Asap yang mengepul dan aroma yang khas jadi daya tarik tersendiri bagi para penikmat vape, rokok elektrik yang digadang-gadang bisa menggantikan posisi rokok tembakau. Penikmatnya lebih banyak berasal dari kalangan anak muda yang berkomitmen ingin berhenti merokok. Katanya vape memang bisa membantu para perokok untuk pelan-pelan meninggalkan rokok tembakau. Tapi popularitas vape semakin melejit, bukan hanya untuk membantu para perokok berhenti merokok tapi juga sebagai tren. Buktinya kini banyak bermunculan komunitas pengguna vape. Alat-alatnya juga makin banyak dijual lengkap dengan liquid atau cairan vape-nya.

Namun baru-baru ini kabar mengejutkan datang dari gadis yang mengaku telah menjadi korban bahayanya vape. Dia mengungkapkan jika apa yang dia alami dan pernyataannya seolah membantah manfaat vape yang selama ini dipercaya oleh banyak anak muda. Coba yuk kita lihat dulu kasusnya, siapa tahu bisa jadi pertimbangan lanjut untuk keputusanmu memakai vape.

1. Sebelum mendukung ataupun menolaknya, ada baiknya kamu tahu dulu vape itu apa. Rokok elektrik yang tak berbahaya dan bisa sembuhkan kecanduan?

Vape adalah salah satu electronic nicotine delivery system (ENDS), sebuah rokok elektrik yang didesain untuk membantu para pecandu rokok tembakau agar perlahan bisa berhenti merokok. Bentuk dan ukuran rokok elektrik ini bermacam-macam, namun intinya ada tiga komponen di dalamnya yaitu baterai, elemen pemanas, dan tabung yang berisi cairan (cartridge). Cairan tersebut mengandung nikotin, propilen glikol atau gliserin, serta penambah rasa entah itu buah-buahan atau cokelat. Ada vape yang baterai dan cartridge-nya bisa diisi ulang lho!

Cairan dalam tabung dipanaskan untuk menghasilkan uap seperti asap yang umumnya mengandung berbagai macam zat kimia. Si pengguna menghisap zat kimia ini langsung dari corongnya. Cara kerja vape yang seperti ini konon membuatnya jadi tidak lebih berbahaya dari rokok tembakau, bahkan efek sampingnya konon lebih kecil tanpa ada risiko penyakit jantung dan kanker. Benarkah?

2. Keuntungan menggunakan vape mulai diperdebatkan sejak unggahan Rhemanty di Path jadi viral. Apakah dia korban bukti bahayanya vape?

Advertisement
Postingan Rhemanty di Path

Postingan Rhemanty di Path via bogor.tribunnews.com

“Info buat temen” yg hobi ngevape..!!! tadi malam dada gw terasa ngilu..susah nafas, agak bengkak gataunya pengendapan kimia alias Liquid di paru” gue…. Disedot…Liquid Cholate semua isinya.. yg mau denger silakan enggak juga gaapa apa..!!! ngeri bgt padahal gw suka ngevape..(korbanVape) padhal ga gak minum tu liquid kenapa ngumpul semua.”

Dalam unggahan milik akun Rhemanty tampak seorang gadis terkulai di rumah sakit lengkap dengan bantuan oksigen di hidungnya. Caption yang ditulis akun tersebut menjelaskan bahwa si gadis mengalami keadaan seperti itu karena dia menggunakan vape. Dari nada kalimatnya, dia berharap kamu yang sekarang masih hobi nge-vape untuk mulai berhenti agar tidak mengalami nasib yang sama seperti dia.

3. Sebenarnya sebelum kasus Gadis Path itu viral, penggunaan rokok elektrik memang sudah jadi pro dan kontra di kalangan para pakar dan peneliti. Perdebatan itu masih terjadi sampai hari ini

Bahaya nge-vape masih jadi pro dan kontra

Bahaya nge-vape masih jadi pro dan kontra via dreamsmoke.com

Sebuah penelitian menyebutkan kalau vape memiliki tingkat keberhasilan sebesar 60 persen untuk membantu pecandu berhenti merokok. Ada pula anggapan bahwa vape lebih aman dari rokok tembakau karena tidak menghasilkan asap melainkan uap air. Padahal fakta lain menyebutkan uap itu bukanlah uap air, tapi mengandung nikotin dan juga zat kimia yang lain. Dampaknya tak hanya dapat mengganggu kesehatan tapi juga mencemari udara. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat bahkan dengan jelas mengungkap bahwa baik anak-anak maupun orang dewasa bisa keracunan jika menelan, menghirup, atau menyerap cairan tersebut melalui kulit atau mata.

Status keamanannya untuk pemakaian jangka panjang juga masih belum diketahui. World Health Organization (WHO) pun sebenarnya sudah memberikan saran pada produsen rokok elektrik untuk tidak mengklaim produknya sebagai alat bantu berhenti merokok.

4. Daripada menanggung risiko berbahaya, lebih baik kamu tidak menggunakannya. Toh sudah jelas keduanya sama-sama mengandung nikotin ‘kan?

Bahaya nge-vape

Bahaya nge-vape via theverge.com

Rokok elektrik mengandung nikotin yang bisa menyebabkan sel paru-paru ditembus oleh zat lain dari luar tubuh, seperti dilansir sciencenews. BPOM juga menjelaskan kalau kandungan rokok elektrik jika dipanaskan dapat menghasilkan senyawa nitrosamine yang bisa menyebabkan kanker. Beberapa penelitian bahkan mengungkapkan bahwa rokok elektrik dapat memicu inflamasi tubuh, meningkatkan risiko asma, stroke serta penyakit jantung.

Jadi kamu yang ingin berhenti merokok sebaiknya jangan termakan sugesti atau tren masa kini seperti penggunaan vape. Dua-duanya punya sisi berbahaya yang sebaiknya kamu hindari. Lebih baik kamu perbaiki gaya hidupmu agar lebih sehat lagi.

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!