Baru-baru ini selebriti bernama Anggita Sari bikin heboh lagi, dia curhat panjang di Instagram-nya setelah dipukuli oleh pacarnya. Kalau kamu ingat, Anggita Sari adalah selebriti yang cukup sensasional. Ia pernah menjalin hubungan dengan gembong narkoba, Freddy Budiman. Anggita pun sempat dikaitkan dengan fenomena prostitusi artis dan sempat nimbrung di kasus Ayu Ting-ting dan terakhir ikut berkomentar juga di kasus dugaan perselingkuhan rumah tangga Raffi-Nagita.

Curhatan panjang Anggita tak lepas dari pantauan akun gosip seperti @lambe_turah yang menganggap aksi Anggita tak lebih dari cari sensasi belaka. Terlepas apakah itu sensasi atau bukan, Hipwee ingin mengajak kamu sama-sama berpikir lebih jauh tentang bagaimana kita menggunakan media sosial dengan bijak.

Sebagai figur publik, kehidupan selebriti dan apa yang mereka lakukan bisa menjadi gambaran apa yang terjadi di masyarakat kita. Ketika para selebriti terbiasa curhat panjang di media sosial dan mengumbar kehidupan pribadinya, mungkin masyarakat kita secara luas juga melakukan hal yang sama.

Banyak selebriti yang bercerita panjang lebar di media sosial saat mereka sedang emosional, apakah media sosial sudah dianggap seperti buku harian?

Curhatan Anggita Sari via instagram.com

Bukan cuma Anggita Sari saja yang pernah bercerita panjang lebar tentang kejadian yang ia alami di media sosial. Artis yang lain pun banyak. Ely Sugigi misalnya, ia juga pernah curhat tentang suami barunya yang selingkuh melalui Instagram. Nikita Mirzani pun mengumbar hal-hal serupa tentang kehidupan pribadinya.

Advertisement

Bisa dibilang, apa yang sebenarnya bisa dikirim melalui pesan pribadi sengaja mereka ungkap di media sosial agar orang lain tahu juga atau agar media mengangkatnya jadi berita. Para selebriti lebih suka saling sindir di media sosial dibandingkan melayangkan pesan pribadi pada orang yang dimaksud. Kasus Stuart Collin saat menyindir mantan istrinya Risty Tagor bisa jadi salah satu contoh nyata.

Kebiasaan mengumbar kehidupan di media sosial kadang menjebak para selebriti dalam perangkap yang mereka buat sendiri kalau tidak mau disebut sensasi. Curhatan Revi Meriska setelah minum minuman keras dan nge-seks merupakan realita yang tak terbantahkan.

Dengan jumlah follower ratusan ribu hingga jutaan, bukankah unggahan mereka memang ditujukan untuk konsumsi banyak orang secara sengaja?

Pasti buat konsumsi publik kan? via pojoksatu.id

Dengan akun yang terbuka alias tidak digembok, tujuan mereka mengunggah foto atau informasi tertentu pastinya disengaja untuk konsumsi masyarakat umum. Bahkan artis yang menggembok akunnya kadang juga nggak pilih-pilih saat menerima permintaan teman, alhasil jumlah follower-nya pun tetap banyak dan akunnya tetap nggak privat. Jadi bisa dibilang, akun-akun para selebriti ini fungsinya sudah menyerupai media massa.

Tapi lucunya, beberapa selebriti kadang nggak terima kalau unggahannya dihujat oleh haters. Apa memang netizen yang kurang beretika atau…. ?

Komentarnya jahat sih 🙁 via boomee.com

Para artis menerima ratusan ribu hingga jutaan follower kemudian menginformasikan sesuatu di media sosialnya. Tapi ketika ada yang nyinyir atau menghujat, mereka marah. Ini aneh nggak ya? Namanya juga netizen, jumlah massa yang begitu banyak dan tidak mungkin kita seragamkan pemahamannya. Kalau ada yang memosisikan diri sebagai pihak yang melawan atau kontra itu merupakan fenomena yang biasa.

Tapi mungkin para selebriti jengah juga dengan tingkah para haters atau netizen yang komentarnya terlalu pedas dan tidak beretika. Harus kita akui kalau yang mengesalkan seperti itu memang ada. Misalnya kasus bullying yang dilakukan netizen pada anak Mulan Jameela waktu itu. Secara moral itu cukup keterlaluan, meski tindakan anak Mulan juga belum tentu bisa dibenarkan. Masyarakat harus disadarkan tentang pentingnya beretika di media sosial.

Fenomena hujat-menghujat dan cari sensasi memang kompleks untuk dipahami, karena di sisi lain selalu ada uang di balik setiap kepopuleran

Endorse via idelaris.com

Di satu sisi memang ada sebagian dari masyarakat kita yang kurang bisa menjaga etika. Tapi di sisi lain kita juga paham bahwa memutuskan untuk menjadi selebriti berarti harus siap dengan semua konsekuensinya. Mereka mendapatkan uang dari kepopuleran dan kepopuleran mereka dapatkan dengan membuat sensasi.

Tentu, tidak semua artis mengejar kepopuleran dengan sensasi, karena banyak pula yang melakukannya dengan berjuang meraih prestasi.

Semakin banyak hujatan yang mereka terima maka akan semakin populer mereka. Dengan kepopuleran itu mereka bisa mendapatkan tawaran pekerjaan atau minimal endorse di Instagram. Beberapa selebriti masih berkutat dalam metode mencari pendapatan dengan cara ini.

Kita memang berbeda dengan selebriti, tapi kita bisa mengambil pelajaran pentingnya: privat akun media sosial kita jika kamu masih ingin berusaha menjaga privasi

Privat akun facebook via youtube.com

Kasusmu mungkin berbeda dengan mereka para selebriti karena sebanyak-banyaknya penggemarmu paling hanya sejumlah ribuan. Tapi pelajaran tentang pentingnya menjaga privasi sama saja. Kita sering kali tidak bisa menahan emosi untuk tidak curhat di media sosial atau memberikan unggahan yang bersifat sangat pribadi. Memprivat akun sendiri mungkin bisa sedikit membantu, walau sebenarnya informasi tentang kita tetap tidak aman ketika sudah masuk di dunia maya. Yah, ini konsekuensi natural dari beraktivitas dengan media sosial sih. Yang bisa kita lakukan adalah meminimalisir risiko yang muncul.

Ingin mendapat banyak like atau komentar? Itu sama sekali tidak penting di usia sedewasa ini. Mungkin kita bukan siapa-siapa sekarang, tapi nanti? Nggak ada yang tahu, kemungkinan ada pihak yang memanfaatkan informasi lama yang kita miliki selalu ada. Jadi selagi masih bisa berhati-hati dengan tidak mengumbar privasi kenapa kita tidak melakukannya?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya