Bukan Indonesia namanya kalau penduduknya nggak suka ‘aneh-aneh’. Mulai dari yang rela tenar di media sosial dengan cara bugil di jalanan, bikin situs ngawur yang bisa dipakai buat lelang perawan, sampai bawa-bawa jimat saat tes CPNS! Rupanya di balik kekayaan sumber daya alamnya, beragam suku, agama, dan rasnya, Indonesia masih menyimpan segolongan orang yang tetap memegang keyakinan pada hal-hal berbau klenik. Lucu sekaligus miris sih, di saat banyak negara maju di luar sana sedang berlomba-lomba menciptakan inovasi, orang Indonesia malah lebih pilih dukun daripada dokter.

Ya, salah satu bukti nyatanya saat penyelenggaraan tes CPNS belum lama ini. Sejumlah panitia dari berbagai kota melaporkan adanya peserta yang kedapatan membawa jimat! Alih-alih percaya pada Tuhan dan kemampuan diri sendiri, mereka malah memasrahkan nasibnya pada ‘orang pintar’. Yuk, ikuti laporan selengkapnya bareng Hipwee Hiburan kali ini!

Beberapa peserta tes CPNS yang membawa jimat itu ketahuan setelah panitia melakukan pemeriksaan sebelum masuk ruangan. Motifnya, “Buat pegangan”

Pemeriksaan sebelum masuk ruang tes. via bali.tribunnews.com

Seperti tes atau ujian pada umumnya, setiap peserta diperiksa mulai dari tas hingga badannya. Untuk Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) CPNS, yang menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), pemeriksaan terdiri dari dua jenis; 1) menggunakan metal detector, dan 2) body check manual dengan meraba kantong dan bagian lain. Diah Eka Lupi, Kasubag Hubungan Media dan Antar Lembaga Badan Kepegawaian Nasional (BKN), mengatakan pemeriksaan tersebut bertujuan agar peserta nggak membawa benda lain yang nggak ada hubungannya dengan ujian. Dia juga mengaku kalau pihaknya pernah kecolongan, peserta bisa membawa masuk action cam dan earphone. Padahal peraturan cuma membolehkan peserta membawa pensil dan kertas ujian.

Mereka punya jimat dalam bentuk berbeda-beda lho. Mulai dari batu akik yang dibungkus uang, sampai biji buah yang ditusuk peniti!

Buat apa coba? via www.tribunnews.com

Advertisement

Berdasarkan keterangan dari panitia di beberapa kota di Sulawesi, Kalimantan, Yogyakarta, Palembang, dan Mataram, mereka menyita jimat yang bentuk dan rupanya beragam. Ada yang berbentuk gulungan kain motif batik, biji buah yang ditusuk peniti, batu akik yang digulung uang kertas Rp10 ribuan, benang, dan bungkusan kain hitam atau putih. Katanya benda-benda itu sudah dijampi-jampi. Humas BKN melalui akun Twitter dan Facebook-nya mengunggah foto-foto jimat tersebut. Beragam komentar warganet pun menghiasi. Kebanyakan sih justru terhibur. Lha memang nggak masuk akal. 🙁

Padahal ujung-ujungnya mereka nggak diperbolehkan membawa jimat-jimat itu masuk ke ruang tes dan harus diserahkan panitia buat disimpan sementara

Suasana tes CAT CPNS. via jogja.tribunnews.com

Para peserta yang membawa jimat, nyatanya harus menerima fakta kalau ‘pegangan’ mereka itu mesti disita panitia selama tes berlangsung. Alasannya sih karena jimat nggak ada hubungannya sama pelaksanaan tes. Mereka baru boleh mengambilnya kembali setelah tes selesai. Untungnya sih masih boleh ikut ujian. Coba kalau nggak, cuma gara-gara jimat, mimpi mereka jadi CPNS harus sirna deh…

Indonesia dan klenik bagai dua hal yang sulit dipisahkan. Salah satu alasannya justru karena banyak masyarakat yang frustasi! Kok bisa?

Dukun jadi ‘tempat mengadu’. via kirakirademikian.com

Iya, frustasi! Kalau kata Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, orang-orang yang masih percaya klenik atau ilmu hitam, kebanyakan menganggap modernisasi nggak bisa mengubah nasib mereka jadi sejahtera. Taraf ekonomi yang nggak kunjung membaik malah membuat mereka frustasi. Ujung-ujungnya mempercayakan dukun buat menyelesaikan masalah rezeki, pekerjaan, jodoh, hingga hal-hal yang berbau mencelakakan orang lain, seperti santet. Mereka itu cuma orang-orang yang menggilai cara-cara instan. Duh, jangan sampai deh kamu termasuk dalam golongan mereka!

Buat peserta tes CPNS yang membawa jimat, kita doakan saja deh, semoga kalau nanti mereka lolos, mereka sadar bahwa itu bukan karena jimat, tapi karena usaha, doa, dan dukungan orang tua! Setuju nggak?

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya