Masih hangat di ingatan kita akan kasus yang menjerat ustaz muda, Ustaz Syam pada Sabtu (15/7) lalu terkait konten ceramahnya di acara TV swasta. Ustaz bernama lengkap Syamsuddin Nur Makkah ini mengatakan hal yang dinilai salah oleh banyak orang: kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks. Tapi setelah acara tersebut usai, ustaz berusia 25 tahun itu langsung meminta maaf. Tentu hal ini menjadi pengalaman yang berharga bagi siapapun juga.

Tapi, hal ini tetap harus menjadi concern kita semua. Memang termaafkan sih, namun kita nggak boleh melupakannya. Hal ini bisa terjadi karena beberapa hal mendasar yang sekarang dilupakan banyak orang. Nah kali ini Hipwee mencoba mengingatkan tentang hal-hal mendasar yang bisa menyebabkan “kepleset lidah” ini bisa terjadi. Disimak aja yuk!

Begitu mudahnya orang disebut ustaz di Indonesia. Berjenggot dan bersorban, sudah deh disebut ustaz!

Ustaz Syam. via tribunnews.com

Menjadi panutan orang dalam hal agama itu tidak mudah. Dalam bahasa aslinya, bahasa Persia yang kemudian diserap oleh bahasa Arab, uztaz memiliki artian “pendidik” atau juga bisa dikatakan sebagai “pakar”. Sementara di Indonesia, kalau orang sudah berpenampilan bak orang alim dan fasih baca beberapa surat, maka sudah disebut ustaz. Nilai ustaz di Indonesia ini terlalu rendah. Padahal kalau aslinya, menjadi ustaz itu nggak mudah dan kalaupun sudah jadi, memiliki kewajiban yang besar sekali. Yaitu kewajiban untuk mengajar orang lain.

Satu lagi, bagaimana mungkin mengukur kealiman seseorang? Alim dan tidak alimnya seseorang itu urusan Allah. Nggak bisa dilihat oleh mata manusia. Karena keseringan kealiman agama yang tidak ada ukurannya ini dijadikan faktor penilaian manusia, maka sering pula orang Indonesia ini salah dalam memilih. Entah memilih pejabat, teman, guru, dan lain sebagainya.

Selain mungkin kurang ilmu, Syamsuddin Nur Makkah sepertinya tidak paham soal public speaking

Advertisement

Udah nyiapin materi belum?? via linkedin.com

Menyiapkan materi untuk kamu bagikan pada banyak orang nggak bisa sembarangan meski kamu sudah tahu siapa calon pendengarmu nantinya. Kerucutkan lagi materi yang akan kamu bawakan. Buatlah lebih spesifik lagi. Petakan temanya dan berilah batasan yang jelas, agar nggak melebar dan menjadi bumerang buatmu sendiri. Inilah yang kerap menjadi kesalahan orang-orang dalam memberikan materi di depan umum. Di luar semua masalah budaya beragama di Indonesia yang memang agak keliru, jelas bahwa kasus yang menimpa Syamsuddin Nur Makkah adalah karena kurangnya pemahaman materi dan pemahaman audiens.

Yang sering menjadi tantangan adalah bahwa orang-orang Indonesia ini seringnya lebih suka dengan ustaz yang menghibur. Tidak penting isinya salah atau benar tapi kalau penyampaiannya menyenangkan pasti orang bakalan suka. Padahal menyenangkan dan benar itu dua hal yang sangat berbeda. Selain mungkin para ustaz muda macam Syamsuddin Nur Makkah harus belajar lagi soal public speaking, para pemirsa juga sudah harus mulai pintar memilah ustaz yang memang baik kemampuan public speaking-nya atau ustaz yang hanya asal menghibur. Ingat, ini soal ceramah agama, tidak harus menyenangkan dan menghibur.

Pada dasarnya, kamu pun harus tahu diri. Siapakah dirimu di mata orang-orang yang (mungkin akan) mendengar ucapanmu

Kamu siapa?? via auditoriumcasatenovo.com

Semua orang bisa berbicara. Semua orang bisa menjadi pembicara. Namun kembali ke pribadi masing-masing. Pertanyaan “apakah saya pantas?” harusnya menjadi pertanyaan yang ada di hati setiap orang yang “dinobatkan” sebagai ustaz oleh masyarakat. Masyarakat ini memang terlalu mudah memanggil orang sebagai ustaz. Maka dari itu, paling tidak orang-orang yang cukup beruntung mendapatkan panggilan seperti itu haruslah lebih mawas diri. Jangan malah besar kepala dan merasa sudah benar! Menjadi guru agama bagi masyarakat itu tanggung jawabnya besar. Para ustaz di luar sana memiliki tanggung jawab moral pada masyarakat dan tanggung jawab personal kepada Allah. Berat bukan?

Tidak menyalahkan siapapun sebenarnya. Hanya sekadar pendapat sederhana soal masyarakat Indonesia yang sering “mengustaz-ustazkan” seseorang yang kadang sejatinya belum layak. Ini bukan kekeliruan satu atau dua orang tapi kekeliruan kita semua. Tidak ada yang perlu marah-marah di sini. Yang penting kita sadar akan kekeliruan itu dan segera memperbaikinya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya