Mungkin warga negara asing yang datang ke Indonesia tujuannya hanya berlibur dan melepaskan penat sejenak sambil menikmati keindahan alam Indonesia. Nggak cuma sekali, kadang mereka nggak segan untuk datang lagi dan lagi demi melihat keindahan alam bumi pertiwi. Ya, hampir sebagian besar tujuan mereka memang hanya untuk berwisata. Namun tidak dengan beberapa warga negara asing ini. Mereka datang ke Indonesia, jatuh cinta, lalu ingin menghabiskan hidupnya di sini. Nggak untuk bersantai-santai, tapi untuk mengabdikan hidup mereka demi Indonesia lebih baik. Mereka adalah contoh yang patut kamu tiru karena kontribusinya yang nggak main-main terhadap ibu pertiwimu.

1. Warga Swiss ini tak segan mengeluarkan biaya sendiri demi membangun puluhan jembatan di daerah terpencil Indonesia

Toni Ruttiman via aws-dist.brta.in

Toni Ruttiman adalah salah seorang relawan asal Swiss yang sudah tiga tahun berkontribusi dalam pembangunan daerah terpencil di Indonesia. Tanpa terendus media, pria ini sudah membangun puluhan jembatan di beberapa daerah pedalaman Indonesia, seperti Banten, Jabar, Jateng, Jatim, Sulawesi, hingga NTT. Salutnya lagi, Toni datang ke Indonesia memang dengan tujuan untuk melakukan perbaikan akses jalan dan penyeberangan di Indonesia. Ia tergugah setelah melihat banyak anak sekolah yang harus bergelantungan melewati sungai karena nggak ada jembatan yang layak. Bahan-bahan pembangunan jembatan pun langsung dikirim dari Swiss dan Argentina. Meski beberapa saat lalu pengiriman bantuan ini terhambat karena masalah birokrasi, tapi sekarang udah diselesaikan dan kembali berjalan lancar. Wah, senangnya!

2. Pria asal Perancis ini juga berkontribusi terhadap Indonesia dengan cara menggali sumur di daerah Sumba

Andre Graff via latitudes.nu

Meski telah hidup mapan di daerah asalnya, Andre Graff lebih memilih untuk meninggalkan hidupnya yang serba berkecukupan itu. Profesinya sebagai pilot balon udara pun ia tinggalkan demi hidup di Sumba Barat. Hal ini ia lakukan setelah berhasil mengalahkan penyakit mematikan yang menyerang dirinya. Ia kemudian berniat untuk mengabdikan hidupnya demi kebaikan bagi banyak orang. Berawal dari wisata, pada tahun 2005 hatinya tergerak untuk melakukan perubahan di Sumba Barat. Setelah tahu daerah ini kesulitan air, Andre pun mulai belajar mencari air tanah, menggali sumur, dan membuat gorong-gorong. Bahkan ia pun menciptakan filtrasi air agar bisa langsung dikonsumsi tanpa dimasak terlebih dahulu. Benar-benar membantu masyarakat deh pokoknya.

3. Warga Selandia Baru ini dikenal sebagai bule gila pemungut sampah di Senggigi, Lombok

Advertisement

Husin Abdullah via chillinaris.blogspot.co.id

Gavin Erdward Birch atau yang lebih dikenal dengan nama Husin Abdullah berkontribusi demi Indonesia yang lebih baik sejak tahun 1984. Ia disebut sebagai “bule gila” karena kerjaannya sehari-hari di Lombok adalah memungut sampah dari Batu Layar hingga pantai Senggigi. Hal itu ia lakukan karena ia sadar bahwa Lombok adalah alam yang indah tapi sayang tertutup oleh sampah yang menyedihkan. Sampah yang berhasil ia kumpulkan pun kemudian diolah menjadi pupuk dan sebagian dibuang ke TPS. Nggak cuma itu, Husin juga membangun toilet untuk para warga. Meski kini sang bule gila ini sudah tiada, tapi kontribusinya masih ada dan terus berjalan. Salut!

4. Bule penjaga Alam Halmahera yang keberadaannya patut kamu puji dan layak kamu jadikan teladan

Rob Sinke via www.wedaresort.com

Pria asal Belanda yang telah berganti menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) ini bernama Rob Sinke. Namanya mungkin sudah populer di telinga masyarakat Halmahera berkat kontribusinya terhadap lingkungan di sana. Berawal dari kecintaannya terhadap alam Halmahera, ia mendapati bahwa banyak hutan yang menjadi korban pembalakan. Akhirnya ia pun turun tangan dan berkontribusi langsung untuk melestarikan kembali alam Halmahera dengan berbagai program. Nggak cuma itu, Rob juga membuka PAUD tempat anak-anak belajar membaca dan menulis. Keren ya!

5. Mendirikan Yayasan Bumi Sehat, ratusan nyawa pun terselamatkan berkat bule yang satu ini

Robin Lim, warga asal Amerika Serikat ini juga turut berkontribusi terhadap Indonesia sejak 1994 lalu. Lebih dikenal dengan panggilan Ibu Robin, wanita ini udah mendirikan sebuah yayasan kesehatan bernama Yayasan Bumi Sehat di Bali. Yayasan ini didirikan untuk perawatan kehamilan hingga melahirkan. Dan lebih salutnya lagi, yayasan ini gratis alias tak dipungut biaya. Berkat Ibu Robin, ratusan nyawa pun telah terselamatkan, terutama bagi mereka yang nggak mampu. Nggak cuma untuk warga yang nggak mampu, tapi yayasan ini terbuka bagi siapa saja. Bahkan, beberapa saat lalu, Ayudia Bing Slamet juga melahirkan lewat tangan wanita yang dianugerahi Mother Hero of the Mothers ini.

6. Melihat keinginan masyarakat yang besar untuk belajar, pemuda Spanyol ini memutuskan untuk pindah dan hidup di Sumbawa

Carlos Ferrandiz via www.uraikan.com

Berawal dari liburannya ke pantai Lakey, Sumbawa, seorang bule bernama Carlos Ferrandiz bertemu seorang anak yang nggak bisa berbahasa Inggris. Dia pun berjanji besoknya akan mengajarkan si anak . Dan ternyata, pada keesokan harinya nggak cuma si anak yang datang, tapi ada sekitar 150 orang warga desa Hu’u juga. Besarnya keinginan belajar mereka inilah yang mengetuk hati pria asal Spanyol ini untuk meninggalkan karirnya sebagai pengacara di Spanyol dan mengabdikan diri kepada Indonesia. Dia lalu memulai kelas bahasa Inggris, hingga berkembang ke beberapa pelajaran lainnya. Dan sejak 2011, ia memutuskan untuk hidup dan tinggal di Sumbawa sampai melahirkan sebuah proyek bernama Harapan Project. Proyek ini bertujuan untuk membantu dan meningkatkan kehidupan rakyat Sumbawa khususnya, meliputi pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Wah, luar biasa ya.

7. Demi kelestarian Owa-Owa, pria asal Perancis ini berjuang agar bisa menjadi warga negara Indonesia

Aurelien Francis Brule via solo.tribunnews.com

Mungkin nama ini juga termasuk yang nggak populer di kalangan umum Indonesia. Aurelien Francis Brule, atau yang lebih dikenal dengan nama Chanee sejak tahun 1998 ini memantapkan hati untuk tinggal dan hidup selamanya di Indonesia. Hal ini dilakukannya demi melestarikan Owa-Owa, salah satu primata yang hidup di hutan Kalimantan yang semakin hari semakin terancam kehidupannya akibat pembalakan liar dan pembukaan hutan untuk lahan sawit. Nggak tanggung-tanggung, ia pun mengurus kepindahan kewarganegaraannya agar bisa mengabdikan hidupnya untuk mempelajari dan melestarikan Owa-Owa. Akhirnya, setelah bertahun-tahun berjuang, Chanee pun resmi menjadi WNI dan hingga saat ini terus memperjuangkan kehidupan yang layak bagi Owa-Owa.

Mereka yang bukan orang Indonesia bisa sebegitu cintanya dengan Ibu Pertiwi. Masa kita yang udah lahir dan tumbuh di sini nggak bisa berkontribusi untuk negeri? Yuk guys mulai bergerak untuk Indonesia yang lebih baik. Kalau nggak mampu mengubahnya, minimal kamu harus menjaga apa yang sudah Tuhan anugerahkan ini ya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya