Mulutmu harimaumu. Ungkapan yang memiliki arti segala perkataan yang terlanjur kita utarakan tanpa dipikir baik-baik justru akan merugikan diri sendiri ini, sepertinya sangat cocok menggambarkan apa yang sedang dialami seorang ibu di Facebook. Pasalnya, karena statusnya yang menghina film sekelas My Neighbor Totoro karya studio animasi raksasa Ghibli tersebut, ia jadi terkena semprotan netizen, terlebih para penggemar fanatik karya-karya studio Ghibli. Tak hanya menghina, ia juga menghimbau agar masyarakat berhati-hati atas penipuan yang ia tuduhkan pada bioskop yang menayangkan film lama seperti The Neighbor Totoro. Hanya dalam waktu singkat, statusnya tersebut langsung viral di media sosial dan dihujani komentar negatif dari netizen.

Budaya membaca yang kalah jauh dibanding mudahnya akses berkomentar di tengah masyarakat Indonesia ini menjadi salah satu penyebab banyaknya orang lebih mementingkan berkomentar sebelum tahu benar asal usulnya. Akibatnya justru kerugianlah yang akan dirasakan orang tersebut. Mungkin kisah ibu kurang literasi ini bisa dijadikan pelajaran bagi kita semua supaya berpikir matang-matang dulu sebelum berbicara.

Komentar seorang ibu di Facebook dengan nama akun Dewi Yanthi Razalie ini menuai ejekan dan sindiran mayoritas pengguna media sosial

Komentar seorang ibu di Facebook via twitter.com

Status Ibu Dewi ini mengundang banyak komentar. Masalahnya, curhatnya tentang film My Neighbor Totoro sangat pedas dan terlihat tidak berlandaskan riset. Dalam statusnya Ibu Dewi merasa ditipu oleh pihak XXI karena telah menayangkan film lama keluaran tahun 1988. Bahkan ia juga mengatakan bahwa film tersebut tidak layak masuk bioskop dan sudah banyak film serupa di televisi. Menurutnya tidak perlu bersusah-susah mengeluarkan budget untuk menonton film tersebut di bioskop karena sama sekali tidak setimpal. Beberapa film kartun lain seperti Sing, Trolls, dan Boss Baby juga ia sebutkan untuk membandingkan bahwa banyak film kartun bioskop lain yang jauh lebih bagus dari karya Studio Ghibli tersebut.

Padahal My Neighbor Totoro termasuk salah satu film terbaik karya Studio Ghibli, lho!

My Neighbor Totoro via jurnalotaku.com

Advertisement

Pada eranya, film ini mampu mencuri hati para penggemar animasi di seluruh dunia. Bahkan kritikus film ternama, Roger Ebert dari Chicago Sun-Times sangat mengelu-elukan kesederhanaan yang mampu dibawa dalam setiap cerita di film ini namun dikemas secara apik. Ia mengaku tidak menemukan kesan serupa di film kartun lain yang membuatnya berpendapat bahwa film tersebut adalah salah satu karya seni terbaik Hayao Miyazaki, penulis sekaligus sutradara dibalik karya-karya masterpiece Studio Ghibli. Situs review film seperti Rotten Tomatoes juga memberikan rating 8,1 dari 10 untuk My Neighbor Totoro.

Yah, tapi sesungguhnya bukan selera Ibu Dewi yang perlu dipermasalahkan, melainkan kenapa beliau menganggap pemutaran film itu adalah sebuah penipuan????

Karakter Totoro via www.rogerebert.com

Tidak bisa kita menyalahkan selera, apalagi jika menyangkut dunia perfilman. Banyaknya genre, judul, atau jenis film yang pernah diproduksi hingga detik ini, membuat setiap orang memiliki preferensi masing-masing tentang apa film favorit mereka. Begitu pun Ibu Dewi yang mengaku lebih menyukai film-film kartun garapan sutradara Hollywood dibanding karya studio animasi asal Jepang tersebut. Tidak ada yang salah dengan pendapat Ibu Dewi ketika membandingkan satu film kartun dengan kartun lainnya.

Apa yang patut kita tertawakan adalah pernyataannya yang mengatakan bahwa pihak XXI telah melakukan penipuan publik dengan menayangkan film lama. Ia mengaku tidak diberitahu pegawai XXI jika film tersebut diproduksi tahun 1988 ketika membeli tiketnya. Jika saja Ibu Dewi mau meluangkan waktu sebentar untuk sekadar mencari tahu tentang film tersebut sebelum memutuskan menonton, mungkin semua akan berakhir lebih baik. Ia mantap menulis “Hati2 tertipu!” seakan-akan banyak orang tidak tahu menahu seperti dirinya, padahal hampir semua penonton secara sadar menonton film itu karena memang menyukainya. Lagipula XXI juga tidak punya kewajiban untuk selalu memutar film baru.

Penayangan film lama di bioskop ini bukan tanpa alasan, lho! Studi Ghibli memang sedang mengadakan tur film bertajuk The World of Ghibli di Indonesia

The World of Ghibli via www.rappler.com

Demi memanjakan para penggemar karya-karya Studio Ghibli, pihaknya bekerjasama dengan Kaninga Pictures, Marubeni Indonesia, dan Hakuhodo DY Media Partners, mengadakan penayangan film sekaligus ekshibisi dengan tujuan mengangkat karya-karya besar studio animasi ternama asal Jepang tersebut. Rangkaian acara tersebut diberi judul The World of Ghibli. Dalam penyelenggaraannya, acara tersebut digelar dalam tiga fase besar. Fase pertama bulan April – September 2017, di mana setiap bulannya akan ada pemutaran 1 film Studio Ghibli. Fase kedua bulan Agustus – September 2017, di mana ekshibisi akan dihelat di Jakarta. Bersamaan dengan ekshibisi tersebut, film-film Ghibli akan diputar setiap hari secara bergantian. Sedangkan fase ketiga dari bulan Okotober 2017 – Maret 2018, akan sama seperti fase pertama. Rencananya, ekshibisi The World of Ghibli di Jakarta akan dilangsungkan di Ballroom Hotel Ritz-Carlton, Pacific Place. Penggemar akan dimanjakan dengan berbagai wujud nyata seperti lokasi, benda, karakter, dalam film-film karya Studio Ghibli kesayangan mereka. Pengunjung juga bisa mengetahui sejarah studio animasi ini sekaligus proses produksi film-filmnya.

Usut punya usut, wanita yang mengaku sebagai pengamat film ini ternyata wanita yang meramal penyakit Olga dulu Guys..

Mengaku sebagai pengamat film via www.facebook.com

Diketahui bahwa Ibu Dewi ini adalah relawan sekaligus mantan penderita kanker. Ketepatannya meramal penyakit Olga ini membuat namanya sempat disebut-sebut di media. Menurutnya, Olga sakit akibat mendapat tekanan dari banyak orang karena kariernya meroket sehingga pikirannya sering terpengaruhi. Hal itu yang membuat kondisi Olga kian memburuk hingga divonis kanker stadium 4. Saat ini, ia disibukkan dengan menerawang penyakit yang sedang diderita Julia Perez atau Jupe yang ditunjukkan melalui status-status Facebooknya.

Tuh Guys, berabe kan kalau tiba-tiba jadi musuh masyarakat hanya karena salah berbicara di media sosial? Yang tadinya supaya terlihat melek film, eh malah dapat hujatan karena dianggap kurang literasi. Padahal ia mengaku sebagai pengamat film, hmm…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya