Baik mengikuti politik luar negeri atau tidak, pasti kamu sudah sedikit familiar dengan maraknya pemilu presidensial AS sekarang ini. Untuk memperebutkan posisi kepala negara di tahun 2016, Hillary Clinton mewakili partai Demokrat mencalonkan dirinya melawan Donald Trump dari partai Republikan. Di Indonesia sendiri, pemilu presidensial yang satu ini juga sempat mengundang perhatian warga Indonesia. Sebagai salah satu negara terbesar dan paling berpengaruh di dunia, tentunya siapapun yang terpilih sebagai presiden AS selanjutnya akan memiliki dampak bagi Indonesia. Yang jadi permasalahan adalah, presiden mana sih yang bakal memberi dampak yang lebih baik dan mana yang justru akan memperburuk hubungan AS dan Indonesia. Hari ini Hipwee Hiburan mau menganalisa pertanyaan tersebut. Cek yuk!

Sebagai seorang pebisnis, Donald Trump memiliki hubungan positif dengan Indonesia. Tapi, sebagai politikus? Duh, meragukan

donald trump 2017 via www.japantimes.co.jp

Belum lama ini Donald Trump sempat membuka hubungan bisnis dengan Indonesia. Ia membuka cabang Hotel dan resort bintang enamnya di Bali. Dengan bekerja sama bersama MNC Group, Trump akan membangun sebuah resort di daerah Tanah Lot. Dilihat dari segi ekonomi, diharapkan hadirnya Donald Trump di Indonesia dapat memberi keuntungan yang besar. Meskipun begitu, pandangan politik Donald Trump yang sangat sensitif terhadap Islam tentunya menjadi tanda tanya besar terkait politik luar negerinya.

Dikenal sebagai seseorang yang kurang berpihak pada Islam, mungkin Donald Trump bukanlah calon presiden AS yang baik untuk negara mayoritas islam seperti Indonesia.

donald trump anti-islam via www.delhidailynews.com

Dalam berbagai kesempatan, pandangan Islamophobia Donald Trump membuktikan bahwa Donald Trump bakal jadi momok bagi Indonesia jika terpilih sebagai presiden AS. Warga Indonesia pada umumnya lebih suka terhadap partai Republikan karena pandangan partainya yang konservatif, mendahulukan family values, dan juga agama. Meskipun begitu, Donald Trump justru menunjukkan beberapa gejala bahwa hubungan AS dan Indonesia akan semakin meregang. Pada sebuah interviu, Donald Trump sempat mengutarakan bahwa Islam adalah akar dari semua permasalahan terorisme di dunia sekarang ini, dan sebagai presiden, Trump akan fokus kepada terciptanya kebijakan luar negeri baru untuk membasmi yang dianggap sebagai “terorisme.” Hmm, seram.

Belum jadi presiden aja Trump sudah mencetuskan banyak kebijakan yang mendiskriminasi kaum minoritas, apalagi nanti ketika sudah menjadi Presiden ya?

Advertisement

Donald Trump adalah perwakilan partai republikan via qz.com

Hitler bukanlah Hitler ketika dia masih menjadi prajurit biasa. Dia baru menjadi Hitler yang kita kenal sekarang setelah dia menjadi pemimpin dan diberi kekuasaan. Mungkin hal itu juga bisa terjadi pada kasus Donald Trump. Dalam kampanyenya, Donald Trump sudah sempat mencetuskan beberapa kebijakan yang mendiskriminasi kaum minoritas terutama kaum imigran latin, wanita, dan tentunya kaum muslim. Beberapa gagasan seperti pembangunan tembok di perbatasan AS-Meksiko, menghapuskan keluarga berencana, dan juga pembuatan database bagi semua orang yang beragama Islam di AS menjadi beberapa contoh yang membuktikan bahwa Donald Trump sebagai presiden AS bukanlah ide yang baik.

Indonesia siap membatasi kerjasama dengan AS apabila Donald Trump menjadi Presiden

donald trump tidak memiliki pengalaman politik via www.ranker.com

Banyak petinggi di Indonesia pun tampaknya setuju dengan pandangan negatif sebagian besar orang terhadap Donald Trump. Petinggi politik dan hukum di Indonesia tampaknya sudah siap untuk membatasi kerjasama ekonomi dengan AS jika Trump benar-benar terpilih sebagai presiden AS. Kekhawatiran pemerintahan Indonesia akan munculnya AS baru yang lebih isolasionist tampaknya bukanlah hal yang mustakhil.

Dituduh sebagai pembohong, benarkah Hillary Clinton sebagai presiden memiliki dampak yang lebih positif dari Donald Trump?

hillary clinton adalah perwakilan partai demokrat via www.youtube.com

Ya, memang Hillary sering dituduh sebagai pembohong karena beberapa kali terjerat skandal seperti kasus Benghazi dan kasus E-mail pribadinya. Meskipun secara spesifik skandalnya tidak membahayakan keamanan negara AS, skandal-skandal tersebut sering menjadi alasan utama para pemilih meragukan kemampuan Hillary sebagai Presiden AS.

Meskipun begitu, tampaknya Hillary Clinton bagaika ungkapan “better the devil you know than don’t…” pilihan yang lebih baik diantara opsi yang sama-sama buruknya. Di berbagai kesempatan, Hillary Clinton sempat mengakui pentingnya Indonesia sebagai partner kerjasama bagi US. Menurutnya, sebagai kekuatan politik dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara serta negara Islam moderat yang modern dan demokratis, Indonesia merupakan partner yang penting bagi AS.

Setidaknya kebijakan Hillary tidak diskriminatif, terutama terhadap negara-negara Islam

hillary clinton adalah istri dari mantan presiden AS, Bill Clinton via www.lebanco.net

Jika Trump adalah pilihan menarik bagi warga amerika serikat yang konservatif, cenderung rasis dan diskriminatif, Hillary yang berasal dari partai Demokrat lebih menarik bagi mereka yang open-minded dan progresif. Posisi Hillary yang lebih bersahabat kepada negara-negara muslim dan negara kecil lainnya tentunya menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia. Kerjasama antara kedua negara pun tidak perlu terhambat dengan adanya prasangka buruk dari kedua belah pihak terkait agama dan budaya.

Fokus politik luar negeri partai Demokrat jauh lebih sejalan dengan negara-negara Asia terutama Indonesia.

Hillary Clinton merupakan Menlu AS di bawah kepresidenan Barack Obama via www.politico.com

Pada dasarnya, partai Demokrat memiliki kebijakan luar negeri yang fokus terhadap kerjasama AS dengan negara-negara Asia. kebijakan luar negeri ini sering disebut Asia Pivot Strategy. Dilihat sebagai negara dengan perekonomian yang sedang berkembang, Hillary Clinton menganggap peningkatan kerjasama AS dengan negara Asia Tenggara seperti Indonesia merupakan langkah penting dalam kebijakan luar negeri AS.

Selain itu, Hillary Clinton dan partai demokrat juga memiliki pandangan yang sejalan dengan Indonesia terkait masalah perubahan iklim. Sebagai pemimpin dunia dalam forum perubahan iklim, Indonesia tentunya bisa mendapat keuntungan dengan memiliki partner seperti AS. Dan hal tersebut dapat terwujud apabila Hillary menjadi presiden AS di 2016, karena Donald Trump sendiri pernah mengutarakan bahwa perubahan iklim bukanlah isu yang penting.

Pemilu AS 2016 memang sangat menarik untuk diikuti karena siapapun yang terpilih, Indonesia akan terkena dampaknya. Ini sekedar pendapat Hipwee, kalau menurut kamu sendiri bagaimana?

Suka artikel ini? Yuk follow Hipwee di mig.me!