Sebelum masuk ke dalam sebuah pernikahan, nggak cewek, nggak cowok, mereka senantiasa mempertimbangkan baik-buruk atas kemungkinan yang bisa aja terjadi dalam bahtera rumah tangganya. Seperti pemilihan pasangan, misalnya. Ada banyak sekali faktor yang harus dijadikan pertimbangan. Pemilihan yang sembarangan biasanya akan menjadi penyesalan yang sangat besar di akhir nanti.

Pemilihan pasangan hidup itu emang susah, apalagi kalau orangtua udah turun tangan. Kalau orangtua udah ikut campur, masalah perjodohan tentu nggak ada akhirnya. Kebanyakan orangtua zaman dulu selalu memerhatikan bibit, bebet, dan bobot. Hal yang merujuk pada latar belakang pasanganmu. Dan ini nggak jauh-jauh dari ngomongin suku. Khususnya cowok, pasti kamu pernah mendengar beberapa stigma tentang cewek yang berasal dari Sunda dan Padang. Bagaimana menurutmu?

Konon katanya, cewek Sunda itu terlalu matrealistis. Cantik memang tapi hanya akan membawa kesengsaraan bagi cowok katanya

Duh, si Teteh. :3 via www.instagram.com

Apa yang kamu pikirkan tentang cewek Sunda? Cantik, putih, bersih, menarik untuk dinikahi, bukan? Kecuali orangtuamu, yang memberimu pesan untuk nggak menjalin hubungan dengan mereka, sebelum kamu merantau ke tanah orang. Entah dari mana mitos ini berasal. Mungkin, cewek Sunda dibilang matrelistis karena emang mereka lebih suka bicara blak-blakan soal apa yang mereka mau. Kalau emang dia mau sesuatu, mereka langsung bilang secara terbuka ke pasangannya. Nggak perlu pakai basa-basi.

Selain itu, mereka juga terkenal suka dandan berlebih. Ini juga pandangan yang salah. Dandan setipis apapun juga bakal terlihat berlebihan. Toh, nggak perlu dandan, kulit mereka udah cukup bersih dan putih.

Sementara itu, cewek Padang dikenal sebagai cewek paling perhitungan. Bahkan seperti komoditi, cowok aja harus dibeli dalam budaya Pariaman

Advertisement

Ah, dasar Padang!

C’mon, Boys! Emang ada yang salah dengan orang Padang? Mungkin ini masalah personal pada zaman baheula yang kini menjadi mitos turun temurun sampai pada generasi kita. Rasanya, semua orang berhak untuk perhitungan deh. Nggak cuma orang Padang yang bisa dibilang perhitungan. Toh, perhitungan itu tanda bahwa orang itu teliti, bukan?

Kalau budaya Pariaman, emang zaman dulu cowok Pariaman seolah ‘dibeli’ oleh keluarga cewek. Dan mereka nggak ragu untuk mengocek dompet hingga dalam untuk sebuah gelar yang dimiliki oleh si cowok. Semakin tinggi gelar yang dia miliki, semakin besar uang yang akan diberikan. Padahal, uang tersebut juga akan digunakan sebagai urusan rumah tangganya. Jika dilihat dari sisi lain, sebenarnya tidak ada yang salah dalam budaya ini. Jadi, jangan jadikan mitos bahwa cewek Padang itu perhitungan sebagai tolok ukur untuk mencari pasangan, ya.

Untuk cewek Jawa, mereka terkenal dengan basa-basi. Di depan bilang A, di belakang bilang B

Mbak Dian! :3 via www.instagram.com

Sama halnya dengan etnis Sunda dan Padang, orang Jawa, khususnya cewek, juga mendapat stigma serupa dari orang-orang. Cewek Jawa terkenal dengan basa-basi yang bertendensi pada kemunafikan. Di depan bilang A, di belakang bilang B. Padahal, sikap seperti ini nggak cuma milik cewek Jawa. Semua orang pasti pernah melakukan hal yang sama dalam keadaan tertentu, bukan?

Tanpa perlu berdebat, kebanyakan cewek Jawa itu lemah lembut, nurut sama suami, dan nggak neko-neko alias neriman (ikhlas-pasrah). Ini bisa kamu lihat dari cara mereka bersikap dan bertutur dengan tujuan untuk menghargai lawan bicaranya.

Bukannya mau menggeneralisasi, tapi emang masih banyak berhamburan stigma semacam itu terhadap etnis tertentu. Kasihan para gadis itu 🙁

Nikah itu masalah hati dan kepercayaan. via simomot.com

Miris emang ketika kita masih aja suka mendengar titah dari para orangtua tentang perjodohan, tentang ke mana hati kita harus berlabuh. Sejatinya, kita udah cukup dewasa untuk menyikapi hal ini, ‘kan? Soal jodoh dalam perbedaan etnis rasa-rasanya udah cukup wajar. Dan kalau orangtua kita masih aja gusar, itu juga wajar. Karena mereka tentu nggak pengen anaknya salah langkah dalam mengambil keputusan untuk menikah. Yang menjadi masalah, mau sampai kapan stereotip seperti itu akan melekat pada gadis-gadis dalam etnis tertentu tersebut?

Kalau kita masih berkutat dengan pandangan semacam itu, mau sampai kapan kita mengotak-kotak diri kita? Soal hati, kita nggak pernah tahu. Toh, pada dasarnya kita menjalin hubungan asmara dengan seseorang itu karena cinta, ‘kan? Kalau terpaku pada kepercayaan leluhur seperti itu, kasihan mereka yang beretnis tertentu dong? Mereka nggak akan bisa regenerasi dong? 🙁