Setelah menikah, setiap pasangan pasti pengen segera memiliki keturunan. Jarang sekali, bahkan nggak ada pasutri yang nggak mendambakan buah hati yang lucu-lucu dan menggemaskan. Ya, mungkin karena alasan tertentu, mereka akan menundanya. Tapi nggak mungkin juga menunda karena pasangan nggak mau berhubungan badan. Normalnya sih nggak mungkin, namun apa daya, saat ini sudah banyak sekali orang yang tidak normal.

Salah satu negara yang mengalami krisis karena kecilnya angka kelahiran adalah negeri Matador, Spanyol. Entah karena keinginan berhubungan seks yang kecil atau keinginan memiliki anak yang hampir tidak ada, Spanyol mengalami krisis kelahiran dan menempati posisi pertama dalam daftar negara dengan angka kelahiran terendah di seluruh dunia. Bahkan saking urgent-nya masalah ini, PM Spanyol mengangkat Menteri Seks, Eldemira Barraeira untuk mengatasinya. Kok bisa, ya? Berikut ulasan dari Hipwee Boys.

Keputusan ini diambil karena data statistik yang mengungkapkan menurunnya tingkat kelahiran yang berpengaruh pada kestabilan negara

Cantik, ya. via www.fokus.ba

Berdasarkan data dari Eurostat, Spanyol mengalami penurunan populasi dari tahun 2008 hingga kini sebesar 18%. Dari tahun 1977-2015, angka itu bertambah 3 kali lipat. Sebuah loncatan yang sangat signifikan untuk sebuah negara maju di Eropa. Sementara dikutip dari Foxnews.com, pasangan menikah di Negeri Matador hanya memiliki 1,3 anak per ibu. padahal idealnya adalah 2 anak per ibu. maka dari itulah, PM Spanyol, Mariano Rajoy memberi mandat pada Eldemira Barreira sebagai Menteri Seks untuk mendorong para pasutri untuk lebih giat dalam bercinta. Hmm.

Mungkin ini karena adanya perbedaan konsep negara maju. Mereka lebih memilih untuk terus bekerja sehingga ‘lupa’ untuk bercinta

Lebih enak bekerja, daripada ena-ena. 🙁 via www.pexels.com

Advertisement

Bisa jadi, hal ini diakibatkan karena adanya perbedaan pemahaman masyarakat soal kehidupan di sebuah negara maju. Berdasarkan data statistik tersebut, Spanyol memang menduduki peringkat buncit sebagai negara yang tingkat populasinya menurun. Alasannya mendasar, karena mereka kecapekan untuk melakukan hubungan intim dengan suami atau istrinya, setelah sehari penuh bekerja. Selain itu, mereka mengaku lebih suka menghabiskan waktunya untuk bekerja daripada harus berhubungan seks.

Bahkan, di Amerika yang notabenenya sebagai negara maju pun demikian. Jurnal Archives of Sexual Behavior mencatat pasutri di sana melakukan hubungan intim 16 kali lebih sedikit dibandingkan periode tahun 2000-2004. Akhir dari penelitian menyatakan, hal ini disebabkan adanya edukasi seksual yang baik, ambisi dalam karier, hingga perasaan menghargai diri sendiri (dengan nggak melakukan seks bebas bagi mereka yang belum menikah).

Pertanyaannya begini, apakah seks sudah nggak menarik sama sekali? Karena nggak cuma Spanyol aja yang mengalami masalah ini

Harusnya bisa sih. via huffingtonpost.com

Memang benar, nggak ada salahnya untuk mengejar karier bagi siapapun, meski kamu sudah menikah. Tapi apakah hal ini bisa dikatakan bahwa seks sudah nggak menarik seperti sebelum tahun 2000? Lagipula, kalau dipikir-pikir, buat apa seseorang bekerja hingga sebegitunya, memperkaya diri dengan materi, tapi dia nggak mempunyai keturunan? Meski masyarakat di Spanyol mengklaim mereka sebenarnya pengen memiliki anak. Tapi masalahnya, nggak cuma di Eropa dan Amerika aja. Dari Asia, Jepang dan Korsel paling memprihatikan.

Asosiasi Keluarga Berencana di Jepang melakukan survei pada 1.263 orang, sebanyak 47,2% nggak pernah berhubungan seks hingga sebulan lebih seperti yang disarikan dari Kompas.com. sebanyak 35,2% cowok mengaku kelelahan setelah bekerja dan 12,8% cowok melihat istrinya bukan sebagai istri lagi, melainkan sebagai keluarga, sehingga mereka enggan untuk melakukan hubungan intim. Sementara 22,3% ceweknya mengaku punya masalah dengan hubungan seks dan 20,1% bermasalah dengan proses persalinan jika mereka hamil.

Sepertinya Indonesia juga perlu mengangkat menteri seks deh. Tugasnya aja yang dibikin berbeda

Biar kita nggak perlu lihat pemandangan seperti ini lagi. via geotimes.co.id

Dari beberapa kasus menurunnya tingkat populasi di beberapa negara di dunia ini begitu kontras dengan yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan data, tingkat kelahiran per ibu sebanyak 2,4%. Artinya, setiap istri memiliki 2-3 anak. Berbanding terbalik dengan Spanyol yang hanya 1,3%, bukan? Dari sini, sepertinya pemerintah harus merumuskan kebijakan untuk membuat kursi baru untuk menteri seks juga deh. Tapi tanggung jawabnya aja yang harus diubah; memperlambat laju populasi penduduk. Bagaimana?

Karena pada dasarnya, jika populasi penduduk menurun, sebuah negara akan mengalami kolaps di berbagai bidang, terutama ekonomi. Sementara kalau populasi melonjak tinggi, yaaa, kita pasti tahu dong apa yang akan terjadi. Ya, pengangguran semakin merajalela, kalau lapangan pekerjaan dan kreativitas nggak terasah dengan baik! So, apakah Indonesia butuh Menteri Antiseks?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya