Beberapa hari lalu, Hipwee sempat mengangkat kabar soal kisah seorang anak ustadz terkenal di Indonesia yang menikah muda, yang kemudian cukup dihebohkan dengan berita tentang poligami (Belum Lama Menikah, Larissa Chou Sudah Mengaku Ikhlas Jika Alvin Faiz akan Poligami).

Di Indonesia, poligami memang lekat sekali dengan salah satu agama yang paling banyak dipeluk, yaitu Islam. Beberapa orang yang pro terhadap poligami bahkan menyalahkan mereka yang kontra. Senjata mereka adalah dalil, entah itu yang eksplisit maupun yang implisit. Kali ini, Hipwee, tapi atas nama pribadi dari penulis, punya alasan kenapa cowok semestinya nggak usah melakukan poligami kelak.

Jumlah populasi antara cewek dan cowok sama sekali nggak bisa jadi alasan para penggiat poligami

Nggak bisa jadi alasan! via gesco03.blogspot.co.id

Dari beberapa artikel yang mengulas tentang poligami. Banyak di antara mereka menggunakan alasan jumlah populasi berdasarkan gender. Jumlah cewek itu lebih banyak dari jumlah cowok, begitu alasan yang biasanya terlontar.

Entah dari mana sumber yang mereka punya sehingga bisa berasumsi. Padahal, alasan tersebut nggak ngena sama sekali, terlebih untuk Indonesia. Mari kita lihat fakta sesungguhnya yang saya ambil dari data-data kredibel. Berdasarkan data sex ratio yang dihimpun Central Intelligence Agency (CIA), berikut populasi manusia berdasarkan gender di seluruh dunia.

Advertisement

Data CIA untuk jumlah populasi manusia berdasarkan gender di seluruh dunia via www.cia.gov

Cara hitungannya adalah jumlah cowok (male) per 1 cewek. Sedangkan data sebelah kirinya menunjukkan rentang usia. Mari kita ambil konklusinya, jumlah cowok lebih banyak 0,01 dibanding cewek. Jadi kalau di bumi terdapat tujuh miliar manusia, maka 3,521 milyar adalah jumlah cowok. Sedangkan untuk jumlah cewek ada 3,479 milyar manusia.

jumlah cowok > jumlah cewek

Setelah dijabarkan dan dijelaskan data tersebut, mereka yang pro terhadap poligami mungkin terus skeptis dan bakal berkata, “Ah, itu ‘kan jumlah manusia seluruh dunia. Di Indonesia nggak gitu kok.”

Tenang. Saya punya juga kok data untuk Indonesia. Nih…

Data CIA untuk jumlah penduduk Indonesia via www.cia.gov

Berdasarkan data dari CIA, jumlah antara cowok dan cewek di Indonesia itu sama. Satu banding satu. Andai ada niat untuk poligami, berpoligamilah dengan wanita-wanita berusia 55 tahun ke atas yang sudah menjadi janda. Jumlah beliau-beliau ini lebih banyak dari cowok, sebab berdasarkan beberapa penelitian, cewek punya kemampuan hidup lebih lama dari cowok.

Selain itu, Hipwee juga punya data dari Badan Pusat Statistik (bisa kamu download sendiri datanya) soal kependudukan berdasarkan jenis kelamin. Dari jumlah 235.726.419 penduduk di Indonesia, ada 118.683.187 penduduk cowok dan 117.043.232 penduduk cewek.

Jadi, masih ada yang berani menjadikan alasan jumlah populasi berdasarkan alat kelamin sebagai alasan?

Cewek itu makhluk yang lebih mengutamakan perasaan dibanding logika. Kalau kamu tahu itu, maka hargailah perasaan istrimu kelak

Dijaga, bukan dilukai via i.ytimg.com

Untuk alasan ini, Hipwee memang nggak punya data untuk masalah kekecewaan seorang istri setelah dipoligami. Namun, mari kita gunakan hati sebagai pendekatan. Buat cowok yang berniat poligami, coba pikirkan terlebih dahulu kalau kamu berada di posisi cewek.

Memang kamu mau dipoliandri (walaupun dalam Islam dilarang)? Nggak bakal ada yang mau. Pun begitu cewek yang dipoligami. Meski selalu ada kata-kata “ikhlas kalau dipoligami” yang keluar dari mulut cewek, Hipwee yakin itu hanya sebatas ucap. Dalam hati paling dalam, sedikit atau banyak, pasti ada perasaan sakit.

Bahasa kekiniannya mah ‘manusia mana sih yang mau diduain?’. Kamu bisa membaca curhatan seorang cewek yang nggak kuat atas realitas yang terjadi setelah ia dipoligami oleh suaminya pada usia 25 di situs Rappler yang berjudul ‘Seorang Muslimah yang Melangkah Keluar dari Poligami‘. Andai kamu masih punya hati, kamu pasti ikut simpati atas curhatannya tersebut.

Dari setiap keputusan poligami yang diambil seorang suami, maka akan ada hati istri yang mengumpat karena ketidakrelaannya. Semacam lahirnya pengkhianatan atas janji-janji yang telah diumbar. Suami itu menjaga istrinya, bukan melukainya.

Menjadi kepala keluarga adalah tanggung jawab berat. Makin banyak kepala yang cowok urusi, makin besar tanggung jawab

Pikirkan dulu niat via cdn-2.tstatic.net

Jadi imam keluarga adalah tanggung jawab yang nggak gampang. Dan alasan untuk nggak poligami bisa sesederhana tanggungjawab atas satu istri di hadapan Allah SWT saja bisa sangat berat (belum kalau punya anak), apalagi kalau punya dua, tiga atau empat istri. Jelas makin gede tanggung jawab yang harus kamu pikul.

Bukan cuma tanggung jawab secara non-materi. Materi pun nggak kalah penting. Bohong kalau di zaman sekarang ini kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan manusia nggak bisa dibeli dengan materi.

Pesan untuk para cowok, jangan pernah sekali-kali kamu berpikir untuk poligami kalau satu istri pun masih belum bisa kamu bahagiakan, terutama soal nafkah materi. Tambah istri, berarti tambah kepala yang harus kamu nafkahi. Istri(-istri)mu bukanlah batu akik yang cukup kamu gosok-gosok doang buat dikoleksi.

Mereka sama sepertimu: manusia. Minimal tiga kebutuhan dasar manusia harus kamu penuhi untuk istrimu kelak, yaitu sandang, pangan dan papan. Belum kebutuhan lain yang kini jadi bersifat primer, seperti gadget dan pulsanya. 😀

Bukankah ujian terberat menjadi pemimpin adalah menjadi pemimpin keluarga? Pastikan dulu kamu bertanggungjawab terhadap istri dan anak-anak. Well, artikel ini memang berisi pandangan pribadi berdasarkan alasan-alasan yang memang bersumber dari pihak kredibel dan berdasarkan rasa kemanusiaan. Dengan menolak poligami, bukan berarti penulis menolak firman Tuhan. Lagian poligami hukumnya ‘kan bukan wajib. Bukan sunnah juga, melainkan mubah (boleh dilakukan, bukan dianjurkan).

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya