Banyak orang menganggap pernikahan adalah puncak pencapaian hidup. Oleh karena itu, ada banyak orang yang ingin cepat-cepat masuk ke jenjang itu. Saat ini, bahkan anak-anak yang masih kelewat muda juga ikut ingin cepat-cepat nikah. Nggak masalah sih, tapi emang harus gitu apa?

Banyak dicekoki cerita-cerita cinta membuat generasi muda kita kelimpungan perkara jodoh dan pernikahan. Terbuai oleh bayangan indah hidup berkeluarga layaknya di cerita-cerita cinta itu, generasi muda kita jadi generasi muda yang makin ke sini makin jadi generasi ‘kebelet’ nikah! Artikel ini bukan tentang menentang pernikahan atau pilihan banyak orang untuk menikah muda. Tapi, hanyalah logika-logika yang mungkin sedikit berbeda dari logika mayoritas orang yang menganggap pernikahan sebagai puncak pencapaian hidup. Bisa jadi logika yang ditulis disini bertentangan dengan logika semua orang, tapi tidak ada salahnya kan kita dapat second opinion? Yuk langsung disimak aja!

Berbagai macam cerita-cerita cinta sok romantis muncul dengan wajah novel dan buku cerita. Menjejalkan paham bahwa menikah itu yang utama

Kebanyakan sih fiksi romantis yang bicara cinta-cintaan via tumblr.com

Coba saja mampir ke toko buku yang terkenal itu. Silahkan lihat di jajaran rak buku mereka yang best-seller dan hitung berapa banyak buku yang memiliki cerita soal cinta dan berapa banyak buku yang tak bernafaskan cinta. Ya. Faktanya buku-buku bernafas cinta dengan segala imajinasi romantis yang ditawarkan jauh lebih laku di kalangan anak muda daripada buku jenis lainnya.

Fakta tersebut tak bisa dipungkiri menjadi salah satu pemicu keinginan anak muda Indonesia untuk sesegera mungkin menjalin hubungan asmara. Mencinta, menikmati bayangan hubungan berdua. Ikatan apa lagi yang lebih suci dan lebih indah daripada ikatan pernikahan? Penggambarannya dalam cerita-cerita novel romantis dibikin sebegitu indahnya. Seakan menikah itu pasti membuatmu bahagia.

Advertisement

“Akhirnya banyak dari anak muda Indonesia yang terbuai imajinasi soal menikah. Melihat indahnya, mereka ngebet buat nikah muda “

Walaupun menikah muda adalah hal paling benar dan paling membahagiakan, masih tetap ada beberapa hal yang harus tetap dipertimbangkan sebelum menikah muda. Nggak langsung tabrak aja. Jadi, bukan nikah mudanya sih yang sebenarnya salah kaprah, tapi alasan nikahnya itu yang masalah, ingin meniru kisah-kisah fiksi yang mungkin saja nggak semua orang cukup beruntung untuk bisa menirunya.

Tak jauh beda dengan film dan sinetron yang muncul di layar kaca. Menggambarkan cinta dan menikah muda dengan ‘terlalu’ bahagia

Rela bayar mahal nonton di bioskop via COGXIO.COM

Tonton saja beberapa film yang bermadzhab cinta, mereka pasti menggambarkan karakter dan plotnya dengan sebegitu indah. Sang karakter utama diperankan oleh sosok cantik dan rupawan dengan pembawaan santun dan bijaksana. Persis seperti apa yang diidamkan semua orang untuk jadi pasangan.

Tak jauh beda dengan itu, pembangunan plot dan ceritanya pun juga dibangun seromantis mungkin. Di mana sang kaya bisa jatuh cinta pada yang miskin. Di mana yang penting cinta, realistis itu nomor ke-sekian. Nggak percaya? Coba saja saksikan film atau sinetron yang saat ini tengah merajai tangga perfilman Indonesia. Yang romantis, lebih banyak ditonton anak muda.

“Rela bayar mahal di weekend demi nonton bersama dia yang dicinta, jadi bukti bahwa film romantis mampu membius anak muda agar hidup dalam imaji cerita cinta”

Biusan imajinasi soal cerita cinta indah yang berujung dengan mengikat janji suci membawa anak muda terbang melayang. Padahal fakta di lapangan tidak seperti itu. Kita semua menyaksikan sendiri bahwa cinta tidak semulus itu. Cinta itu penuh luka dan kekecewaan juga.

Ditambah lagi fakta bahwa kebanyakan cerita romantis selalu berakhir pada pernikahan. Padahal, siapa yang tahu setelah menikah mereka bahagia atau tidak?

Padahal, harusnya nggak berhenti sampai keduanya menikah saja via gladtidingsep.com

Banyak cerita-cerita romantis yang plotnya terhenti saat kedua karakter pada akhirnya bersatu dalam ikatan hubungan. Bagi kalian yang mencintai cerita-cerita romantis, tentu ending yang paling diinginkan adalah saat tokoh utama pria dan wanita bersatu; apalagi dalam ikatan suci pernikahan.

Segala plot cerita, mulai dari awal pengenalan karakter, konflik hingga resolusi, semua bermuara pada satu titik; bahagia kehidupan cinta antara dua tokoh utama. Padahal, cerita sejatinya tak berhenti pada titik tersebut. Setelah menikah atau jadian, masih ada kehidupan yang harus dijalani.

Tapi tidak. Semua sepakat menghentikan cerita di titik bahagia tersebut. Ya jelas saja banyak anak muda yang terbius oleh imajinasi romantis soal pernikahan sebagai titik paling bahagia dalam perjalanan cinta. Wajar saja jika pada akhirnya, angka mereka-mereka yang nikah muda melonjak terus tiap tahunnya.

Keputusan soal kapan menikah itu perkara penting dalam hidupmu. Jangan gegabah dalam memutuskannya cuma gara-gara imajinasimu yang baik-baik itu saja

Yang penting nikah dulu via Emotion.me

Keputusan menikah yang didasari angan indah soal kehidupan percintaan dan keengganan jadi bahan obrolan tetangga kiri-kanan bisa jadi bukan pilihan yang salah-salah amat. Selama persiapan menuju pernikahan sudah mulai dicicil dan dirasa aman, menikah muda juga sebenarnya tak jadi masalah.

Hanya saja, menikah muda juga rentan dilanda dilema. Dari buku-buku yang kamu baca — yang kesemuanya berisi indahnya cinta dan nikmatnya menikah muda — kamu melupakan satu faktor yang bisa jadi akan mengubah bayangan indahmu soal pernikahan jadi bayangan semu doang; Realita.

“Nyatanya, percintaan dan pernikahan tak seindah kisah-kisah cinta yang tertulis dalam novel-novel romantis masa kini”

Perkara cinta dan hati misalnya. Usia mudamu menandakan pola pikir kalian masih bisa berubah. Labil istilahnya. Yakin bisa menerima dia dan mencintai dia seumur hidup kelak? Pun demikian dengan saat kalian sudah menikah nantinya. Keluarga tak hanya terdiri dari kamu dan dia. Ada anak yang nanti akan hadir dalam keluarga kecil kalian. Siapkah menghadapi semuanya? Di usia yang masih muda, realita tersebut bisa mengubah imajinasi indah soal menikah jadi sebuah bencana yang isinya ternyata cuma dusta!

Tanpa bermaksud untuk melarang menikah muda, bukankah lebih baik masa muda digunakan untuk mempersiapkan segalanya terlebih dahulu? Terlalu terburu-buru untuk memutuskan menikah cuma karena “kayaknya nikah enak, deh” yang kamu dapat dari bacaan cerita cinta itu bisa jadi sangat menyesatkan. Kalau memang ingin menikah, pastikan kamu siap dulu. Atau paling tidak mau untuk belajar siap bersama. Usia mau tua atau muda mah nggak masalah. Jangan cuma karena gengsi atau imajinasi indahnya cinta saja…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya