Seiring masuknya budaya Jepang ke dalam kehidupan masyarakat Indonesia, muncul berbagai manifestasi kebudayaan tersebut ke dalam trend kehidupan anak muda. Salah satunya adalah costume play, yang lebih dikenal dengan sebutan cosplay. Cosplay adalah memerankan suatu karakter fiksi yang berasal dari hiburan-hiburan budaya pop Jepang (anime, tokusatsu series, ultraman, dll).

Cosplayer Indonesia di ajang Internasional CLAS:H via karangtarunasektor15.files.wordpress.com

Terkadang, orang-orang hanya tahu “kulit luar” dari para cosplayer tersebut. Tak jarang, kita yang orang-orang awam ini gak tahu apa yang terjadi di keseharian mereka, di luar kostum tentunya! Simak di artikel Hipwee berikut ini!

Mereka memang dekat dengan budaya asing. Namun keseharian mereka ya masih sama kayak kamu. Punya tanggung jawab dan beban yang juga mereka pikul.

Lepaskan kostum dan mereka sama seperti kita via skynawa.wordpress.com

Pandangan atau pemikiran yang biasa dilontarkan oleh orang awam kepada mereka yang mengabdikan waktu mereka untuk memenuhi hasrat menjadi karakter fiksi yang mereka sukai melalui cosplay, adalah “Mereka kok gak dewasa-dewasa ya? Bukannya waktu untuk hal begituan udah lewat?” Cosplayer veteran biasanya udah kebal sama pertanyaan jarum pentul yang suka nusuk kayak beginian.

“Itu tergantung cosplayer-nya sendiri, kuat nggak terima pendapat orang, namanya juga hobi, apalagi hobi yang asalnya dari kultur negara lain.”

Nadeshiko, seorang cosplayer asal Solo.

Advertisement

Setelah menanggalkan kostum mereka, mereka tampil layaknya orang biasa pada umumnya. Mengenyam pendidikan, bersosialisasi, dan memiliki mata pencaharian. Kurang lebih, mereka sama dengan anak muda pada umumnya. Sama kayak kamu!

So, jangan heran bila ketemu teman-teman kita, para cosplayer, lagi gak menjalankan hobinya. Bisa jadi, mereka tidak seheboh yang kalian bayangkan!

Tapi itu semua berubah ketika negara api, eh maksudnya event kebudayaan Jepang menyerang!

ketika event datang.. semua bergerak! via 3.bp.blogspot.com

Acara berbau budaya Jepang bisa diibaratkan sebagai oase untuk melepas penat setelah berlalunya keseharian yang mengekang. Bagi cosplayer, kalo nggak sibuk-sibuk banget, mereka pasti datang dan meluangkan waktu mereka untuk menghadiri acara yang selevel sama pengajian sore bagi ibu-ibu majlis taklim atau sama kayak arisan bagi ibu-ibu sosialita.

“Kalo udah H-sekian event, di kepala isinya ribet ngurusin kostum, prop, acc dan sebagainya.” tambah Nadeshiko.

Biasanya, event-event semacam ini sudah dipromosikan jauh-jauh hari pelaksanaannya. Selain itu, beberapa event bahkan bersifat tahunan. Jadi kalo tahun ini ada, tahun depannya biasanya juga demikian. Cukup bijak mengingat cosplayer terkadang membutuhkan waktu ekstra untuk persiapan kostum (terutama untuk nabung).

Sama kayak penggiat hobi lainnya, cosplayer juga harus rajin nabung untuk memuluskan usahanya bikin kostum yang sesuai impian.

Kostum ini seharga motor sport loh via www.facebook.com

Sudah bukan rahasia umum kalau cosplay itu membutuhkan banyak modal. Harga kostumnya saja sudah cukup mahal terutama bagi mereka yang memilih memerankan karakter yang menggunakan kostum seluruh tubuh alias full-body armor.

Tantangan tersulit dari cosplay adalah jika karakter yang diperankan membutuhkan merchandise yang hanya bisa didapat via impor. Jangan tanya harganya kalo nggak kuat kantong!

“Sabuk Kamen Rider itu bisa lebih mahal dari kostumnya. Sabuk yang biasa bisa 1-2 juta”

Wizard, seorang cosplayer Jakarta.

“Kostum kamen rider yang saya miliki itu harganya 10-15 jutaan satunya. Saya harus atur agar pengeluaran saya untuk ini tidak lebih dari 50% pendapatan saya.”

Breda Kustanto, cosplayer yang berprofesi sebagai pilot.

Kehadiran komunitas membuat cosplayer memiliki wadah untuk berbagi dan berkreasi. Semuanya jadi tambah asyik kalo kamu sudah gabung sama komunitas.

Sesuai pepatah iklan rokok, “Asyiknya rame-rame!” via createyourarts.files.wordpress.com

Asyik kok sendirian? Memang pada dasarnya, segala sesuatu yang dilakukan secara rame-rame itu lebih asyik, dan lebih “ringan”. Demikian halnya dengan dunia Cosplay.

Keberadaan komunitas bisa menunjang performa cosplaying, dan tentu saja, menambah pertemanan yang bisa diajak ngobrol mengenai topik yang sama, sharing, dan berangkat ke event bareng-bareng. Kecuali, untuk beberapa cosplayer yang sudah sibuk akan kesehariannya.

Di balik kostum tersebut gak jarang seorang cosplayer juga harus sering menahan tawanya.

ini ULTRAMAN, bukan NARUTO! via s66.photobucket.com

Event budaya pop Jepang tidak selalu diadakan di lokasi khusus seperti venue, hall, atau expo. Bisa jadi, event ini diadakan pada fasilitas umum yang disitu ada orang awam berlalu-lalang. Kadang, malah ada kejadian lucu di setiap event itu, seperti yang diungkapkan Wizard:

“Pernah waktu itu gua cosplay jadi ULTRAMAN. Terus ada ibu-ibu lewat sambil bawa anaknya, yang dengan lucunya bilang: Tuh dek, liat, ada NARUTO! Gw sih maklum aja, yah namanya gak semua orang paham,” tambah Wizard.

Jangan salah, cosplayer juga punya pengagum rahasia. Sampai pengagum yang hobi stalking juga ada.

Stalker: A new level of fans

Bagi cosplayer-cosplayer yang “niat” dan menampilkan performa yang apik ketika memerankan karakternya, biasanya dia akan menarik perhatian banyak penonton. Awalnya penonton biasa, lama-lama menjelma jadi penggemar. Terkadang mereka menjadi kenalan baru bisa diajak jadi teman. Terkadang mereka bersembunyi dibalik anonimnya akun sosmed.

Bahkan terkadang, sebagian mereka menjelma menjadi fans-fans berbahaya yang disebut stalker, yang siap menguntit dan mengintai mereka dari dunia antah-berantah. Biasanya, cosplayer cewek yang rentan di-stalking.

“Kalo gw sih kagak, yang cewek tuh biasanya, sampe diikutin gitu, parah deh.” ujar Wizard saat ditanya punya stalker atau nggak.

“Stalker? Baru saja. Kemarin pas event jejepangan (Jepang -red) belum lama ini.”

Anonim, sebut saja Bunga.

Saktinya, stalker ini tidak hanya mengandalkan sosmed saja. Nomor telepon, alamat, bahkan informasi lainnya yang lebih pribadi pun bisa mereka dapatkan. Seram!

Bagi cosplayer, puas adalah ketika semua keseriusan dan jerih payah mereka terbayarkan saat aktualisasi diri tercapai.

Breda 1992 dan Breda 2012

Suatu hobi, jika sudah diniatkan dan menjadi sarana pencapaian aktualisasi diri, maka akan memberikan kepuasan jika sudah berhasil dilakoni. Sama dengan cosplay, ketika sudah mengenakan kostum, menjiwai karakter dan perhelatan cosplay sudah dilalui dengan lancar itu rasanya puas banget!

“Rasanya ya seneng banget lah, kalo udah berhasil memerankan yang gw pengen” ungkap Wizard.

“Saya dari usia 2 tahun udah seneng sama yang namanya Kamen Rider, jadi kalo udah bisa memerankan Kamen Rider ya seneng.” tambah Breda.

Ternyata di balik kostum dan makeup yang menyelimuti jati dirinya, terlepas dari karakter yang dia jiwai, seorang cosplayer gak ada bedanga sama pemuda-pemudi pada umumnya. Mereka juga punya kehidupan sosial, tugas dan tanggung jawab serta impian, yang mana dalam kasus ini impian jadi cosplayer yang baik dari sebelumnya.