain bersama dengan teman lain jenis terasa wajar-wajar saja. Tidak ada perasaan lebih dibandingkan persahabatan yang indah. Kamu bebas melakukan apapun tanpa perasaan was-was. Tertawa dan tersenyum selayaknya bocah kecil, itu saja. Kalau kamu hidup sebagai anak-anak di masa kini, barangkali kata-kata godaan dari teman lah yang datang. Kalian akan disangka-sangka mempunyai perasaan cinta satu sama lain atau pacaran.

Karena semakin mudahnya memiliki gadget dengan harga terjangkau, anak-anak masa kini begitu mudah melihat hal-hal yang diperuntukan untuk orang dewasa. Tinggal browsing saja dari ponsel, gambar-gambar yang sesungguhnya belum layak dilihat, belum layak ditiru, atau harus melalui bimbingan orang tua dapat terakses tanpa sepengetahuan orang tua atau keluarga. Maka jangan heran jika kita melihat sosial media kita sempat diwarnai dengan foto-foto anak usia sekolah dasar bersama kekasih mereka. Bahkan lagak mereka sudah seperti manusia dewasa dengan pose atau kata-kata tertentu. Sungguh mereka sudah dewasa terlalu cepat.

4. Kamu yang kini sering serampangan mengendarai kendaraan (baca: menyetir sambil main hp), harus berkaca pada masa lalu. Meski hanya mengenakan sepeda, anak kecil senantiasa menjaga keselamatan diri.

Bermain sepeda seperti sangat menyenangkan via bikereview.info

Kamu yang sudah dewasa, kerapkali tak sadar hendak mencelakai diri sendiri. Lihatlah bagaimana tingkahmu saat mengendarai motor atau mobil! Saat motormu masih melaju di tengah jalanan yang ramai, salah satu sisi tanganmu malah menyentuh ponsel. Matamu sesekali melihat jalanan, sesekali melihat layar ponsel. Jarimu tetap saja diketuk-ketukkan ke layar dan buru-buru membalas SMS atau chat dari pacar. Lain lagi kamu yang mengendarai mobil. Gak cuma SMS, telepon pun dilakukan selagi menyetir kemudi. Meski teknologi headphone sudah tercipta, belum karuan semua orang mau menggunakan perangkat keras yang dapat meminimalisir resiko kecelakaan ini.

Tengoklah ke masa-masa kecilmu. Mungkin kamu hanya naik sepeda yang tak punya mesin. Kecepatannya pun tak lebih dari motor atau mobilmu. Tapi ingatlah sekali lagi bagaimana kamu benar-benar menjaga keselamatanmu. Meski sepeda tak ada apa-apanya, kewaspadaanmu maksimal. Matamu pun awas melihat tiap sudut perjalanan, jika saja kendaraan lain tiba-tiba muncul mendadak. Kedua tangan tak pernah lepas dari stang kemudi. Sangat kontras dengan kebiasaanmu kala mengenakan saat berkendara.

5. Membaca buku jadi kebiasaan yang ditanamkan orang tua dan guru sedari kecil. Tapi apakah waktumu membaca buku kini sudah sama seringnya dengan waktumu membuka aplikasi chatting?

Membaca buku sebagai ladang ilmu via smpn23pekanbaru.files.wordpress.com

Ketika waktu terakhirmu terlihat di chat ponsel adalah semenit yang lalu, apakah waktu terakhir kamu membuka dan membaca buku juga semenit yang lalu? Atau bahkan setahun lalu lamanya kamu tampak membaca buku?

Sedari kecil, orangtua, bapak, dan ibu guru menekankan agar selalu rajin membaca buku. Lewat membaca buku, ilmu kita bertambah selalu. Kita tak akan menjadi seekor katak dalam tempurung kalau buku selalu mengisi hari-hari kita. Apa yang ada di belahan dunia bumi ini dapat kita ketahui hanya lewat kumpulan lembaran-lembaran kertas tersebut. Oleh karenanya, masa kecil kita begitu senang apabila dibawa ke perpustakaan. Banyak buku-buku bagus dan bermanfaat saat kita berkunjung ke sana. Terkadang perlu berebut juga dengan kawan lain saat meminjam buku.

Jangan pernah tanya di mana Google atau Whatsapp, Line, dan sebagainya berada. Masa kecil kita tak sedikit pun manja dan sering-sering bertanya pada Google atau deretan teman dalam kontak chat kita. Kita benar-benar mandiri dan tangguh dalam memecahkan masalah. Terutama soal-soal pekerjaan rumah dari bapak dan ibu guru. Kita juga punya kebebasan bermain dan belajar sepenuhnya karena tak pernah ada bunyi notifikasi-notifikasi dari ponsel beroperasi Android! Sungguh tenteramnya pikiran kita!

6. Bahagianya punya masa kecil yang bisa membaur dengan siapa saja, tanpa perlu kenal gengsi. Apalagi gengsi gara-gara masih memiliki handphone kuno.

Kamu pake hp monochrome ya? via thespeechnetwork.org

Bergaul dengan kawan-kawan di masa sekolah dasar dahulu tidaklah mengenal banyak rintangan. Semuanya sama saja. Kita begitu bebas berkawan dengan semua teman di kelas, meskipun pada akhirnya mereka menemukan masing-masing kawan yang dirasa cocok. Akan tetapi, paling tidak kita tak mengenal bully hanya karena permasalahan telepon seluler.

Anak-anak masa kini kerap menjadikan apa yang dilihat dan diakses via ponsel sebagai perbincangan kala istirahat dan waktu pulang. Bagi anak yang tidak memiliki ponsel canggih atau minimal beroperasi Android, siap-siap saja. Selain tidak akan nyambung dengan pembicaraan kawan-kawan, dikucilkan dari kawan-kawan lainnya bisa saja terjadi. Bahkan jadi bully-an karena ponsel masih berlayar monochrome, mungkin terjadi.

7. Saat anak masa kini bebas mengunduh games di toko aplikasi, kita punya kenangan berbeda. Meski mainan yang dibuat sendiri jelek, rasa puasnya tak terkalahkan.

Jelek, tapi jadi kreatif via 3.bp.blogspot.com

Yang masa kecilnya pernah bermain mobil-mobilan dari kulit buah jeruk bali, angkat tangan! Yang pernah bermain-main dengan daun singkong yang dibentuk menjadi orang-orangan, tunjukkan jarimu! Betapa ajaib ya masa kecil kita yang dekat dengan alam? Semua bahan-bahan yang diperlukan untuk bermain bersama kawan-kawan juga tersedia dari alam. Meskipun jelek dan tidak tahan lama seperti mainan ala pabrik, kamu patut bersyukur. Sebab permainan apapun yang kamu inginkan, kamu selalu kreatif. Tidak pernah sedikitpun kamu kehabisan cara supaya bosan bermain. Ingin bermain masak-masakan, tinggal ambil dedaunan dan tali putri agar jadi bakmi kuning kesukaanmu.

Bandingkan dengan generasi anak-anak masa kini yang tak mencicipi indahnya dekat dengan alam sekitar. Yang mereka mainkan ketika waktu senggang adalah sederet games di ponsel. Semuanya bisa mereka update kapan saja melalui play store. Meski memang stimulus mereka terbangun, apakah itu juga menjamin kepekaan terhadap alam dan kehidupan sosial?

8. Ketika gadget belum sanggup terbeli, ketepatan waktu adalah prioritas utama saat mengajak temanmu bermain. Kalau sekarang, sedikit-sedikit mengabari “Aku telat sedikit, ya!” via chat baru nongol satu jam kemudian.

Andi, main yuukk! via www.mykidsadventures.com

Ketika ingin berkumpul dan bermain ramai-ramai dengan teman sekomplek, kamu harus datang terlebih dahulu ke rumahnya. Sesampainya di pagar atau pintu rumahnya, kamu berteriak-teriak memanggil namanya.

“Andy, main yuk!”

Meski di masa itu kamu belum punya gadget, kamu memenuhi janjimu bermain dengan kawan secara tepat waktu. Alat komunikasi saat itu boleh saja sederhana atau masih minim. Tapi soal kepercayaan dan ketepatan waktu, percayalah pada anak-anak jaman dahulu. Mereka tidak akan sedikit-sedikit mengabari keterlambatan dengan macam-macam alasan, seperti anak sekarang via BBM, Line, Whatsapp, dsb. Bahkan teriakan ajakan bermain dari luar rumah, mampu membuat anak-anak masa dulu dikenal baik oleh keluarga temannya. Tak jarang ibu si teman mengajak makan siang bersama atau sekedar minum dan menikmati cemilan sembari menunggu temanmu keluar dari kamarnya.

9. Meski pengalaman naik pohon dan mencuri buah itu kampungan, setidaknya kamu yang pernah hidup tanpa gadget tak saling diam dan memandang ponsel masing-masing.

Main sama anak cowok, manjat pohon buah punya tetangga terus dipetik dan dimakan via drfernandosalas.com

Siapa yang semasa kecilnya sering memanjat pohon buah milik tetangga tak dikenal, lalu buahnya dimakan tanpa ijin? Hayooo ngaku! Kita yang pernah mengalaminya pasti akan geleng-geleng kepala dan tobat kalau mengingat-ingatnya. “Kok bisa ya kita senakal itu, teman?” Tapi jangan pernah memungkiri kalau masa kecilmu jadi komplit karenanya. Meski kadang kalian terkesan norak, kampungan, dan tidak sopan, kalianlah pemilik masa kecil yang bahagia. Kalau saja saat itu kalian sudah mengenal gadget, paling-paling kalian berkumpul untuk saling diam dan memelototi layar ponsel masing-masing. Percayalah itu! Buktinya saat kalian kini sudah dewasa, kalian melakukan itu kan?

“Masa kecil yang bahagia adalah masa kecil yang begitu natural dan apa adanya, tidak dibuat-buat.”

Masa kecil kita ternyata bisa begitu berkesan hingga kini meskipun tanpa kehadiran teknologi yang canggih. Kehidupan sosial antara teman dan keluarga jadi yang utama. Sebab kita tak pernah tahu kapan kebersamaan dengan mereka akan berakhir. Kita tak pernah tahu juga apakah nanti akan dipertemukan lagi dengan mereka. Alih-alih mengutamakan penggunaan gadget sebagai alat komunikasi, nikmatilah waktu berkualitasmu dengan mereka. Percayalah, suatu saat kamu akan begitu merindukan mereka.

“Kebersamaan adalah hal yang tak terlupakan saat berkumpul dengan kawan-kawan. Jangan sampai kamu menyesal karena kebersamaan itu habis dan tak pernah kembali karena gadget.”