Kadang lucu. Ketika kita memilih sesuatu sebagai keputusan personal dalam hidup kita, orang lain justru ikut campur seolah-olah mereka turut serta dalam menjalani hidup ini. Mereka emang hidup, tapi bukan hidup dalam kehidupan pribadi kita. Tapi itulah uniknya masyarakat kita, masyarakat yang selalu merasa berhak untuk menghakimi kehidupan orang lain yang mereka sejatinya nggak tahu apa-apa.

Seperti halnya pernikahan. Kali ini, pernikahan dengan janda yang akan menjadi persoalan. Nah, udah tahu, kan, bagaimana cara pandang masyarakat atas pernikahan seorang perjaka dengan seorang janda terlepas dia kaya atau cantik? Meski kamu belum atau nggak mengalami hal ini, tapi pasti pernah dengar dong, stigma masyarakat tentang fenomena ini?

Kadang dibilang enak karena dapat yang sudah berpengalaman kadang dibilang mau karena guna-guna orang pinter. Gila kan ya!

Gambar di atas ini true story. via www.psifiakiellada.gr

Pilihan yang bagus!
Apanya dulu nih yang bagus?
Iyalah. Doi, kan, pasti udah berpengalaman.
Pengalaman apa nih?
Yaelah, masih aja kaku luh!

Yup, pernyataan seperti itu pasti sering kita dengar dalam fenomena seorang perjaka yang menikahi seorang janda. Dalam kehidupan bermasyarakat, wacana seperti ini udah pasti meluap ke permukaan kali pertama mendengar fenomena pernikahan perjaka dengan seorang janda. Mungkin pemaknaan atas kata kerja /berpengalaman/ itu merujuk pada masa lalu si janda yang udah pernah menikah sebelumnya. Sehingga dia bisa dibilang lebih memiliki pengalaman daripada seorang gadis yang belum pernah menikah. Entah itu dalam hal menjalani kehidupan berumah tangga atau pengalaman lain yang menjurus ke hubungan suami-istri.

Advertisement

Selain itu, kadang ada juga omongan pedas yang mengaitkan kemauanmu untuk menikah dengan janda; guna-guna atau karena harta semata. Ini mungkin bisa kamu tampik begitu aja. Tapi tetep aja, stigma ini nggak terlalu baik buat cowok yang akan menikahinya. Kadang pendapat masyarakat memang lumayan gila.

Bahkan nggak jarang ada suara sinis dari keluarga sendiri; emang udah nggak ada perawan lagi di dunia ini atau bagaimana sih?

Kasihan Nunungā€¦ šŸ™ via kapanlagi.com

Mungkin kalau orangtuamu bisa lebih demokratis, mereka akan memaklumi keputusanmu yang menikah dengan janda. Mungkin pula mereka berpikir, hal itu berlandaskan cinta dan kenyamanamu bersamanya. Tapi, nggak jarang loh, ada orangtua atau pihak keluarga yang menyayangkan keputusanmu itu. alih-alih mendukung pilihanmu, yang ada mereka malah menghinamu dengan berbagai alasan.

Hal inilah yang paling menyakitkan. Yang katanya keluarga sendiri, tapi malah nggak mendukung sama sekali pilihan kita. Dan, bisa juga omongan mereka berasal dari cibiran masyarakat atau para tetangga yang begitu keras.

Orangtua manapun pasti takut, anakmu bisa jadi anak tiri bagi istrimu. Anak kandung itu, ya, mereka yang berasal dari suami sebelum kamu

Sejahat ibu tiri. :((( via www.youtube.com

Satu pesan Bapak dan Ibu, jangan pernah menyia-nyiakan cucu kami, ya!

Kenyataannya, setiap orangtua dari cowok pasti merasa sedih dan gagal mendidik jagoannya, ketika pada akhirnya dia menikah dengan seorang janda dengan satu atau beberapa anak. Orangtua manapun tentu khawatir dan selalu berpikir panjang (buruk), apa yang akan terjadi pada anak dan cucunya di kemudian hari.

Yang ditakutkan mereka adalah nasib anak dan cucunya ketika udah menikah nanti. Mereka bahkan percaya, anak dan cucunya kelak akan dianggap sebagai anak tiri oleh menantunya yang notabene adalah janda dengan beberapa anak. Takutnya, di merasa bahwa anak kandung itu ya mereka yang lahir dari suami sebelumnya. Pemikiran ini bisa dibilang kejauhan sih tapi nggak bisa dipungkiri bahwa ada banyak orang tua yang kadang sering mikir gini juga pas anak cowoknya nikah sama janda.

Pada dasarnya, janda dan gadis yang belum menikah, cuma dibedakan oleh pernikahan. Masalah keperawanan, kita nggak ada yang tahu, bukan?

Apa bedanya? via huffingtonpost.com

Pada dasarnya, perbedaan mendasar antara janda dan cewek lainnya itu apa sih? Mereka cuma dibedakan oleh pengalaman mereka dalam menjalani prosesi pernikahan. Nggak lebih. Toh, zaman yang terlalu progresif sat ini juga telah banyak melahirkan cewek yang katanya perawan ternyata udah nggak bisa dibilang gadis. Lagipula, masalah keperawanan nggak bisa dicampuradukkan dengan pilihan atas sebuah pernikahan, bukan? Atau kamu masih termasuk orang lama yang terlalu mendewakan keperawanan pasanganmu sebelum menikah?

Kalau emang cinta, apa mau dikata? Kita nggak akan bisa memutuskan harus mencintai dan menikah dengan siapa, dua hal yang berbeda

Menikah itu soal perasaan, bukan status pengalaman. via shutterstock.com

Ya, kembali lagi. Menikah itu emang pilihan. Mencintai itu takdir. Kamu nggak bisa memilih untuk menikah dengan siapa aja, tapi kamu nggak akan pernah bisa memutuskan untuk jatuh cinta pada siapapun juga. Kalau kamu emang cinta dengan janda, gadis, remaja, bahkan wanita berumur, kenapa nggak? Toh, kalau itu dilandasi oleh cinta, mau dikata apa?

Sulit emang hidup di tatanan masyarakat yang terlalu mengagungkan keperawanan dan selalu mencibir pilihan orang, seperti halnya menikahi seorang janda. Lagipula, bukan mereka yang menjalani kehidupanmu, kenapa mesti mendengarkan kata mereka? Mungkin mendengarkan sebagai nasihat dari yang berpengalaman itu baik, tapi nggak selamanya mereka berhak mengatur kehidupanmu!

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!